Senin, 12 Juli 2010

BERHENTI MEMFITNAH

Oleh Imam Nur Suharno MPdI

“Islam sangat mengecam perilaku memfitnah orang lain. Memfitnah itu lebih kejam daripada membunuh. Artinya, berbuat fitnah itu lebih besar dosanya daripada membunuh.” (Q.S. Albaqarah [2]: 217).
Ali bin Abi Thalib r.a pernah menyebut orang yang membiarkan lidahnya bebas tak terkendali dalam menyebarkan keburukan dalam masyarakat adalah pendosa besar. “Orang yang mengatakan sesuatu keburukan dan orang yang membiarkannya adalah sama-sama berdosa.” ujar Khalifah Ali.
Alquran telah memperingatkan akan beratnya siksa bagi orang-orang yang suka memfitnah atas kehormatan seseorang dan mengatakan tentang kesalahan-kesalahan tersembunyi mereka. ”Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (Q.S. Annur [24]: 19).
Pada hakikatnya, kebiasaan memfitnah itu lahir dari rasa dengki, sombong, angkuh, tidak menerima kebenaran, dan menganggap orang lain lebih rendah darinya. Memfitnah adalah tindakan paling kejam sebab bisa berdampak pada kehancuran, kemusnahan, dan permusuhan. Ketika Rasulullah SAW. ditanya sahabatnya, ”Siapakah Muslim yang terbaik itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Seseorang yang selamat dari lidah dan tangannya.” (Muttafaq’alaih).
Untuk itu, Islam memberikan solusi terbaik untuk menghindarkan diri dari perilaku memfitnah.
Pertama, jangan suka menggibah dan mencari-cari kesalahan orang lain. Menyebar gibah dan mencari-cari kesalahan orang lain merupakan perilaku yang sangat dibenci dan harus dihindari.
Allah SWT berfirman, ”Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah satu dari kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Alhujurat [49]: 12).
Kedua, jangan suka memata-matai orang lain. Memata-matai kekurangan orang lain, apalagi untuk disebarluaskan, adalah perilaku yang tidak terpuji. Ia sibuk melihat kekurangan dan kesalahan orang lain, sedangkan kekurangan dirinya sendiri terlupakan. Rasulullah SAW bersabda, ”Jangan suka menyelediki, mematai-matai, dan menjerumuskan orang lain. Jadilah kalian sebagai hamba Allah yang besaudara.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Ketiga, jangan suka menyebarkan kekurangan orang lain. Orang yang gemar membicarakan kekurangan orang lain, sejatinya ia sedang memperlihatkan jati dirinya yang asli. Semakin banyak kekurangan yang ia bicarakan/sebarkan, maka semakin jelas keburukan diri si penyebar.
Kendati mengetahui kekurangan yang ada pada diri orang lain, langkah terbaik kita adalah mengingatkan dan tidak menyebarluaskannya. Saling mengingatkan dan saling mengajak kepada kebenaran. Sabda Rasulullah SAW, ”Barang siapa mengetahui keburukan saudaranya, kemudian ia menutupinya, pada hari kiamat Allah akan menutupi dosanya.” (H.R. Thabrani).
Keempat, jangan suka mencurigai orang lain. Allah SWT berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purbasangka (kecurigaan), karena sebagian dari purbasangka itu dosa.” (Q.S. Alhujurat [49]: 12).
Kelima, tidak merendahkan orang lain. Sebab, bisa jadi orang yang direndahkan lebih baik dan terhormat daripada orang yang merendahkan. Allah SWT berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (Q.S. Alhujurat [49]: 11).
Keenam, membiasakan klarifikasi (tabayun). Allah SWT berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Alhujurat [49]: 6).
Dengan demikian, ”Sungguh, bahagia orang yang dijauhkan dari fitnah. Sungguh, bahagia orang yang dijauhkan dari fitnah. Sungguh, bahagia orang yang dijauhkan dari fitnah dan orang yang dijuji lalu sabar. Sementara itu, kecelakaan berhak dirasakan orang yang berinteraksi dengan fitnah dan berbuat (berusaha mencarinya) di dalamnya.” (H.R. Abu Dawud). Wallahu a’lam.

* Pikiran Rakyat, Renungan Jumat, Jumat, 25/6/2010.

Rabu, 16 Juni 2010

Cermat Memilih Sekolah

Oleh Imam Nur Suharno SPd MPdI
Direktur Pendidikan Yayasan
Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

Setiap menjelang tahun ajaran baru, rasa cemas dan bingung selalu menghantui para orang tua. Mereka bingung memilih sekolah yang tepat. Sebagai orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak. Harapannya, sekolah yang dipilih mampu menjadi tempat mengembangkan kemampuan anak secara optimal sehingga menjadi manusia yang paripurna (insan kamil).

Dalam menentukan pilihan sekolah, orang tua hendaknya melibatkan anak sebab anaklah yang nanti menjalani sekolah. Dengan melibatkan anak, diharapkan anak menjadi betah dan siap untuk belajar di lingkungan sekolah barunya.

Betah merupakan kunci keberhasilan dalam belajar di sekolah. Anak yang cerdas, tetapi tidak betah tidak akan mampu berkonsentrasi dalam belajar. Sebaliknya, anak yang biasa-biasa saja dari sisi kecerdasan bila betah akan mampu berprestasi.

Memilih sekolah yang tepat bukanlah keputusan yang mudah bagi orang tua ataupun anak. Sedikitnya ada enam hal yang perlu dicermati, selain kecermatan dalam melihat biaya pendidikan.

Pertama, mengetahui visi dan misi sekolah. Sekolah yang memiliki kualitas baik tentu memiliki visi dan misi yang jelas, terukur, dan realistis. Dari visi dan misi dapat terlihat bagaimana orientasi tujuan dan profil output yang dihasilkan. Oleh karena itu, untuk mengetahui visi dan misi tersebut, orang tua dapat melihat di brosur, buku profil, papan nama, atau media publikasi yang digunakan oleh sekolah.

Kedua, kurikulum pembelajaran. Dari kurikulum dapat diketahui pola perencanaan pembelajaran yang menyangkut semua kegiatan yang dilakukan dan dialami anak didik dalam perkembangannya. Meskipun penerapan kurikulum sudah diatur dan diseragamkan melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pihak sekolah dapat melakukan modifikasi yang disesuaikan dengan kondisi sekolah, lingkungan, dan kebutuhan masyarakat.

Oleh karena itu, orang tua harus jeli dan teliti dalam memilih sekolah dari sisi kurikulum, terutama menyangkut porsi pendidikan agama dan akhlakul karimah yang diterapkan di sekolah. Sebab, melalui pendidikan agama dan akhlakul karimah yang cukup diharapkan mampu membentuk anak didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual (intellectual quotient), tetapi juga cerdas secara emosional (emotional quotient), dan spiritual (spiritual quotient).

Ketiga, kualitas guru. Keberhasilan proses pendidikan tidak dapat dilepaskan dari keberadaan guru. Guru tidak sekadar menyampaikan ilmu. Guru merupakan arsitek peradaban. Jika salah dalam mendidik, berarti ia telah salah dalam membentuk peradaban.

Dalam Peraturan Pemerintah No 16 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Guru, disebutkan guru harus memiliki empat kompetensi; kompetensi pedagogik; kompetensi pribadi; kompetensi sosial; dan kompetensi profesional.

Keempat, sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Sarana dan prasarana pendidikan merupakan komponen penting bagi terlaksananya pendidikan. Karena dianggap penting, pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menentukan standar sarana pendidikan dengan maksud, agar sekolah yang memenuhi standar itu akan menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Sarana dan prasarana tersebut meliputi ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

Kelima, lingkungan sekolah. Di antara yang juga perlu dipertimbangkan dalam menentukan pilihan sekolah adalah kondisi lingkungan yang kondusif, nyaman, asri, teduh, tenang, tertib, bersih, dan jauh dari keramaian. Suasana lingkungan yang memadai akan menjadikan anak didik serasa dalam surga. Sekolahku adalah surgaku. Dengan demikian, anak didik akan semakin betah berlama-lama di sekolah.

Keenam, prestasi (output) sekolah. Sekolah yang baik, selain unggul di proses, juga unggul pada hasil (output). Oleh karena itu, yang paling mudah untuk menilai apakah sekolah tersebut baik atau tidak, berkualitas atau tidak, lihatlah alumninya. Keberhasilan alumni dapat diukur dari lulusan sekolah diterima di sekolah lanjutan yang kualitasnya baik, memiliki life skill yang cukup, dan yang tidak kalah pentingnya adalah sikap dan perilakunya di tengah-tengah masyarakat.

Terakhir, "Ajarilah anak-anakmu, bukan dalam keadaan yang serupa denganmu. Didiklah dan persiapkanlah anak-anakmu untuk suatu zaman yang bukan zamanmu. Mereka akan hidup pada suatu zaman yang bukan zamanmu." (Ali bin Abi Thalib). Dengan demikian, cermat dalam memilih sekolah merupakan langkah awal dalam membentuk generasi mendatang. Wallahu a'lam.






[Akademia Republika,Guru Menulis Edisi Rabu, 16 Juni 2010]

Selasa, 08 Juni 2010

Membangun Solidaritas untuk Palestina

Oleh Imam Nur Suharno

Aksi solidaritas untuk Palestina kembali dikobarkan setelah kebrutalan tentara Israel atas relawan kemanusiaan di kapal Mavi Marmara, Senin (31/5) lalu. Kebrutalan Israel itu telah mengundang kecaman dunia internasional. Karena itu, menjadi kewajiban semua pihak untuk membantu rakyat Palestina mengembalikan hak-haknya.

Secara kelembagaan, Indonesia telah memberikan bantuan pada Palestina berupa pendirian rumah sakit di Jalur Gaza senilai Rp 20 miliar. Presiden Yudhoyono menyatakan Indonesia siap memberikan bantuan kemanusiaan dalam bentuk apa pun kepada Palestina jika dibutuhkan. (Republika Online, 31/5).

Dan, secara individu, kewajiban bagi setiap Muslim untuk membantu Palestina (QS Al-Anfal [8]: 72). Karena itu, Syekh Abdul Khaliq Asy-Syarif menyebutkan sepuluh kewajiban individu Muslim membantu kaum Muslimin Palestina. Pertama, menegakkan agama Allah dalam diri kita dengan cara komitmen dengan hukum-hukum Allah, menegakkan kewajiban dan syiar-syiar Islam dalam diri kita, rumah tangga, dan lingkungan sekitar.

Kedua, membaca doa qunut nazilah dalam setiap shalat dan secara khusus pada shalat malam. Ketiga, menumbuhkan ikatan emosional persaudaraan antarsesama Muslim. "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara." (QS Al-Hujurat: 10).

Rasulullah SAW menegaskan, "Perumpamaan orang-orang mukmin di dalam persahabatan dan rasa kasih sayangnya seperti tubuh yang satu. Apabila salah satu anggota tubuh itu sakit, maka semua anggota tubuh yang lain merasakan sakit." (HR Bukhari dan Muslim).

Keempat, berjihad dengan harta. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang membekali seorang mujahid untuk berperang di jalan Allah, maka sungguh ia telah ikut berperang, dan barangsiapa yang menjadi penanggung jawab yang baik (terhadap harta dan keluarga mujahid), maka sungguh ia telah ikut berperang." (HR Bukhari Muslim).

Kelima, menyebarkan permasalahan Palestina ke seluruh lapisan masyarakat supaya mereka sadar bahwa permasalahan negara tersebut merupakan permasalahan umat Islam. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan termasuk golongan mereka." (HR Thabrani).

Keenam, mengenalkan permasalahan Palestina kepada para generasi muda bahwa agresi Israel terhadap Palestina merupakan bentuk penjajahan terhadap umat Islam. Ketujuh, memboikot produk-produk Yahudi dan sekutunya.

Kedelapan, berpartisipasi positif dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina. Kesembilan, menggunakan nama para syuhada menjadi nama-nama jalan dan nama anak-anak. Dan kesepuluh, meningkatkan ruhul jihad dalam jiwa.

Untuk itu, marilah kita merapatkan barisan (shaf) dan bergandengan tangan dalam menyelesaikan setiap permasalahan umat, termasuk permasalahan yang terjadi di Gaza, Palestina. Wallahu A'lam.




Hikmah Republika, edisi Selasa, 08 Juni 2010

Rabu, 26 Mei 2010

Tiga Tanda Kematian

Oleh Imam Nur Suharno

Dikisahkan bahwa malaikat maut (Izrail) bersahabat dengan Nabi Ya'kub AS. Suatu ketika Nabi Ya'kub berkata kepada malaikat maut. "Aku menginginkan sesuatu yang harus kamu penuhi sebagai tanda persaudaraan kita."

"Apakah itu?" tanya malaikat maut. "Jika ajalku telah dekat, beri tahu aku." Malaikat maut berkata, "Baik aku akan memenuhi permintaanmu, aku tidak hanya akan mengirim satu utusanku, namun aku akan mengirim dua atau tiga utusanku." Setelah mereka bersepakat, mereka kemudian berpisah.

Setelah beberapa lama, malaikat maut kembali menemui Nabi Ya'kub. Kemudian, Nabi Ya'kub bertanya, "Wahai sahabatku, apakah engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?"

"Aku datang untuk mencabut nyawamu." Jawab malaikat maut. "Lalu, mana ketiga utusanmu?" tanya Nabi Ya'kub. "Sudah kukirim." Jawab malaikat, "Putihnya rambutmu setelah hitamnya, lemahnya tubuhmu setelah kekarnya, dan bungkuknya badanmu setelah tegapnya. Wahai Ya'kub, itulah utusanku untuk setiap bani Adam.

Kisah tersebut di atas mengingatkan tentang tiga tanda kematian yang akan selalu menemui kita, yaitu memutihnya rambut; melemahnya fisik, dan bungkuknya badan. Jika ketiga atau salah satunya sudah ada pada diri kita, itu berarti malaikat maut telah mengirimkan utusannya. Karena itu, setiap Muslim hendaknya senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadapi utusan tersebut.

Kematian adalah kepastian yang akan dialami oleh setiap manusia sebagaimana yang telah ditegaskan dalam firman Allah SWT, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati." (QS Ali Imran [3]: 185).

Karena itu, kita berharap agar saat menghadapi kematian dalam keadaan tunduk dan patuh kepada-Nya. "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS Ali Imran [3]: 102).

Tidaklah terlalu penting kita akan mati, tapi yang terpenting adalah sejauh mana persiapan menghadapi kematian itu. Rasulullah SAW mengingatkan agar kita bersegera untuk menyiapkan bekal dengan beramal saleh. "Bersegeralah kamu beramal sebelum datang tujuh perkara: kemiskinan yang memperdaya, kekayaan yang menyombongkan, sakit yang memayahkan, tua yang melemahkan, kematian yang memutuskan, dajjal yang menyesatkan, dan kiamat yang sangat berat dan menyusahkan." (HR Tirmidzi).

Bekal adalah suatu persiapan, tanpa persiapan tentu akan kesulitan dalam mengarungi perjalanan yang panjang dan melelahkan. Oleh karena itu, "Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS Al-Baqarah [2]: 197).

Teruntuk Ibu Hasri Ainun Habibie. Selamat Jalan, Ibu ….





Hikmah Republika (Rabu, 26 Mei 2010)

Kamis, 20 Mei 2010

Meraih Hidup Sukses

Oleh Imam Nur Suharno


Setiap manusia mendambakan hidup sukses. Hidup mapan tidak akan datang tiba-tiba. Tetapi, melalui proses panjang sebagai upaya mencapai tingkat hidup lebih baik dan mampu menciptakan suasana penuh damai, tenang, bahagia, menepis kegalauan, dan bayangan buruk dalam kehidupan.

Islam telah memberikan tuntunan dalam upaya meraih kesuksesan hidup tersebut. Pertama, dengan beriman dan beramal saleh. Allah SWT berfirman, Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS An-Nahl [16]: 97).

Kedua, ridha terhadap takdir Allah. Kesuksesan dapat diraih oleh mereka yang beriman kepada Allah SWT. Sedangkan, meyakini ketentuan dan kekuasaan (qadha dan qadar) Allah adalah bagian dari iman kepada-Nya. Dan, ridha itu adalah bagian dari iman pada qadha dan qadar-Nya.

Oleh karena itu, manusia wajib berhati-hati terhadap buaian angan dan dampak buruk yang ditimbulkan. Dan, jika ia berkeluh kesah dengan ketentuan-Nya, pasti akan celaka. Sabda Nabi SAW, Sesungguhnya Allah berfirman; 'Barangsiapa yang tidak ridha dengan qadha dan qadar-Ku dan tidak sabar terhadap bencana yang Aku timpakan atasnya, maka sebaiknya ia mencari tuhan selain Aku. (HR Thabrani).

Ketiga, tawakal kepada Allah SWT. Maka itu, seorang Mukmin tidak boleh terlena oleh segala macam angan-angan dan bujuk rayu dunia. Ia harus yakin kepada Allah SWT dan berharap anugerah-Nya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. (QS At-Thalaq [65]: 3).

Keempat, selalu mengingat Allah SWT. Mereka yang senantiasa mengingat Allah, niscaya hatinya akan terasa damai, dan lebih dari itu hidupnya akan lebih baik, serta keresahan dan guncangan dalam hatinya akan terempaskan karena adanya cahaya Ilahi. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. (QS Ar-Ra'du [13]: 28-29).

Kelima, menyusun perencanaan ke depan. Yaitu, dengan memberikan perhatian terhadap pekerjaan hari ini dan tidak berlarut dalam keluh kesah dengan kenyataan masa lalu. Oleh karena itu, Nabi SAW selalu memohon perlindungan dari sifat keluh kesah.

Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh dan kesah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat tak berdaya dan malas. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari banyaknya utang dan penindasan orang lain. (HR Bukhari).

Setiap Muslim yang ingin hidup sukses, hendaknya selalu menanamkan paradigma berpikir sukses sehingga dapat meraih kesuksesan di dunia dan akhirat kelak. Amin. Wa Allahu A'lam.





Harian Republika Kolom HIkmah Kamis, 20 Mei 2010

Jumat, 07 Mei 2010

PILAR-PILAR KESUKSESAN GURU

Oleh Imam Nur Suharno SPd MPdI

Dalam mutiara hikmah dikatakan, ”Aththoriqotu ahammu minal maddah, wal ustadz ahammu minaththoriqoh, wa ruhul ustadz ahammu min kulli syaiin.” (Metode lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode, dan ruh (semangat) guru lebih penting dari semua itu). Sebab, dengan ruh tersebut guru mampu menghidupkan suasana pembelajaran yang menyenangkan dengan sentuhan kasih, sayang, dan cintanya pada anak didik.
Guru sebagai pendidik merupakan gerbang awal dalam pembentukan kepribadian siswa. Hal ini mengandung makna bahwa guru memberikan pengaruh yang cukup bermakna bagi terwujudnya manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia. Guru merupakan orang yang ditangannya terletak masa depan bangsa. Guru tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didik, tetapi guru adalah arsitek peradaban. Karena itu, maju mundurnya sebuah bangsa ke depan berada di genggaman guru.
Berkaitan dengan peran guru dalam membentuk kepribadian siswa, Mahmud Samir al-Munir dalam kitabnya, Al-Mu’allimur Rabbani, menyebutkan tujuh pilar kesuksesan seorang guru. Pertama, semangat yang terkontrol. Seorang guru mesti menjadi orang yang ulet, telaten, peduli, dan memiliki tekad yang memadai. Sebab, peserta didik memerlukan hal baru, tambahan informasi, perhatian, dan didikan yang baik darinya.
Kedua, ilmu yang terus berkembang. Seorang guru yang sukses harus mempunyai dua kelebihan, yakni kelebihan horizontal (pengetahuan luas) dan vertikal (menguasai bidangnya secara mendalam). Guru yang tidak atau jarang membaca lambat laun akan kering wawasannya seiring permasalahan yang muncul. Karena itu, guru jangan sampai meninggalkan aktivitas membaca. Guru juga hendaknya mempunyai perpustakaan sendiri walaupun sederhana.
Ketiga, perencanaan yang rapi. Guru hendaknya memiliki perencanaan pendidikan yang matang, tertulis dan tersusun rapi. Perencanaan itu mesti dalam jangka waktu tertentu, terukur, dan realistis agar tujuan pendidikan bisa tercapai. Penulis menyebutnya dengan istilah ‘TUKER-KERIS’ (TUlis apa yang anda KERjakan, dan KERjakan apa yang anda tulIS.
Keempat, variasi kecerdasan. Guru itu seperti sungai, ia memberi minum kepada orang-orang yang kehausan, mengalir deras ke setiap lembah, mengubah tandusnya akal menjadi pengetahuan yang berbunga di lembah pengetahuan yang beraneka ragam.
Oleh karena itu, guru harus menjadi bapak bagi siswanya dalam ikatan batin, menjadi syekh dalam pendidikan rohani, menjadi pendidik dalam penyampaian ilmu, menjadi teman dalam penyampaian curhat, dan menjadi pemimpin dalam keteladanan.
Kelima, kepemimpinan yang bijaksana. Tidak cukup seorang guru hanya menyampaikan materi pelajaran tanpa memenuhi pendidikan yang sesunggunya, yang bertujuan menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak didik. Disamping transformasi ilmu pengetahuan, guru juga harus mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Keenam, menjaga celah. Guru adalah arsitek peradaban. Masa depan anak didik adalah amanah di pundak guru. Baiknya generasi muda ke depan tergantung kepada kesungguhan guru dalam mempersiapkan anak didiknya. Oleh karena itu, guru harus mampu menjaga celah di bidang pendidikan. Sebab, jika pendidikan tidak bisa diharapkan, tunggulah akan kehancuran. Syauqi pernah berkata, ”Jika guru berbuat salah sedikit saja, akan lahirlah siswa-siswa yang lebih buruk lagi.”
Ketujuh, tidak mengenal putus asa. Kenyataan terkadang membuat guru sedih dengan fakta dekadensi morol pada generasi muda. Orang yang bertekad lemah, kadang menyatakan bahwa generasi sekarang tidak bisa diharapkan, tak ada harapan akan perbaikan. Tetapi, guru harus yakin, bahwa impian hari ini adalah kenyataan esok hari. Karena itu, guru perlu terus berbuat dan meninggikan bendera kebajikan guna menyiapkan generasi mendatang yang lebih baik. Wallahua ’alam.

* Majalah Pembinaan, Kajian Utama, Edisi Mei 2010.

Minggu, 02 Mei 2010

SIAP MENTAL KE PESANTREN

SELAIN menyekolahkan anak ke luar negeri, banyak pula orang tua mengirimkan putra-putrinya ke pesantren atau sekolah dengan sistem boarding (asrama). Meskipun berbeda, pola dan dampaknya hampir sama. Orang tua berjauhan dengan anak, orang tua cemas terhadap pergaulan anak, anak menjadi harapan orang tua untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Direktur Pendidikan dan Kepala Sekolah MTs. Husnul Khotimah, Kuningan, Imam Nur Suharno (41), mengatakan, hal yang harus diperhatikan saat seseorang akan melanjutkan pendidikan jauh dari orang tua adalah, hal itu merupakan perpaduan keinginan bersama antara orang tua maupun anak. Kalau hanya keinginan orang tua atau anak, akan muncul kendala.

Pasalnya, modal utama sekolah berjauhan dengan orang tua adalah betah atau tidak. Oleh karena itu, jauh-jauh hari sebelum anak itu berangkat menuntut ilmu, orang tua harus memberi pemahaman terlebih dahulu bagaimana tata cara hidup berjauhan dengan orang tua.

"Kunci belajar di pesantren itu betah. Kalau tidak betah, anak pintar pun akan kehilangan konsentrasi belajar. Sebaliknya, bila anak itu pas-pasan tetapi betah di pesantren, ia akan dapat konsentrasi dan belajar dengan baik," ujar Imam.

Pendek kata, kata Imam, orang tua mengirimkan anak-anaknya ke pesantren karena ingin anak-anaknya pintar dan saleh. Bahkan kalau harus memilih di antara keduanya, mereka (orang tua-red.) akan memilih anak yang saleh ketimbang pintar.

Hal yang dapat dilakukan orang tua saat anak belajar berjauhan adalah doa. Bila segala upaya sudah dilakukan, langkah berikutnya adalah menguatkan diri dengan doa. Sebab yang membolak-balikkan hati itu, bukan siapa-siapa tetapi Allah SWT.

Pada umumnya, kata Imam, orang tua memasukkan anak ke pesantren, ingin memperoleh tempat aman dan nyaman bagi putra-putrinya. Tempat yang sesuai dengan harapan orang tua. Apalagi semua tempat saat ini, memang sudah sangat mengkawatirkan orang tua. Pendek kata, orang tua meghendaki pendidikan yang dberikan ini menghasilkan peserta didik menjadi anak saleh (untuk diri sendiri) dan menjadi Muslih (mengajak kepada orang lain) tanpa paksaan.

Pola aktivitas keseharian juga berbeda. Bila di rumah anak-anak lebih banyak menonton televisi, kalau di pesantren lebih banyak mengkaji Alquran. Hal sama terjadi juga dalam hal makan dan minum. "Di rumah, makan, minum, dan mandi tidak harus mengantre. Sepintas tidak ada apa-apanya tetapi kemudian, bisa dirasakan sendiri," ujarnya.

Kehidupan pesantren menurut Imam, mengantarkan anak pada kehidupan 24 jam bersama dengan teman. Bila di rumah hanya mengenal beberapa orang, maka di pesantren akan mengenal banyak orang dengan belakang keluarga dan daerah yang berbeda-beda.

Di situlah akan terjadi kerukunan yang lintas batas, menanamkan dan menjalin ukhuwah. Makanya di sekolah itu ditanamkan saling menghargai dan menghormati. Yang tua menyayangi yang muda, yang muda hormat kepada yang tua. Di pesantren juga diajarkan akhlak kepada guru, orang tua, dan teman.

Jika di sekolah biasa paling lama hanya 2-7 jam, di pesantren 24 jam. Pesantren jadi sebuah laboratorium, tempat salat berjamaah, puasa sunah bersama, makan dan mandi bersama (harus ngantre). Di situ ada ujian kesabaran dan berlatih mandiri. Lambat laun kehidupan ini akan membentuk anak.

”Oleh karena itu, lagi-lagi doa tidak hanya akan menguatkan anak tetapi juga guru pada saat membimbing. (Eriyanti/”PR”)***


wawancara PR dengan Direktur Pendidikan dan Kepala MTs Husnul Khotimah
Penulis: