Selasa, 14 Oktober 2008
PENDIDIKAN: UPAYA MEMBENTUK BUDAYA BANGSA
Mengapa bangsa Indonesia yang selama ini dikenal sebagai bangsa yang religius, ramah, cinta damai, dan santun, tiba-tiba bermetamorfosis menjadi bangsa yang menjunjung tinggi budaya kekerasan? Padahal, pendidikan di Indonesia baik formal, non formal maupun informal merupakan proses yang dengan sengaja dilakukan untuk tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian yang mantap, mandiri serta bertanggungjawab, sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang RI No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Menurut hemat penulis, ada beberapa cara yang dapat dilakukan guna mengembalikan budaya bangsa yang santun, cinta damai, ramah, dan religius. Pertama, melalui kurikulum terpadu (integrated curriculum). Menurut Cohen dan Manion (1992), kurikulum terpadu adalah kegiatan menata keterpaduan berbagai materi mata pelajaran melalui suatu tema lintas bidang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna sehingga batas antara berbagai bidang studi tidaklah ketat atau boleh dikatakan tidak ada. Oleh karena itu, seyogyanya kurikulum terpadu ini perlu dirumuskan melalui pendekatan yang komprehensif, sehingga mampu menjelaskan realitas keagamaan yang sebenarnya. Hal tersebut sebagai landasan pengembangan, cara dan proses pengembangan dalam pencapaian tujuan pendidikan. Karena hakikat dari pendidikan adalah perubahan, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dan setelah mengetahui kemudian mengamalkannya.
Kedua, melalui internalisasi nilai-nilai keagamaan. Penyadaran merupakan inti proses pembelajaran dengan aktif bertindak dan berpikir sebagai pelaku, dengan langsung dalam permasalahan yang nyata, dan dalam suasana yang dialogis, sehingga mampu menumbuhkan kesadaran kritis terhadap realitas, maka siswa mulai masuk ke dalam proses pengertian dan bukan proses menghafal semata-mata. Seperti halnya pendekatan pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan, pembiasaan untuk senantiasa mengamalkan ajaran agama, menggugah perasaan dan spiritual peserta didik dalam meyakini, memahami dan menghayati ajaran agama, memberikan peranan kepada akal dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agama, serta menyajikan ajaran agama dengan menekankan kepada segi kemanfaatannya bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik. Hal ini akan mewujudkan keshalihan sosial, dan keshalihan individual peserta didik dan merubah perilaku yang hanya menjadi simbol-simbol keagamaan ke nilai substantif yang diwujudkan dalam kehidupan obyektif empiris sehari-hari.
Ketiga, melalui keteladanan. Keteladanan merupakan sarana efektif untuk menuju keberhasilan pendidikan. Pendidik adalah prototipe dalam pandangan siswa. Oleh sebab itu, teladan yang baik dalam pandangan siswa pasti akan diikutinya dengan perilaku dan akhlak yang baik pula. Keteladanan itu akan terpatri dalam jiwanya. Oleh karena itu, orang-orang terdahulu begitu serius dalam memilih pendidik yang terbaik untuk anak mereka. Umar bin Utbah menulis surat kepada pendidik anaknya, ”Hendaklah yang pertama kau lakukan dalam menshalihkan anakku adalah menshalihkan dirimu sendiri sebab pandangan mereka sangat ditentukan oleh pandanganmu. Yang disebut baik oleh mereka adalah apa yang kau lakukan dan yang disebut buruk oleh mereka adalah apa yang kau tinggalkan.” Dalam peribahasa dikatakan, guru kencing berdiri, maka siswa kencing berlari.
Dan keempat, pembentukan lingkungan sekolah yang kondusif sebagai laboratorium pengamalan nilai-nilai agama. Oleh karena itu sekolah harus mengusahakan terciptanya situasi yang tepat sehingga memungkinkan terjadinya proses pengalaman belajar (learning experiences) pada diri siswa, dengan mengerahkan segala sumber (resources) dan menggunakan strategi pembelajaran (teaching-learning strategy) yang tepat (appropriate). Seperti sekolah plus pesantren atau sekolah Islam terpadu. Sedangkan bagi sekolah yang siswanya pulang pergi, maka keluarga harus mampu menciptakan suasana rumah yang mendukung pada pembelajaran di sekolah.
INTERNALISASI NILAI-NILAI AGAMA MELALUI PEMBELAJARAN
Pembangunan nasional dalam bidang pendidikan dimaksudkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradab.
Sebagai bangsa yang beragama, kita sebenarnya memiliki akar yang sangat kuat dalam hal moralitas dan etika. Bahkan, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 secara khusus menekankan pentingnya pendidikan bagi peningkatan keimanan dan akhlak. Pasal 31 ayat (3) menyebutkan ”Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia ...”.
Meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia merupakan ranah Pendidikan Agama dan Keagamaan yang seyogyanya dirumuskan melalui pendekatan yang komprehensif, sehingga mampu menjelaskan realitas keagamaan yang sebenarnya. Hal tersebut sebagai landasan pengembangan cara, proses pengembangan dan pencapaian tujuan pendidikan.
Kegiatan pembelajaran merupakan fungsi pokok dan usaha yang paling strategis guna mewujudkan tujuan institusional. Tujuan setelah proses pembelajaran adalah sistem nilai yang harus tampak dalam perilaku dan merupakan karakteristik kepribadian siswa. Pembelajaran sebagai sebuah metode menghendaki adanya perekayasaan situasi terencana yang memberikan perlakuan tertentu, untuk mengetahui akibat-akibatnya terhadap peserta didik. Menggunakan metode secara terencana, sistematik, dan terkontrol baik dalam bentuk desain fungsional maupun faktoral melalui pengenalan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan melalui bentuk penggambaran konsep-konsep yang bersifat penghayatan dan pengamalan.
Pembelajaran dan internalisasi nilai-nilai agama di lingungan lembaga pendidikan menghadapi berbagai persoalan mendasar, di antaranya terkait dengan relevansi materi pembelajaran, strategi pembelajaran, dan keterbatasan bahan bacaan yang dapat mendukung perkembangan keagamaan peserta didik.
Sejauh ini penanaman nilai-nilai keagamaan di sekolah masih menitikberatkan kepada domain kognisi yang cenderung menampilkan agama sebagai seperangkat rumusan kepercayaan dan ajaran yang cenderung indoktrinatif-normatif. Akibatnya bahan-bahan bacaan untuk mendukung domain tersebut terbatas pada buku-buku teks. Padahal upaya penanaman nilai-nilai keagamaan tidak sekedar menyangkut dimensi kepercayaan, tetapi lebih dari itu adalah dimensi pembudayaan. Dalam hal ini dibutuhkan agama dalam bentuknya yang efektif dan praktis. Artinya, agama mesti ditampilkan dalam performan historik, kontekstual dan aktual yang disajikan melalui pengalaman dan kisah hidup yang mengekspresikan perilaku keagamaan dan menjawab berbagai problem keseharian dalam suatu dimensi ruang, waktu dan konteks tertentu melalui pola pembelajaran yang diarahkan pada upaya menciptakan model pembelajaran bagi peserta didik dan mampu memberi warna baru bagi pembelajaran nilai keagamaan.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menginternalisasikan nilai-nilai agama kepada peserta didik. Pertama, melalui pembelajaran terpadu. Yaitu guru harus mampu memadukan atau mengaitkan mata pelajaran yang diajarkan dengan nilai-nilai agama. Misalnya, guru matematika menjelaskan perhitungan dengan contoh-contoh perhitungan zakat harta atau perhitungan warisan. Guru bahasa dan sastra harus berusaha agar tema-tema yang diajarkan, baik pada bagian mengarang, cerita, maupun puisi mengandung ide-ide Islami. Guru ilmu komputer, ketika menjelaskan kepada siswa cara pembuatan program, guru bisa menjelaskan kepada siswa cara pembuatan program perhitungan sistem perbankan Islam, pendataan jamaah haji dan umrah, serta jumlah penduduk di negeri Islam. Melalui pembelajaran terpadu ini secara tidak langsung pada saat siswa belajar mata pelajaran umum maka ia juga belajar nilai-nilai agama.
Kedua, membangun budaya lingkungan yang religius. Misalnya, ketika masuk kelas, guru hendaknya menunjukkan wajah yang cerah kepada para siswanya. Kemudian mengucapkan salam. Begitu pula jika bertemu di luar kelas, hendaknya mengucapkan salam dan berjabat tangan. Guru memulai pembicaraan dengan mengucapkan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi SAW. Jika hendak menjelaskan pelajaran di atas papan tulis, buatlah tulisan basmalah terlebih dahulu, agar kalimat itulah yang pertama kali dilihat oleh para siswa. Dengan demikian, para siswa tahu bahwa setiap akan memulai aktivitas harus dimulai dengan membaca basmalah. Dan setelah selesai pelajaran guru hendaknya menutup dengan do’a, kemudian mengakhiri pertemuan dengan mengucapkan salam.
Dan ketiga, mendoakan peserta didik. Kadang guru sering lupa, sebagai manusia, kita hanya mampu berusaha. Selebihnya, keputusan akhir tentang hasil usaha seseorang tetap bergantung kepada Allah SWT. Sikap terlalu yakin dengan kemampuan diri hingga mengabaikan peran Allah SWT akan membuatnya kehilangan kekuatan jiwa. Ilmu yang dimiliki hanya bisa digunakan sebagai pedoman, sementara itu, berhasil-tidaknya proses pendidikan tetap harus diserahkan kepada Allah SWT. Doa-doa yang selalu dipanjatkan bakal turut menentukan keberhasilan lebih lanjut. Intinya, seseorang harus senantiasa melibatkan Allah SWT dalam mendidik. Sebab Sang Pencipta, Allah-lah yang Maha Mengetahui seluk beluk ciptaan-Nya.
Melalui pembelajaran yang terpadu ini diharapkan terjadi proses internalisasi nilai-nilai agama pada diri peserta didik. Sehingga ia tidak hanya giat dalam menjalankan ibadah ritual, tetapi ia pula komitmen melakukan aktivitas-aktivitas yang terbingkai dengan nilai-nilai agama. Semoga. Wallahu a’lam.
Jumat, 05 September 2008
Ramadhan Bulan Pendidikan
Puasa di bulan Ramadhan bisa diibaratkan sekolah khusus yang ajaran barunya selalu dibuka setiap tahun dengan tujuan pendidikan praktis dalam menyerap nilai-nilai yang paling tinggi. Barangsiapa memasukinya untuk mendapatkan karunia Ilahi, kemudian ia berpuasa sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan, lalu ia dapat melakukan ibadah tambahan sesuai yang telah disyariatkan, maka ia akan lulus dengan menyandang gelar muttaqin. Dengan gelar muttaqin orang akan mendapatkan jaminan ampunan dari Allah SWT dan terbebas dari api neraka.
Rasulullah SAW menegaskan, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT, niscaya Allah mengampuni dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa melakukan amal ibadah tambahan (sunah) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT, maka ia akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari Muslim).
DR. Raghib As-Sirjani dalam kitabnya ‘Ramadhan wa Bina’ul Ummah’ mengatakan, ada beberapa sisi pendidikan dalam puasa Ramadhan. Pertama, Ramadhan mendidik kaum muslimin untuk memenuhi perintah-perintah Allah SWT secara totalitas. Karenanya, tidak pantas seorang muslim jika selesai Ramadhan ketika mendengar salah satu hukum Allah SWT, atau mengetahui salah satu hukum Rasulullah SAW, ia memperdebatkannya.
Allah SWT mencintai hamba-hambaNya yang tunduk kepada-Nya tanpa membantah dan menaati-Nya tanpa ada keraguan. Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya, ”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36).
Kedua, Ramadhan mendidik kaum muslimin agar menundukkan syahwatnya. Ketika Ramadhan kaum muslimin dilarang melakukan hal-hal yang pada hakikatnya halal bila dilakukan pada siang hari di selain Ramadhan. Seperti makan, minum, dan berhubungan suami-istri. Karenanya, seseorang yang telah mendapatkan pendidikan Ramadhan, maka ia akan lebih mampu untuk menahan diri dari makanan dan minuman yang tidak jelas asal-usulnya, serta mampu untuk menjaga diri dari pergaulan lawan jenis yang diharamkan. Puasa, pada hakikatnya adalah memutus dominasi syahwat. Syahwat bisa kuat dengan makan dan minum, dan setan selalu datang melalui pintu-pintu syahwat. Maka dengan berpuasa syahwat dapat dipersempit geraknya.
Rasulullah SAW bersabda, ”Wahai para pemuda barangsiapa yang mampu untuk menikah maka menikahlah, sesungguhnya nikah itu bisa menahan pandangan dan menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu sesungguhnya bisa mengendalikan syahwat.”
Ketiga, Ramadhan mendidik kaum muslimin agar mengendalikan sifat terburu nafsu serta memiliki kesanggupan untuk menahan amarah. Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman, ”Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Karena, sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Maka, apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, bersuara tidak pantas, dan tidak mau tahu. Lantas jika ada seseorang yang menghinanya atau memeranginya (mengajaknya berkelahi), maka hendaklah ia mengatakan, ’Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari Muslim).
Keempat, Ramadhan mendidik kaum muslimin untuk senang berinfak. Ramadhan mampu membentuk jiwa orang yang berpuasa menjadi dermawan dengan memberikan kebaikan kepada orang lain. Rasulullah SAW bersabda, ”Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan, yaitu ketika Jibril menemuinya. Jibril selalu menemuinya setiap malam bulan Ramadhan, lalu memantau bacaan Al-Qur’an beliau. Pada saat ditemui Jibril, Rasulullah lebih dermawan dengan penuh kebaikan (lebih cepat) daripada angin yang ditiupkan.” (HR. Bukhari Muslim).
. Kelima, Ramadhan mendidik kaum muslimin agar memiliki rasa persatuan, persaudaraan, dan kasih sayang. Segenap kaum muslimin di seluruh penjuru dunia akan berpuasa pada hari yang sama dan berbuka pada hari yang sama pula. Mereka akan mulai berpuasa pada saat yang sama, ketika fajar, dan berbuka di saat yang sama pula, yaitu ketika maghrib. Ramadhan tidak membedakan antara yang kaya dan miskin, penguasa dan rakyat biasa. Sungguh luar biasa, ada jiwa kebersamaan yang memasuki hati kaum muslimin pada bulan Ramadhan.
Keenam, Ramadhan mendidik kaum muslimin merasakan penderitaan dan kesulitan orang lain. Kaum muslimin merasakan penderitaan lapar dan dahaga untuk waktu tertentu pada siang Ramadhan. Ia merasa lapar dan menderita seperti yang sering dirasakan fakir miskin atau seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim, ”Puasa dapat mengingatkan bagaimana rasanya perut keroncongan dan dahaga yang membakar dan sering dirasakan para fakir miskin”. Sehingga, di saat ia melihat orang lain serba kekurangan, maka tersentuhlah hatinya untuk berbagi kepada mereka.
Dan, ketujuh, Ramadhan mendidik ketakwaan dalam hati kaum muslimin. Sebab, tujuan yang ingin dicapai dari ibadah puasa adalah untuk membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa, yakni pribadi yang mampu menghadirkan Allah SWT dalam setiap aktivitas dan perilakunya. Dengan kehadiran Allah SWT dalam setiap aktivitas dan perilakunya, maka orang tersebut akan senantiasa terbimbing dari perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya.
Setelah sebulan penuh dididik Ramadhan, ilmu pun didapat, maka langkah selanjutnya adalah mengamalkannya di sebelas bulan berikutnya. Islam menginginkan orang yang berilmu mengamalkan ilmunya demi kebaikan diri dan orang lain. Ilmu pada seseorang ibarat sebatang pohon dan amal sebagai buahnya. Perintah belajar dan menuntut ilmu bertujuan meningkatkan kuantitas dan kualitas amal muslim. Dengan amal itu pula, muslim memperoleh kebahagiaan di dunia dan selamat di akhirat.
Karenanya, hakikat dari belajar atau menuntut ilmu adalah perubahan, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dan setelah mengetahui kemudian mengamalkannya. Sedangkan manusia yang tidak mampu lagi berubah (setelah belajar/menuntut ilmu) sejatinya ia telah mati. Oleh karena itu, jadilah manusia pembelajar, karena dengan belajar berarti akan ada perubahan, perubahan adalah keniscayaan, karena orang yang cerdas (sang pembelajar) adalah orang yang jeli untuk mengetahui dan mengakui kelemahan dirinya. Dari kesadaran tersebut, ia perbaiki dirinya agar selanjutnya ia dapat melakukan yang terbaik dalam hidup ini.
Sungguh, puasa mampu membentuk manusia baru, Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa berpuasa dengan niat mencari pahala dari Allah SWT, maka ia keluar dari bulan Ramadhan sebagaimana bayi baru lahir. Wallahu a’lam.
Jumat, 29 Agustus 2008
Puasa Membentuk Pribadi Takwa
Secara etimologi puasa berarti menahan atau menahan sesuatu dan meninggalkan. Dikatakan, kuda berpuasa ketika tidak mau berjalan, dan angin berpuasa ketika tidak mau bertiup atau berhembus. Dalam syair dikatakan, ”Kuda berpuasa (tidak mau berjalan) dan kuda yang lain tidak berpuasa, tidak menahan (mau berjalan)”.
Sedangkan secara terminologi syari’ah, puasa adalah seorang mukallaf menahan diri dengan niat mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, menahan dari makan dan minum, berhubungan suami-istri, dan muntah-muntah; atau menahan diri dari makanan, minuman dan berhubungan seksual, disertai dengan niat mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari dan sempurnanya dengan menjauhi yang haram dan tidak terjerumus dalam hal-hal yang haram; atau menahan segala sesuatu yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.
Ibadah puasa termasuk ibadah yang paling utama. Salah satu keutamaannya adalah ibadah puasa telah diwajibkan Allah SWT kepada semua umat manusia sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2] : 183).
Dari ayat di atas, Allah SWT menyatakan bahwa tujuan yang ingin dicapai dari ibadah puasa adalah untuk membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa, yakni pribadi yang mampu menghadirkan Allah SWT dalam setiap aktivitas dan perilakunya. Dengan kehadiran Allah SWT dalam setiap aktivitas dan perilakunya, maka orang tersebut akan senantiasa terbimbing dari perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya.
Ada beberapa karakteristik yang menonjol pada pribadi yang bertakwa. Pertama, orang yang bertakwa akan senantiasa menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit. Kedua, mampu menahan amarah disaat ada kesempatan untuk marah. Ketiga, mudah mema'afkan kesalahan orang lain. Dan keempat, apabila terlanjur mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, ia bersegera memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukannya.
Karenanya, Allah SWT menjanjikan dua balasan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu: pertama, ampunan atas dosa yang telah dilakukan. Dan kedua, surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai yang sungguh menakjubkan.
Allah SWT befirman, ”Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran [3] : 134-136).
Mari optimalkan bulan Ramadhan tahun ini dengan amal kebaikan agar kita bisa meraih gelar muttaqin. Jadikan Ramadhan tahun ini seakan-akan Ramadhan yang terakhir dalam hidup kita, sehingga kita bertekad untuk menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Wallahu a’lam.
Keistimewaan Bulan Ramadhan
Beberapa keistimewaan bulan Ramadhan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan selainnya. Pertama, pandangan Allah SWT pada malam pertama bulan Ramadhan. Allah SWT memberikan pandangan, rahmat, dan inayah kepada kaum muslimin. Orang yang mendapatkan pandangan (nadharah) Allah SWT niscaya tidak akan disiksa selamanya. Artinya, ada jaminan bahwa mendapatkan pandangan Allah SWT akan mengantarkan seseorang untuk meraih husnul khotimah (kesudahan hidup yang baik).
Kedua, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah SWT daripada harumnya minyak kasturi. Ketiga, para malaikat senantiasa memohonkan ampunan kepada Allah SWT, siang dan malam, untuk kaum muslimin yang sedang menjalankan ibadah puasa. Keempat, Allah SWT memerintahkan kepada surga agar berhias untuk menyambut orang-orang yang berpuasa. Dan kelima, Allah SWT memberikan ampunan atas dosa orang-orang yang berpuasa pada malam terakhir bulan Ramadhan.
Rasulullah SAW bersabda, ”Pada malam Ramadhan umatku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelumnya. Pertama, bila datang awal malam Ramadhan Allah SWT melihat orang-orang yang berpuasa. Barangsiapa dilihat oleh Allah dia tidak akan mendapatkan adzab selamanya. Kedua, bau mulut orang yang berpuasa di sore hari lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kasturi. Ketiga, para malaikat memohonkan ampunan untuk orang-orang yang berpuasa siang dan malam. Keempat, Allah SWT telah menyuruh surga. Dia berfirman kepada surga-Nya itu, ”Bersiap-siaplah dan berhiaslah untuk hamba-hamba-Ku, sudah dekat waktunya mereka (hamba-hamba-Ku) itu beristirahat dari kesusahan dunia menuju rumah dan rahmat-Ku. Kelima, bila telah tiba akhir malam Ramadhan, Allah mengampuni dosa mereka semua. Seorang sahabat bertanya, apakah itu yang dimaksud dengan lailatul qadar? Jawab beliau, ”lain”! Tidakkah kamu melihat para pegawai, bukankah jika telah rampung pekerjaannya, mereka disempurnakan gajinya?” (HR. Baihaki).
Oleh sebab itu, mari optimalkan bulan Ramadhan tahun ini dengan amal shaleh agar kita bisa meraih gelar muttaqin. Suatu gelar yang diperuntukkan bagi orang-orang yang berpuasa sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT, ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2] : 183).
Dengan gelar muttaqin orang akan mendapatkan jaminan ampunan dari Allah SWT. Rasulullah SAW menegaskan, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT, niscaya Allah mengampuni dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa melakukan amal ibadah tambahan (sunah) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT, maka ia akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari Muslim). Wallahu a’lam.
Minggu, 24 Agustus 2008
Menyambut Ramadhan
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 183).
Ayat di atas mengingatkan kembali akan kewajiban puasa di bulan Ramadhan, yang beberapa hari lagi menyambangi kita. Seharusnya-lah kita bergembira dan bersuka-cita menyambut datangnya bulan Ramadhan. Oleh sebab itu, tanamkan tekad dalam hati untuk mengisinya dengan kebaikan, serta meninggalkan berbagai kejahatan.
Mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan termasuk pengagungan terhadap syiar-syiar Allah SWT sebagaimana firman-Nya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32).
Kenapa kita harus menyambut Ramadhan dengan penuh suka cita? Pertama, karena Ramadhan merupakan bulan dilipatgandakan pahala. Rasulullah SAW bersabda, ”Semua amalan anak Adam akan dilipatgandakan (balasannya): satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat.” Allah berfirman, ”Kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku, dan Aku yang langsung membalasnya. Hamba-Ku telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.” (HR. Muslim).
Kedua, Allah SWT telah menyiapkan surga Ar-Rayyan bagi yang berpuasa. Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang disebut dengan Ar-Rayyan, yang pada hari kiamat nanti hanya akan dimasuki oleh orang-orang yang terbiasa berpuasa. Tidak satupun selain mereka yang memasukinya. Jika mereka (orang-orang yang terbiasa berpuasa) telah masukinya, pintu itu akan ditutup. Sedangkan siapa saja yang telah masuk melaluinya, ia pasti minum. Barangsiapa yang minum ia pasti tidak akan merasakan haus untuk selamanya.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i dan Tirmidzi).
Ketiga, pada bulan Ramadhan pintu surga dibuka lebar-lebar, pintu neraka ditutup rapat-rapat, dan setan-setan dibelenggu, sehingga orang yang berpuasa akan leluasa untuk berburu kebaikan di dalamnya. Rasulullah SAW bersabda, ”Telah tiba kepada kalian bulan penuh berkah. Allah mewajibkan kalian berpuasa di bulan ini. Dan pada bulan itu pula pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka akan ditutup, dan setan-setan akan dibelenggu. Pada bulan tersebut ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendapatkan kebaikannya, maka sungguh ia telah dihalangi (benar-benar tidak akan mendapatkannya).” (HR. Nasa’i).
Keempat, doa orang yang sedang berpuasa akan mudah dikabulkan. Rasulullah SAW bersabda, ”Tiga macam doa yang pasti dikabulkan: doa orang yang berpuasa, doa orang yang didzalimi, dan doa orang yang musafir.” Kelima, Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa orang yang berpuasa. Rasulullah SAW menegaskan, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT, niscaya Allah mengampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari Muslim).
Dan keenam, pada bulan Ramadhan terdapat malam lailatul qadar, yaitu suatu malam yang nilainya lebih baik dari pada seribu bulan. Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam laitul qadar. Dan tahukah kamu apakah malam lailatul qadar itu? Malam laitul qadar itu lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadar: 1-3).
Oleh sebab itu, mari optimalkan bulan Ramadhan tahun ini dengan amal saleh agar kita bisa meraih gelar muttaqin. Dengan gelar muttaqin orang akan mendapatkan jaminan ampunan dari Allah SWT dan terbebas dari api neraka. Jadikan Ramadhan kali ini seakan-akan Ramadhan yang terakhir dalam hidup kita, sehingga kita bertekad untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Wallahu a’lam.
Puasa Membentuk Manusia Baru
Puasa tidak hanya diwajibkan atas umat Nabi Muhammad SAW, tapi diwajibkan pula atas umat-umat sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa puasa merupakan sarana efektif untuk membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa, yakni pribadi yang mampu menghadirkan Allah SWT dalam setiap aktivitas dan perilakunya.
Puasa di bulan ramadhan bisa diibaratkan sekolah khusus yang ajaran barunya selalu dibuka setiap tahun dengan tujuan pendidikan praktis dalam menyerap nilai-nilai yang paling tinggi. Barangsiapa memasukinya untuk mendapatkan karunia Ilahi, kemudian ia berpuasa sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan, lalu ia dapat melakukan ibadah tambahan sesuai yang telah disyariatkan, maka ia akan lulus dengan menyandang gelar muttaqin. Dengan gelar muttaqin orang akan mendapatkan jaminan ampunan dari Allah SWT dan terbebas dari api neraka.
Rasulullah SAW menegaskan, “Barangsiapa berpuasa ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT, niscaya Allah mengampuni dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa melakukan amal ibadah tambahan (sunah) di bulan ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT, maka ia akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari Muslim).
Syaikh Ahmad Musthofa Al-Maraghi dalam tafsinya mengatakan, ada beberapa sisi puasa yang dapat mengantarkan manusia untuk meraih gelar muttaqin. Pertama, puasa membiasakan seseorang takut kepada Allah SWT, karena orang yang sedang dalam melaksanakan puasa tidak ada yang mengontrol dan melihat kecuali Allah SWT.
Kedua, puasa mampu menghancurkan tajamnya syahwat dan mengendalikan nafsu sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ”Wahai para pemuda barangsiapa yang mampu untuk menikah maka menikahlah, sesungguhnya nikah itu bisa menahan pandangan dan menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu sesungguhnya bisa mengendalikan syahwat.”
Ketiga, puasa membiasakan seseorang untuk berkasih sayang dengan yang lain. Membiasakan untuk selalu berkurban dan bersedekah. Di saat ia melihat orang lain serba kekurangan, maka tersentuhlah hatinya untuk berbagi kepadanya. Ia merasa lapar dan menderita seperti yang sering dirasakan fakir miskin atau seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim, ”Puasa dapat mengingatkan bagaimana rasanya perut keroncongan dan dahaga yang membakar dan sering dirasakan para fakir miskin.”
Keempat, puasa membiasakan keteraturan dalam hidup, yaitu orang yang berpuasa akan berbuka pada waktu yang sama, dan tidak ada yang lebih dulu karena kehormatan, atau jabatan, misalnya.
Kelima, adanya persamaan antara yang miskin dan kaya, antara penguasa dan biasa, tidak ada perbedaan dalam melaksanakan kewajiban agama. Berikutnya, keenam, puasa dapat menghancurkan sisa-sisa makanan yang mengendap dalam tubuh, utamanya pada orang yang mempunyai kebiasaan makan dan sedikit kegiatan.
Ketujuh, puasa dapat membersihkan jiwa, karena puasa pada hakikatnya adalah memutus dominasi syahwat. Syahwat bisa kuat dengan makan dan minum, dan setan selalu datang melalui pintu-pintu syahwat. Maka dengan berpuasa syahwat dapat dipersempit geraknya. Terakhir, kedelapan, puasa membentuk manusia baru, Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa berpuasa dengan niat mencari pahala dari Allah SWT, maka ia keluar dari bulan ramadhan sebagaimana bayi baru lahir.” Wallahu a’lam.