Oleh Imam Nur Suharno SPd ,MPd
BULAN Ramadhan (Puasa) adalah bulan yang selalu dinanti kehadirannya, sebab pada bulan Ramadhan, Allah SWT memanjakan hamba-Nya dengan berbagai kebajikan yang pahalanya dilipatgandakan, sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Nabi SAW menegaskan dalam sabdanya, Semua amalan anak Adam akan dilipatgandakan (balasannya): satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman, Kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku, dan Aku yang langsung membalasnya. Hamba-Ku telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku. (H.R. Muslim).
Untuk menjaga kekhusuan dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, pemerintah berencana memblokir peredaran situs kemaksiatan di dunia maya. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Tifatul Sembiring, menegaskan, situs atau laman porno atau berbau kemaksiatan akan diblokir dengan tegas sebelum bulan suci Ramadhan tiba. Komitmen itu agar pelaksanaan bulan suci di negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia ini tidak dinistakan oleh aktivitas pornografi di dunia maya. (Republika, 23/7/2010).
Pemblokiran laman porno merupakan amanat Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), pemerintah hanya bertugas menjalankan apa yang telah diatur dalam UU tersebut, tegas Tifatul Sembiring, petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Islam telah memberikan solusi terbaik untuk memblokir berbagai bentuk kemungkaran, termasuk memblokir penyebaran situs porno yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat.Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa melihat kemungkaran, hendaklah merubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu tingkatan iman yang paling lemah. (HR Muslim).
Dalam hadis di atas, Rasulullah SAW memberikan solusi memblokir kemungkaran. Pertama, memblokir kemungkaran dengan tangan. Dalam kitab Al-Wafi fi Syarhil Arbain An-Nawawiyah dijelaskan, bahwa hukumnya fardhu ain menghentikan kemungkaran berlaku bagi seseorang yang mengetahuinya, dan ia mampu untuk menghentikannya. Atau, jika yang mengetahui kemungkaran itu masyarakat banyak, namun hanya satu orang yang mampu menghentikannya, maka hukum menghentikan kemungkaran itu fardhu ain bagi orang tersebut.
Namun, jika menghentikan kemungkaran dengan tangan itu akan lebih efektif bila diperankan oleh penegak hukum, maka menghentikan kemungkaran itu menjadi fardhu ain bagi penegak hukum. Artinya, jika penegak hukum tidak serius menghentikan kemungkaran tersebut, apalagi malah melindunginya (naudzubillah), maka penegak hukum berdosa. Untuk diketahui, dosa dapat menghalangi seseorang masuk surga di akhirat kelak.
Kedua, memblokir kemungkaran dengan lisan. Jika suatu kemungkaran diketahui oleh lebih dari satu orang, maka kewajiban menghentikan kemungkaran itu menjadi fardhu kifayah. Artinya, jika sebagian mereka telah menunaikan kewajiban itu, maka kewajiban itu menjadi gugur bagi yang lainnya. Dan, bila sebagian orang tersebut tidak mampu menghentikan, maka mereka berkewajiban melaporkannya pada penegak hukum. Dengan demikian, menghentikan kemungkaran bagi penegak hukum menjadi fardhu ain.
Oleh karena itu, Allah SWT menegaskan, Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran [3]: 104).
Ketiga, memblokir kemungkaran dengan hati. Dan ini merupakan tingkatan iman yang paling rendah (adhafu al-iman). Oleh karena itu, mengingkari setiap kemungkaran melalui hati merupakan kewajiban bagi setiap orang yang mengetahuinya. Dan, jika ia tidak mengingkarinya, maka pertanda hilangnya iman dari hati.
Sahabat Ali RA pernah berkata, Jihad yang menjadi kunci pertama kemenangan kalian adalah jihad dengan tangan, lalu dengan lisan, lalu dengan hati. Barangsiapa yang tidak mengetahui yang baik, dan tidak mengingkari dengan hatinya kemungkaran yang terjadi, maka ia akan kalah. Sehingga, kondisi pun berbalik, yang di atas menjadi di bawah.
Untuk itu, menghentikan berbagai bentuk kemungkaran, termasuk tayangan situs asusila menjadi kewajiban bersama. Dengan kebersamaan, kemungkaran akan dapat dikendalikan. Sebab, kemungkaran yang terorganisir secara rapi dan profesional akan mampu mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir. Wallahu alam. (Penulis adalah Direktur Pendidikan Husnul Khotimah dan Dewan Pakar DPD Persaudaraan Guru Sejahtera Indonesia, Kuningan, Jawa Barat)
HU Pelita 19 Agustus 2010
Sabtu, 21 Agustus 2010
Kamis, 12 Agustus 2010
TADARUS ALQURAN
Oleh Imam Nur Suharno
Ramadan, bulan yang selalu dirindukan kehadirannya oleh setiap Muslim. Bulan yang sangat sarat dengan amal kebajikan dan pahala yang melimpah. Bahkan, ada yang menyebutnya sebagai bulan panen raya. Pada bulan ini, segala amal kebajikan pahalanya dilipatgandakan, sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Sabda Nabi saw., "Semua amalan anak Adam akan dilipatgandakan (balasannya): satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat". Allah berfirman,"Kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku, dan Aku yang langsung membalasnya. Hamba-Ku telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku". (H.R. Muslim).
Di antara amal kebajikan yang sangat dianjurkan dilakukan di bulan Ramadan adalah tadarus Alquran. Tadarus Alquran berarti membaca, merenungkan, menelaah, dan memahami wahyu-wahyu Allah SWT yang turun pertama kali pada malam bulan Ramadan (Q.S. Albaqarah [2]: 185). Dengan tadarus Alquran, kandungan hikmah yang termuat dan terkumpul di dalam Alquran dapat menjadi kompas penunjuk jalan menuju kebenaran.
Malaikat Jibril menyimak tadarus Alquran Rasulullah setiap bulan Ramadan. Utsman bin Affan biasa mengkhatamkan tadarus Alquran setiap hari sekali. Imam Syafii mengkhatamkan tadarus Alquran sebanyak enam puluh kali di bulan Ramadan, Al-Aswad setiap dua hari sekali, Qatadah setiap tiga hari sekali, serta tiap malam pada sepuluh malam akhir bulan Ramadan. Subhanallah.
Terkait larangan Nabi saw. mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari, Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, "Sesungguhnya larangan dari Nabi saw. untuk mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari berlaku jika dilakukan secara rutin. Adapun untuk waktu-waktu yang utama, seperti bulan Ramadan, lebih-lebih pada malam-malam Lailatulkadar, atau di tempat-tempat yang dimuliakan, seperti di Mekah bagi orang yang memasukinya, selain penduduknya, adalah disunahkan untuk memperbanyak tadarus Alquran. Hal itu dalam rangka mencari keutamaan waktu dan tempat tersebut. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishak, dan yang lainnya". (Raghib As-Sirjani dan Muhammad Al-Muqaddam dalam bukunya Madrasah Ramadhan).
Alquran disebut sebagai "Ma`dubatullah" (hidangan Allah SWT), sebagaimana sabda Rasulullah saw., "Sesungguhnya Alquran ini adalah hidangan Allah, maka kalian terimalah hidangan-Nya itu semampu kalian". (H.R. Hakim).
Sungguh, Alquran merupakan suatu hidangan yang tidak pernah membosankan. Semakin dinikmati, semakin bertambah pula nikmatnya. Oleh karena itu, setiap orang yang mempercayai Alquran akan semakin bertambah cinta kepadanya, cinta untuk membacanya, mempelajarinya, menghafalkannya, memahaminya, mengamalkannya, dan mengajarkannya
Tidak heran, jika Rasulullah saw. menganjurkan umatnya untuk senantiasa bertadarus Alquran. Ada banyak keutamaan dalam tadarus Alquran. Pertama, menjadi sebaik-baiknya manusia. Tidak ada manusia yang lebih baik daripada orang yang mau belajar dan mengajarkan Alquran. Oleh karena itu, profesi pengajar Alquran - jika dimasukkan sebagai profesi - adalah profesi terbaik di antara sekian banyak profesi. Sabda Nabi saw., "Sebaik-baik kamu sekalian adalah yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya". (H.R. Bukhari).
Kedua, memperoleh kebaikan berlipat. Sabda Nabi saw., "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Saya tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf". (H.R. Tirmidzi).
Ketiga, memberi syafaat di hari kiamat. Sabda Nabi saw., "Bacalah olehmu Alquran karena sesungguhnya Alquran itu akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya". (H.R. Muslim).
Keempat, dikumpulkan di surga bersama para Malaikat. Sabda Nabi saw., "Orang yang mahir membaca Alquran kelak (mendapat tempat di surga) bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Sementara orang yang kesulitan dan berat jika membaca Alquran, maka ia mendapatkan dua pahala". (H.R. Bukhari dan Muslim).
Kelima, mengangkat derajat. Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan Alkitab (Alquran), dan Ia akan merendahkan derajat suatu kaum yang lain dengannya". (H.R. Muslim).
Keenam, menjadi pembeda. Sabda Nabi saw., "Perumpamaan orang mukmin yang membaca Alquran seperti buah limau yang harum baunya dan lezat rasanya. Perumpamaan orang mukmin yang tidak suka membaca Alquran seperti buah kurma yang tidak berbau, tetapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Alquran seperti buah yang harum baunya, tetapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Alquran seperti buah handhalah yang tidak ada baunya dan rasanya pahit." (H.R. Bukhari dan Muslim).
Tadarus Alquran merupakan amalan mulia yang dianjurkan Nabi saw., terutama pada bulan Ramadan. Untuk itu, jangan biarkan bulan Ramadan kali ini berlalu tanpa tadarus Alquran. Wallahualam.***
Penulis, pengurus MUI Maniskidul dan Korps Mubaligh Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
RENUNGAN JUM'AT PR EDISI 3 RAMADHAN 1431 H
Ramadan, bulan yang selalu dirindukan kehadirannya oleh setiap Muslim. Bulan yang sangat sarat dengan amal kebajikan dan pahala yang melimpah. Bahkan, ada yang menyebutnya sebagai bulan panen raya. Pada bulan ini, segala amal kebajikan pahalanya dilipatgandakan, sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Sabda Nabi saw., "Semua amalan anak Adam akan dilipatgandakan (balasannya): satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat". Allah berfirman,"Kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku, dan Aku yang langsung membalasnya. Hamba-Ku telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku". (H.R. Muslim).
Di antara amal kebajikan yang sangat dianjurkan dilakukan di bulan Ramadan adalah tadarus Alquran. Tadarus Alquran berarti membaca, merenungkan, menelaah, dan memahami wahyu-wahyu Allah SWT yang turun pertama kali pada malam bulan Ramadan (Q.S. Albaqarah [2]: 185). Dengan tadarus Alquran, kandungan hikmah yang termuat dan terkumpul di dalam Alquran dapat menjadi kompas penunjuk jalan menuju kebenaran.
Malaikat Jibril menyimak tadarus Alquran Rasulullah setiap bulan Ramadan. Utsman bin Affan biasa mengkhatamkan tadarus Alquran setiap hari sekali. Imam Syafii mengkhatamkan tadarus Alquran sebanyak enam puluh kali di bulan Ramadan, Al-Aswad setiap dua hari sekali, Qatadah setiap tiga hari sekali, serta tiap malam pada sepuluh malam akhir bulan Ramadan. Subhanallah.
Terkait larangan Nabi saw. mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari, Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, "Sesungguhnya larangan dari Nabi saw. untuk mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari berlaku jika dilakukan secara rutin. Adapun untuk waktu-waktu yang utama, seperti bulan Ramadan, lebih-lebih pada malam-malam Lailatulkadar, atau di tempat-tempat yang dimuliakan, seperti di Mekah bagi orang yang memasukinya, selain penduduknya, adalah disunahkan untuk memperbanyak tadarus Alquran. Hal itu dalam rangka mencari keutamaan waktu dan tempat tersebut. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishak, dan yang lainnya". (Raghib As-Sirjani dan Muhammad Al-Muqaddam dalam bukunya Madrasah Ramadhan).
Alquran disebut sebagai "Ma`dubatullah" (hidangan Allah SWT), sebagaimana sabda Rasulullah saw., "Sesungguhnya Alquran ini adalah hidangan Allah, maka kalian terimalah hidangan-Nya itu semampu kalian". (H.R. Hakim).
Sungguh, Alquran merupakan suatu hidangan yang tidak pernah membosankan. Semakin dinikmati, semakin bertambah pula nikmatnya. Oleh karena itu, setiap orang yang mempercayai Alquran akan semakin bertambah cinta kepadanya, cinta untuk membacanya, mempelajarinya, menghafalkannya, memahaminya, mengamalkannya, dan mengajarkannya
Tidak heran, jika Rasulullah saw. menganjurkan umatnya untuk senantiasa bertadarus Alquran. Ada banyak keutamaan dalam tadarus Alquran. Pertama, menjadi sebaik-baiknya manusia. Tidak ada manusia yang lebih baik daripada orang yang mau belajar dan mengajarkan Alquran. Oleh karena itu, profesi pengajar Alquran - jika dimasukkan sebagai profesi - adalah profesi terbaik di antara sekian banyak profesi. Sabda Nabi saw., "Sebaik-baik kamu sekalian adalah yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya". (H.R. Bukhari).
Kedua, memperoleh kebaikan berlipat. Sabda Nabi saw., "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Saya tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf". (H.R. Tirmidzi).
Ketiga, memberi syafaat di hari kiamat. Sabda Nabi saw., "Bacalah olehmu Alquran karena sesungguhnya Alquran itu akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya". (H.R. Muslim).
Keempat, dikumpulkan di surga bersama para Malaikat. Sabda Nabi saw., "Orang yang mahir membaca Alquran kelak (mendapat tempat di surga) bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Sementara orang yang kesulitan dan berat jika membaca Alquran, maka ia mendapatkan dua pahala". (H.R. Bukhari dan Muslim).
Kelima, mengangkat derajat. Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan Alkitab (Alquran), dan Ia akan merendahkan derajat suatu kaum yang lain dengannya". (H.R. Muslim).
Keenam, menjadi pembeda. Sabda Nabi saw., "Perumpamaan orang mukmin yang membaca Alquran seperti buah limau yang harum baunya dan lezat rasanya. Perumpamaan orang mukmin yang tidak suka membaca Alquran seperti buah kurma yang tidak berbau, tetapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Alquran seperti buah yang harum baunya, tetapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Alquran seperti buah handhalah yang tidak ada baunya dan rasanya pahit." (H.R. Bukhari dan Muslim).
Tadarus Alquran merupakan amalan mulia yang dianjurkan Nabi saw., terutama pada bulan Ramadan. Untuk itu, jangan biarkan bulan Ramadan kali ini berlalu tanpa tadarus Alquran. Wallahualam.***
Penulis, pengurus MUI Maniskidul dan Korps Mubaligh Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
RENUNGAN JUM'AT PR EDISI 3 RAMADHAN 1431 H
Kamis, 05 Agustus 2010
Pesantren dan Pendidikan Moral Bangsa
Oleh Imam Nur Suharno, SPd, MPdI
ADA beberapa indikator yang digunakan untuk melihat kualitas moral kehidupan suatu bangsa. Menurut Thomas Lickona (1992) terdapat sepuluh tanda dari perilaku manusia yang menunjukkan arah kehancuran suatu bangsa.
Pertama, meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. Kedua, ketidakjujuran yang membudaya. Ketiga, semakin tingginya rasa tidak hormat kepada orang tua, guru, dan figur pemimpin. Keempat, pengaruh per group terhadap tindakan kekerasan. Kelima, meningkatnya kecurigaan dan kebencian.
Keenam, penggunaan bahasa yang memburuk. Ketujuh, penurunan etos kerja. Kedelapan, menurunnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara. Kesembilan, meningginya perilaku merusak diri. Dan Kesepuluh, semakin kaburnya pedoman moral.
Dekadensi moral di era globalisasi dewasa ini, bila melihat apa yang disampaikan oleh Thomas Lickona tentang ciri penurunan moral, sangat mengkhawatirkan. Maka itu, agar masyarakat dapat terjaga dari serangan budaya yang tidak sesuai dengan norma agama dan moral bangsa, posisi pendidikan agama dan moral menjadi semakin penting.
Para tokoh agama pun sangat mendorong peningkatan pendidikan moral dan etika bagi masyarakat. Hal ini merespons beredarnya rekaman video mesum artis yang mirip Ariel, vokalis Peterpan dan artis Cut Tari serta Luna Maya akhir-akhir ini.
Untuk itu, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Syuhada Bahri, menegaskan, pembangunan mental akan membuat seseorang memiliki kesadaran akan kehadiran Tuhan. Jika kesadaran ini telah melekat maka siapa pun, terlepas dari agama yang mereka anut, akan merasa Tuhan selalu mengawasinya dan tak akan membuatnya berbuat asusila (Republika, 11/6).
Berbicara tentang pendidikan agama dan moral, maka tak bisa dilepaskan dengan sistem pendidikan di pesantren. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, yang memiliki andil besar dalam membangun bangsa ini.
Sejarah telah membuktikan, betapa besar arti pentingnya pesantren dalam rentang perjalanan bangsa Indonesia pada zaman penjajahan. Pesantren telah melakukan kegiatan yang pada hakikatnya terpusat pada pengembangan sumber daya manusia, yang kemudian amat berperan pada pergerakan perjuangan untuk merebut kemerdekaan.
Sesuai dengan pendapat Wardiman Djojonegoro (1994) yang menyatakan bahwa pesantren telah membuktikan peranannya sebagai salah satu komponen bangsa dalam usaha menyediakan manusia Indonesia yang dibutuhkan pada era pra kemerdekaan. Sejarah juga menunjukkan banyak tokoh nasional dan internasional yang lahir dari lingkungan pesantren.
Hal ini dipertegas oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj, Selama ini, pesantren telah sangat berjasa membangun fondasi agama dan mendidik bangsa. (Republika, 5/5).
Di antara tokoh bangsa yang lahir dari perut pesantren adalah: (1) KH Sahal Mahfudz. Beliau menempuh pendidikan selain mengaji kepada orangtuanya sendiri juga di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Tsanawiyah, kemudian melanjutkan studi di Pesantren Bendo, Kediri dan Pesantren Sarang, Rembang. Sejumlah kursus pun pernah diikutinya, antara lain: kursus Bahasa Inggris, Administrasi, Manajemen, dan lain-lain.
(2) KH Hasyim Muzadi. Menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo, kemudian melanjutkan di IAIN Sunan Ampel, Malang, dan juga sempat nyantri di Pesantren Al-Anwar dan berguru langsung dari KH Abdullah Faqih dari Langitan, dan (alm) KH Anwar dari Bululawang, Malang.
(3) Prof DR A Mukti Ali. Alumni dari Pesantren Termas, Kediri, Pesantren Lasem dan Pandangan, Jawa Timur. Pernah nyantri di Pesantren Tarekat, Pandangan, Tuban. Kemudian melanjutkan di Sekolah Tinggi Islam (STI), Yogyakarta yang kemudian berubah menjadi UII.
Pernah belajar di Mekkah dan Madinah, kemudian melanjutkan di program Phd di Universitas Karachi, dan kemudian ia meneruskan studi di Institut of Islamic Studies, Me Gill University, Montreal, Kanada.
(4) Prof DR Ahmad Syafii Maarif. Beliau menempuh pendidikan di Madrasah Muallimin Muhammadiyah, Yogyakarta. Kemudian melanjutkan di Universitas Cokroaminoto, Surakarta dan IKIP Yogyakarta. Studi di Universitas Illinois Utara, mendapat gelar MA dalam bidang Ilmu Sejarah dari Universitas Ohio, AS, dan gelar Phd dalam bidang Ilmu Sejarah dari Universitas Chicago.
(5) DR HM Hidayat Nur Wahid MA. Setamat dari sekolah dasar negeri (SDN) di desanya, beliau melanjutkan study di Pondok Pesantren Ngabar, Ponorogo, Jawa Timur. Kemudian melanjutkan di Pondok Pesantren Modern Darussalam, Gontor; IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta; dan Universitas Islam Madinah, Arab Saudi (S1, S2, S3).
Kemudian, seperti Agus Salim, HOS Cokroaminoto, Kahar Muzakir, Ahmad Dahlan, Abdurrahman Wahid, Amin Rais, Din Syamsuddin, M Maftuh Basyuni, Mahfud MD, Jimly Assiddiqie, dan masih banyak lagi tokoh bangsa yang lahir dari proses pendidikan pesantren yang tidak cukup untuk disebutkan di sini.
Hal ini membuktikan bahwa pesantren mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas, berpengetahuan luas, berpikiran maju, berwawasan kebangsaan yang kuat, yang dibingkai dengan keimanan dan ketakwaan, sebagai motivasi utamanya. Karena itu, keberadaan pesantren memang sangat dibutuhkan, guna membenahi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan demikian, keberadaan pesantren tidak bisa dilihat sebelah mata. Oleh karena itu, pemerintah hendaknya memberikan perhatian terhadap pengembangan dan pemberdayaan pesantren guna membangun budaya bangsa yang santun, cinta damai, ramah, religius, dan jauh dari praktek-praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme, ataupun budaya makelar kasus (markus). Wallahu alam. (Penulis adalah Direktur Pendidikan Yayasan Husnul Khotimah dan Dewan Pakar DPD Persaudaraan Guru Sejahtera Indonesia/PGSI, Kuningan, Jawa Barat).
Opini HU Pelita, 28 Juli 2010
ADA beberapa indikator yang digunakan untuk melihat kualitas moral kehidupan suatu bangsa. Menurut Thomas Lickona (1992) terdapat sepuluh tanda dari perilaku manusia yang menunjukkan arah kehancuran suatu bangsa.
Pertama, meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. Kedua, ketidakjujuran yang membudaya. Ketiga, semakin tingginya rasa tidak hormat kepada orang tua, guru, dan figur pemimpin. Keempat, pengaruh per group terhadap tindakan kekerasan. Kelima, meningkatnya kecurigaan dan kebencian.
Keenam, penggunaan bahasa yang memburuk. Ketujuh, penurunan etos kerja. Kedelapan, menurunnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara. Kesembilan, meningginya perilaku merusak diri. Dan Kesepuluh, semakin kaburnya pedoman moral.
Dekadensi moral di era globalisasi dewasa ini, bila melihat apa yang disampaikan oleh Thomas Lickona tentang ciri penurunan moral, sangat mengkhawatirkan. Maka itu, agar masyarakat dapat terjaga dari serangan budaya yang tidak sesuai dengan norma agama dan moral bangsa, posisi pendidikan agama dan moral menjadi semakin penting.
Para tokoh agama pun sangat mendorong peningkatan pendidikan moral dan etika bagi masyarakat. Hal ini merespons beredarnya rekaman video mesum artis yang mirip Ariel, vokalis Peterpan dan artis Cut Tari serta Luna Maya akhir-akhir ini.
Untuk itu, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Syuhada Bahri, menegaskan, pembangunan mental akan membuat seseorang memiliki kesadaran akan kehadiran Tuhan. Jika kesadaran ini telah melekat maka siapa pun, terlepas dari agama yang mereka anut, akan merasa Tuhan selalu mengawasinya dan tak akan membuatnya berbuat asusila (Republika, 11/6).
Berbicara tentang pendidikan agama dan moral, maka tak bisa dilepaskan dengan sistem pendidikan di pesantren. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, yang memiliki andil besar dalam membangun bangsa ini.
Sejarah telah membuktikan, betapa besar arti pentingnya pesantren dalam rentang perjalanan bangsa Indonesia pada zaman penjajahan. Pesantren telah melakukan kegiatan yang pada hakikatnya terpusat pada pengembangan sumber daya manusia, yang kemudian amat berperan pada pergerakan perjuangan untuk merebut kemerdekaan.
Sesuai dengan pendapat Wardiman Djojonegoro (1994) yang menyatakan bahwa pesantren telah membuktikan peranannya sebagai salah satu komponen bangsa dalam usaha menyediakan manusia Indonesia yang dibutuhkan pada era pra kemerdekaan. Sejarah juga menunjukkan banyak tokoh nasional dan internasional yang lahir dari lingkungan pesantren.
Hal ini dipertegas oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj, Selama ini, pesantren telah sangat berjasa membangun fondasi agama dan mendidik bangsa. (Republika, 5/5).
Di antara tokoh bangsa yang lahir dari perut pesantren adalah: (1) KH Sahal Mahfudz. Beliau menempuh pendidikan selain mengaji kepada orangtuanya sendiri juga di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Tsanawiyah, kemudian melanjutkan studi di Pesantren Bendo, Kediri dan Pesantren Sarang, Rembang. Sejumlah kursus pun pernah diikutinya, antara lain: kursus Bahasa Inggris, Administrasi, Manajemen, dan lain-lain.
(2) KH Hasyim Muzadi. Menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo, kemudian melanjutkan di IAIN Sunan Ampel, Malang, dan juga sempat nyantri di Pesantren Al-Anwar dan berguru langsung dari KH Abdullah Faqih dari Langitan, dan (alm) KH Anwar dari Bululawang, Malang.
(3) Prof DR A Mukti Ali. Alumni dari Pesantren Termas, Kediri, Pesantren Lasem dan Pandangan, Jawa Timur. Pernah nyantri di Pesantren Tarekat, Pandangan, Tuban. Kemudian melanjutkan di Sekolah Tinggi Islam (STI), Yogyakarta yang kemudian berubah menjadi UII.
Pernah belajar di Mekkah dan Madinah, kemudian melanjutkan di program Phd di Universitas Karachi, dan kemudian ia meneruskan studi di Institut of Islamic Studies, Me Gill University, Montreal, Kanada.
(4) Prof DR Ahmad Syafii Maarif. Beliau menempuh pendidikan di Madrasah Muallimin Muhammadiyah, Yogyakarta. Kemudian melanjutkan di Universitas Cokroaminoto, Surakarta dan IKIP Yogyakarta. Studi di Universitas Illinois Utara, mendapat gelar MA dalam bidang Ilmu Sejarah dari Universitas Ohio, AS, dan gelar Phd dalam bidang Ilmu Sejarah dari Universitas Chicago.
(5) DR HM Hidayat Nur Wahid MA. Setamat dari sekolah dasar negeri (SDN) di desanya, beliau melanjutkan study di Pondok Pesantren Ngabar, Ponorogo, Jawa Timur. Kemudian melanjutkan di Pondok Pesantren Modern Darussalam, Gontor; IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta; dan Universitas Islam Madinah, Arab Saudi (S1, S2, S3).
Kemudian, seperti Agus Salim, HOS Cokroaminoto, Kahar Muzakir, Ahmad Dahlan, Abdurrahman Wahid, Amin Rais, Din Syamsuddin, M Maftuh Basyuni, Mahfud MD, Jimly Assiddiqie, dan masih banyak lagi tokoh bangsa yang lahir dari proses pendidikan pesantren yang tidak cukup untuk disebutkan di sini.
Hal ini membuktikan bahwa pesantren mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas, berpengetahuan luas, berpikiran maju, berwawasan kebangsaan yang kuat, yang dibingkai dengan keimanan dan ketakwaan, sebagai motivasi utamanya. Karena itu, keberadaan pesantren memang sangat dibutuhkan, guna membenahi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan demikian, keberadaan pesantren tidak bisa dilihat sebelah mata. Oleh karena itu, pemerintah hendaknya memberikan perhatian terhadap pengembangan dan pemberdayaan pesantren guna membangun budaya bangsa yang santun, cinta damai, ramah, religius, dan jauh dari praktek-praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme, ataupun budaya makelar kasus (markus). Wallahu alam. (Penulis adalah Direktur Pendidikan Yayasan Husnul Khotimah dan Dewan Pakar DPD Persaudaraan Guru Sejahtera Indonesia/PGSI, Kuningan, Jawa Barat).
Opini HU Pelita, 28 Juli 2010
Sabtu, 31 Juli 2010
GOSIP
Oleh Imam Nur Suharno
Rasul SAW bersabda, "Tahukah kamu apakah gibah (gosip) itu? Sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Rasul SAW melanjutkan, "Yaitu, menyebut saudaramu dengan apa-apa yang ia tidak suka disebutnya." Lalu, Nabi SAW ditanya, "Bagaimana kalau itu memang sebenarnya ada padanya?" Jawab Nabi SAW, "Kalau memang sebenarnya begitu, itulah yang bernama gosip. Tapi, jikalau menyebut apa-apa yang tidak sebenarnya, berarti kamu telah menuduhnya (fitnah) dengan kebohongan (yang lebih besar dosanya)." (HR Muslim dari Abu Hurairah RA).
Dalam hadis yang lain, diriwayatkan bahwa ada seorang wanita bertubuh pendek yang mendatangi Nabi SAW dan menyampaikan maksudnya. Setelah wanita tersebut keluar, Aisyah berkata, "Alangkah pendeknya dia." Kemudian, Nabi SAW bersabda, "Takutlah akan gosip sebab ada tiga bencana (bagi pelaku gosip), yaitu tidak akan dikabulkan doanya, tidak diterima kebaikannya, dan kejahatan dalam dirinya akan bertumpuk-tumpuk.""Jauhilah olehmu gosip. Sesungguhnya, gosip itu lebih berbahaya dari zina." (HR Ibnu Hibban, Ibnu Abi ad-Dunia, dan Ibnu Mardawaih).
Menyebar gosip merupakan perilaku tercela. Mencari-cari kesalahan orang lain dan menjadikan orang lain sebagai sasaran tertawaan adalah perilaku yang harus dihindari.
Allah berfirman, "Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah satu dari kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang." (QS Alhujurat [49]: 12).
Mengapa demikian? Karena, orang yang dicaci dari belakang dan menjadi objek gosip sama halnya dengan orang mati (mayat), tidak punya kesempatan untuk menjelaskan dan membela diri.
Dalam ilmu sosial, tindakan semacam ini sering dinamakan pembunuhan karakter (character assasination) yang berupa fitnah. Secara tegas, Islam sangat menentang perilaku gosip. "Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya." (QS Al-Isra [17]: 36).
Amat luas dan padat pengajaran untuk menjauhi gosip. Namun, sangat sedikit yang meresapi. Amal kebaikan yang kita lakukan dengan bersusah payah bisa lenyap karena rutinitas gosip (QS Alkahfi [18]: 104). Wallahu a'lam.
HU Republika, Sabtu, 31 Juli 2010
Rasul SAW bersabda, "Tahukah kamu apakah gibah (gosip) itu? Sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Rasul SAW melanjutkan, "Yaitu, menyebut saudaramu dengan apa-apa yang ia tidak suka disebutnya." Lalu, Nabi SAW ditanya, "Bagaimana kalau itu memang sebenarnya ada padanya?" Jawab Nabi SAW, "Kalau memang sebenarnya begitu, itulah yang bernama gosip. Tapi, jikalau menyebut apa-apa yang tidak sebenarnya, berarti kamu telah menuduhnya (fitnah) dengan kebohongan (yang lebih besar dosanya)." (HR Muslim dari Abu Hurairah RA).
Dalam hadis yang lain, diriwayatkan bahwa ada seorang wanita bertubuh pendek yang mendatangi Nabi SAW dan menyampaikan maksudnya. Setelah wanita tersebut keluar, Aisyah berkata, "Alangkah pendeknya dia." Kemudian, Nabi SAW bersabda, "Takutlah akan gosip sebab ada tiga bencana (bagi pelaku gosip), yaitu tidak akan dikabulkan doanya, tidak diterima kebaikannya, dan kejahatan dalam dirinya akan bertumpuk-tumpuk.""Jauhilah olehmu gosip. Sesungguhnya, gosip itu lebih berbahaya dari zina." (HR Ibnu Hibban, Ibnu Abi ad-Dunia, dan Ibnu Mardawaih).
Menyebar gosip merupakan perilaku tercela. Mencari-cari kesalahan orang lain dan menjadikan orang lain sebagai sasaran tertawaan adalah perilaku yang harus dihindari.
Allah berfirman, "Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah satu dari kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang." (QS Alhujurat [49]: 12).
Mengapa demikian? Karena, orang yang dicaci dari belakang dan menjadi objek gosip sama halnya dengan orang mati (mayat), tidak punya kesempatan untuk menjelaskan dan membela diri.
Dalam ilmu sosial, tindakan semacam ini sering dinamakan pembunuhan karakter (character assasination) yang berupa fitnah. Secara tegas, Islam sangat menentang perilaku gosip. "Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya." (QS Al-Isra [17]: 36).
Amat luas dan padat pengajaran untuk menjauhi gosip. Namun, sangat sedikit yang meresapi. Amal kebaikan yang kita lakukan dengan bersusah payah bisa lenyap karena rutinitas gosip (QS Alkahfi [18]: 104). Wallahu a'lam.
HU Republika, Sabtu, 31 Juli 2010
Jumat, 23 Juli 2010
Upah Karyawan
Oleh Imam Nur Suharno
"Bayarlah upah kepada karyawan sebelum kering keringatnya, dan beri tahukan ketentuan gajinya terhadap apa yang dikerjakan." (HR Baihaki).
Islam sangat menolak perilaku eksploitatif terhadap karyawan. Karena itu, membayar upah karyawan tepat waktu termasuk amanah yang harus segera ditunaikan. Besarannya pun harus disesuaikan dengan kebutuhan minimal untuk bisa hidup sejahtera. Itulah makna yang terkandung dalam hadis di atas.
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat." (QS An-Nisa [4]: 58).
Tidak sedikit pengusaha dengan alasan ketidakmampuannya membayar upah karyawan semaunya, padahal keuntungan pengusaha melimpah. Hanya dengan sedikit permainan akuntansi data bisa berubah, seolah perusahaan tidak memiliki keuntungan yang besar, sehingga dapat mengupah karyawan dengan upah yang rendah.
Islam sangat melarang manusia memakan harta dengan cara yang batil. Mengupah karyawan semaunya, padahal sebenarnya perusahaan mampu membayar lebih, ini merupakan kebatilan yang harus ditinggalkan.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu, dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS An-Nisa [4]: 29).
Untuk itu, Didin Hafidhuddin dan Hendri Tanjung dalam bukunya, Sistem Penggajian Islam, menyebutkan, prinsip perhitungan besaran gaji sesuai syariah. Pertama, prinsip adil dan layak dalam penentuan besaran gaji.
Kedua, manajemen perusahaan secara terbuka dan jujur serta memahami kondisi internal dan situasi eksternal kebutuhan karyawan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Ketiga, manajemen perusahaan perlu melakukan perhitungan maksimisasi (maximizing) besaran gaji yang sebanding dengan besaran nisab zakat.
Dan keempat, manajemen perusahaan perlu melakukan revisi perhitungan besaran gaji, baik di saat perusahaan laba maupun rugi, dan mengomunikasikannya kepada karyawan.
Untuk itu, pemilik perusahaan hendaknya menetapkan kebijakan kepada manajemen perusahaan untuk mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas sebagai sebuah tanggung jawabnya terhadap karyawan. Wallahu a'lam.
Hikmah Republika, Sabtu, 17 Juli 2010
"Bayarlah upah kepada karyawan sebelum kering keringatnya, dan beri tahukan ketentuan gajinya terhadap apa yang dikerjakan." (HR Baihaki).
Islam sangat menolak perilaku eksploitatif terhadap karyawan. Karena itu, membayar upah karyawan tepat waktu termasuk amanah yang harus segera ditunaikan. Besarannya pun harus disesuaikan dengan kebutuhan minimal untuk bisa hidup sejahtera. Itulah makna yang terkandung dalam hadis di atas.
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat." (QS An-Nisa [4]: 58).
Tidak sedikit pengusaha dengan alasan ketidakmampuannya membayar upah karyawan semaunya, padahal keuntungan pengusaha melimpah. Hanya dengan sedikit permainan akuntansi data bisa berubah, seolah perusahaan tidak memiliki keuntungan yang besar, sehingga dapat mengupah karyawan dengan upah yang rendah.
Islam sangat melarang manusia memakan harta dengan cara yang batil. Mengupah karyawan semaunya, padahal sebenarnya perusahaan mampu membayar lebih, ini merupakan kebatilan yang harus ditinggalkan.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu, dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS An-Nisa [4]: 29).
Untuk itu, Didin Hafidhuddin dan Hendri Tanjung dalam bukunya, Sistem Penggajian Islam, menyebutkan, prinsip perhitungan besaran gaji sesuai syariah. Pertama, prinsip adil dan layak dalam penentuan besaran gaji.
Kedua, manajemen perusahaan secara terbuka dan jujur serta memahami kondisi internal dan situasi eksternal kebutuhan karyawan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Ketiga, manajemen perusahaan perlu melakukan perhitungan maksimisasi (maximizing) besaran gaji yang sebanding dengan besaran nisab zakat.
Dan keempat, manajemen perusahaan perlu melakukan revisi perhitungan besaran gaji, baik di saat perusahaan laba maupun rugi, dan mengomunikasikannya kepada karyawan.
Untuk itu, pemilik perusahaan hendaknya menetapkan kebijakan kepada manajemen perusahaan untuk mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas sebagai sebuah tanggung jawabnya terhadap karyawan. Wallahu a'lam.
Hikmah Republika, Sabtu, 17 Juli 2010
Senin, 12 Juli 2010
PELESTARIAN LINGKUNGAN DALAM ISLAM
Oleh Imam Nur Suharno SPd MPdI
Direktur Pendidikan Yayasan Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
Keadaan lingkungan, saat ini, sudah sangat merisaukan. Kerusakan itu sudah mengancam kehidupan manusia. Banjir, gempa bumi, tanah longsor, semburan lumpur, dan bencana lainnya, semakin mengancam kehidupan umat manusia. Tentu, peristiwa itu, berimplikasi problem kemanusiaan yang baru yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya.
Kemunculan sejumlah bencana itu, tentu tidak dapat dilepaskan dari pola interaksi manusia dengan lingkungannya. Manusia mengeksploitasi alam secara berlebihan; pohon-pohonan yang merupakan bagian dari ekosistem dibabat tanpa ada reboisasi. Inilah di antara perilaku manusia yang memicu munculnya bencana.
Islam sangat konsen terhadap persoalan lingkungan, karena perbaikan dan pelestarian lingkungan merupakan bagian dari misinya. Artinya, Islam datang untuk menyelamatkan umat manusia dari kesengsaraan dan untuk mewujudkan kesejahteraan.
Bumi dan seisinya sama statusnya dengan manusia yaitu makhluk ciptaan Allah SWT. Alquran menyebutkan, semuanya bertasbih dan sujud kepada-Nya dengan cara dan bentuk yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Bahkan, di dalam Alquran sendiri tidak ada firman tertentu yang menyebutkan bahwa alam harus mengabdi kepada manusia. Sebab alam sebenarnya mengabdi kepada Allah SWT.
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Isra’ [17]: 44).
Ayat di atas menggambarkan pentingnya menjaga dan melestarian lingkungan, sama pentingnya dengan beribadah kepada Allah AWT. Bahkan, menjaga lingkungan dari kerusakan merupakan bagian dari ibadah kepada-Nya.
Banyak nash yang mendorong manusia untuk menghargai atau tidak merusak alam sekitar. Sabda Nabi SAW, “Tidak ada seorang Muslim yang menanam suatu tanaman atau pohon, kemudian burung, manusia, atau hewan yang berkaki empat dapat memakan sesuatu dari pohon yang ditanamnya itu, kecuali baginya hal itu dinilai sebagai sedekah.” (HR Bukhari).
Dalam ekologi Islam, semua ciptaan di semesta alam ini, milik Allah SWT dan bukan milik manusia. Sehingga, jika ada yang berpikiran bahwa binatang dan tumbuhan diciptakan untuk dimiliki manusia, itu tidak benar. Pemikiran bahwa binatang dan tumbuhan itu diciptakan hanya untuk keuntungan semata, mendorong terjadinya perusakan alam dan penggunaan hasil-hasil alam tidak sebagaimana mestinya.
Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat baik kepada alam terutama kepada lingkungan, binatang, maupun tumbuhan. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda siapapun yang berbuat baik kepada alam dengan hati yang tulus akan mendapatkan imbalan berupa pahala.
Pelestarian alam dan lingkungan hidup ini tak terlepas dari peran manusia, sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran Surat Albaqarah [2] ayat 30, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”.
Arti khalifah dalam ayat di atas adalah: seseorang yang diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah, ia berkewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang hubungannya dengan Allah SWT, baik kehidupan masyarakatnya yang harmonis, agama, akal, dan budayanya terpelihara.
Dalam hadits Nabi SAW, tercermin betapa Islam sangat memperhatikan tentang pelestarian lingkungan. Misalnya, hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah berikut ini: “Iman itu ada 60-70 cabang, yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan, dan yang paling tinggi mengucapkan La Ilaaha Illallah.”
Dalam riwayat Ibnu Hibban, disebutkan: “Senyummu dihadapan saudaramu adalah shadaqah. Menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan manusia adalah shadaqah. Petunjukmu kepada seseorang yang tersesat di jalan juga shadaqah.”
Kalimat menyingkirkan duri dari jalan, bila dipahami lebih jauh lagi, sesungguhnya bukanlah sekedar memungut duri yang tergeletak di jalan. Namun, kalimat itu, secara tidak langsung memberi semacam panduan untuk senantiasa menjaga kebersihan, dan mengamankan jalan yang dilalui dari benda yang berbahaya. Bukankah ini salah satu bentuk perhatian pada lingkungan?
Sebagai penutup, ketika umat ini bertakwa dalam arti melaksanakan semua perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya dalam segala hal, termasuk di dalamnya masalah lingkungan, maka Allah SWT menjanjikan kemakmuran.
”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf [7]: 96). Wallahu a’lam.
* Republika, Kabar Jabar, Lenyepaneun, 16/6/2010
Direktur Pendidikan Yayasan Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
Keadaan lingkungan, saat ini, sudah sangat merisaukan. Kerusakan itu sudah mengancam kehidupan manusia. Banjir, gempa bumi, tanah longsor, semburan lumpur, dan bencana lainnya, semakin mengancam kehidupan umat manusia. Tentu, peristiwa itu, berimplikasi problem kemanusiaan yang baru yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya.
Kemunculan sejumlah bencana itu, tentu tidak dapat dilepaskan dari pola interaksi manusia dengan lingkungannya. Manusia mengeksploitasi alam secara berlebihan; pohon-pohonan yang merupakan bagian dari ekosistem dibabat tanpa ada reboisasi. Inilah di antara perilaku manusia yang memicu munculnya bencana.
Islam sangat konsen terhadap persoalan lingkungan, karena perbaikan dan pelestarian lingkungan merupakan bagian dari misinya. Artinya, Islam datang untuk menyelamatkan umat manusia dari kesengsaraan dan untuk mewujudkan kesejahteraan.
Bumi dan seisinya sama statusnya dengan manusia yaitu makhluk ciptaan Allah SWT. Alquran menyebutkan, semuanya bertasbih dan sujud kepada-Nya dengan cara dan bentuk yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Bahkan, di dalam Alquran sendiri tidak ada firman tertentu yang menyebutkan bahwa alam harus mengabdi kepada manusia. Sebab alam sebenarnya mengabdi kepada Allah SWT.
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Isra’ [17]: 44).
Ayat di atas menggambarkan pentingnya menjaga dan melestarian lingkungan, sama pentingnya dengan beribadah kepada Allah AWT. Bahkan, menjaga lingkungan dari kerusakan merupakan bagian dari ibadah kepada-Nya.
Banyak nash yang mendorong manusia untuk menghargai atau tidak merusak alam sekitar. Sabda Nabi SAW, “Tidak ada seorang Muslim yang menanam suatu tanaman atau pohon, kemudian burung, manusia, atau hewan yang berkaki empat dapat memakan sesuatu dari pohon yang ditanamnya itu, kecuali baginya hal itu dinilai sebagai sedekah.” (HR Bukhari).
Dalam ekologi Islam, semua ciptaan di semesta alam ini, milik Allah SWT dan bukan milik manusia. Sehingga, jika ada yang berpikiran bahwa binatang dan tumbuhan diciptakan untuk dimiliki manusia, itu tidak benar. Pemikiran bahwa binatang dan tumbuhan itu diciptakan hanya untuk keuntungan semata, mendorong terjadinya perusakan alam dan penggunaan hasil-hasil alam tidak sebagaimana mestinya.
Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat baik kepada alam terutama kepada lingkungan, binatang, maupun tumbuhan. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda siapapun yang berbuat baik kepada alam dengan hati yang tulus akan mendapatkan imbalan berupa pahala.
Pelestarian alam dan lingkungan hidup ini tak terlepas dari peran manusia, sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran Surat Albaqarah [2] ayat 30, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”.
Arti khalifah dalam ayat di atas adalah: seseorang yang diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah, ia berkewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang hubungannya dengan Allah SWT, baik kehidupan masyarakatnya yang harmonis, agama, akal, dan budayanya terpelihara.
Dalam hadits Nabi SAW, tercermin betapa Islam sangat memperhatikan tentang pelestarian lingkungan. Misalnya, hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah berikut ini: “Iman itu ada 60-70 cabang, yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan, dan yang paling tinggi mengucapkan La Ilaaha Illallah.”
Dalam riwayat Ibnu Hibban, disebutkan: “Senyummu dihadapan saudaramu adalah shadaqah. Menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan manusia adalah shadaqah. Petunjukmu kepada seseorang yang tersesat di jalan juga shadaqah.”
Kalimat menyingkirkan duri dari jalan, bila dipahami lebih jauh lagi, sesungguhnya bukanlah sekedar memungut duri yang tergeletak di jalan. Namun, kalimat itu, secara tidak langsung memberi semacam panduan untuk senantiasa menjaga kebersihan, dan mengamankan jalan yang dilalui dari benda yang berbahaya. Bukankah ini salah satu bentuk perhatian pada lingkungan?
Sebagai penutup, ketika umat ini bertakwa dalam arti melaksanakan semua perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya dalam segala hal, termasuk di dalamnya masalah lingkungan, maka Allah SWT menjanjikan kemakmuran.
”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf [7]: 96). Wallahu a’lam.
* Republika, Kabar Jabar, Lenyepaneun, 16/6/2010
BERHENTI MEMFITNAH
Oleh Imam Nur Suharno MPdI
“Islam sangat mengecam perilaku memfitnah orang lain. Memfitnah itu lebih kejam daripada membunuh. Artinya, berbuat fitnah itu lebih besar dosanya daripada membunuh.” (Q.S. Albaqarah [2]: 217).
Ali bin Abi Thalib r.a pernah menyebut orang yang membiarkan lidahnya bebas tak terkendali dalam menyebarkan keburukan dalam masyarakat adalah pendosa besar. “Orang yang mengatakan sesuatu keburukan dan orang yang membiarkannya adalah sama-sama berdosa.” ujar Khalifah Ali.
Alquran telah memperingatkan akan beratnya siksa bagi orang-orang yang suka memfitnah atas kehormatan seseorang dan mengatakan tentang kesalahan-kesalahan tersembunyi mereka. ”Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (Q.S. Annur [24]: 19).
Pada hakikatnya, kebiasaan memfitnah itu lahir dari rasa dengki, sombong, angkuh, tidak menerima kebenaran, dan menganggap orang lain lebih rendah darinya. Memfitnah adalah tindakan paling kejam sebab bisa berdampak pada kehancuran, kemusnahan, dan permusuhan. Ketika Rasulullah SAW. ditanya sahabatnya, ”Siapakah Muslim yang terbaik itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Seseorang yang selamat dari lidah dan tangannya.” (Muttafaq’alaih).
Untuk itu, Islam memberikan solusi terbaik untuk menghindarkan diri dari perilaku memfitnah.
Pertama, jangan suka menggibah dan mencari-cari kesalahan orang lain. Menyebar gibah dan mencari-cari kesalahan orang lain merupakan perilaku yang sangat dibenci dan harus dihindari.
Allah SWT berfirman, ”Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah satu dari kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Alhujurat [49]: 12).
Kedua, jangan suka memata-matai orang lain. Memata-matai kekurangan orang lain, apalagi untuk disebarluaskan, adalah perilaku yang tidak terpuji. Ia sibuk melihat kekurangan dan kesalahan orang lain, sedangkan kekurangan dirinya sendiri terlupakan. Rasulullah SAW bersabda, ”Jangan suka menyelediki, mematai-matai, dan menjerumuskan orang lain. Jadilah kalian sebagai hamba Allah yang besaudara.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Ketiga, jangan suka menyebarkan kekurangan orang lain. Orang yang gemar membicarakan kekurangan orang lain, sejatinya ia sedang memperlihatkan jati dirinya yang asli. Semakin banyak kekurangan yang ia bicarakan/sebarkan, maka semakin jelas keburukan diri si penyebar.
Kendati mengetahui kekurangan yang ada pada diri orang lain, langkah terbaik kita adalah mengingatkan dan tidak menyebarluaskannya. Saling mengingatkan dan saling mengajak kepada kebenaran. Sabda Rasulullah SAW, ”Barang siapa mengetahui keburukan saudaranya, kemudian ia menutupinya, pada hari kiamat Allah akan menutupi dosanya.” (H.R. Thabrani).
Keempat, jangan suka mencurigai orang lain. Allah SWT berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purbasangka (kecurigaan), karena sebagian dari purbasangka itu dosa.” (Q.S. Alhujurat [49]: 12).
Kelima, tidak merendahkan orang lain. Sebab, bisa jadi orang yang direndahkan lebih baik dan terhormat daripada orang yang merendahkan. Allah SWT berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (Q.S. Alhujurat [49]: 11).
Keenam, membiasakan klarifikasi (tabayun). Allah SWT berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Alhujurat [49]: 6).
Dengan demikian, ”Sungguh, bahagia orang yang dijauhkan dari fitnah. Sungguh, bahagia orang yang dijauhkan dari fitnah. Sungguh, bahagia orang yang dijauhkan dari fitnah dan orang yang dijuji lalu sabar. Sementara itu, kecelakaan berhak dirasakan orang yang berinteraksi dengan fitnah dan berbuat (berusaha mencarinya) di dalamnya.” (H.R. Abu Dawud). Wallahu a’lam.
* Pikiran Rakyat, Renungan Jumat, Jumat, 25/6/2010.
“Islam sangat mengecam perilaku memfitnah orang lain. Memfitnah itu lebih kejam daripada membunuh. Artinya, berbuat fitnah itu lebih besar dosanya daripada membunuh.” (Q.S. Albaqarah [2]: 217).
Ali bin Abi Thalib r.a pernah menyebut orang yang membiarkan lidahnya bebas tak terkendali dalam menyebarkan keburukan dalam masyarakat adalah pendosa besar. “Orang yang mengatakan sesuatu keburukan dan orang yang membiarkannya adalah sama-sama berdosa.” ujar Khalifah Ali.
Alquran telah memperingatkan akan beratnya siksa bagi orang-orang yang suka memfitnah atas kehormatan seseorang dan mengatakan tentang kesalahan-kesalahan tersembunyi mereka. ”Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (Q.S. Annur [24]: 19).
Pada hakikatnya, kebiasaan memfitnah itu lahir dari rasa dengki, sombong, angkuh, tidak menerima kebenaran, dan menganggap orang lain lebih rendah darinya. Memfitnah adalah tindakan paling kejam sebab bisa berdampak pada kehancuran, kemusnahan, dan permusuhan. Ketika Rasulullah SAW. ditanya sahabatnya, ”Siapakah Muslim yang terbaik itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Seseorang yang selamat dari lidah dan tangannya.” (Muttafaq’alaih).
Untuk itu, Islam memberikan solusi terbaik untuk menghindarkan diri dari perilaku memfitnah.
Pertama, jangan suka menggibah dan mencari-cari kesalahan orang lain. Menyebar gibah dan mencari-cari kesalahan orang lain merupakan perilaku yang sangat dibenci dan harus dihindari.
Allah SWT berfirman, ”Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah satu dari kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Alhujurat [49]: 12).
Kedua, jangan suka memata-matai orang lain. Memata-matai kekurangan orang lain, apalagi untuk disebarluaskan, adalah perilaku yang tidak terpuji. Ia sibuk melihat kekurangan dan kesalahan orang lain, sedangkan kekurangan dirinya sendiri terlupakan. Rasulullah SAW bersabda, ”Jangan suka menyelediki, mematai-matai, dan menjerumuskan orang lain. Jadilah kalian sebagai hamba Allah yang besaudara.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Ketiga, jangan suka menyebarkan kekurangan orang lain. Orang yang gemar membicarakan kekurangan orang lain, sejatinya ia sedang memperlihatkan jati dirinya yang asli. Semakin banyak kekurangan yang ia bicarakan/sebarkan, maka semakin jelas keburukan diri si penyebar.
Kendati mengetahui kekurangan yang ada pada diri orang lain, langkah terbaik kita adalah mengingatkan dan tidak menyebarluaskannya. Saling mengingatkan dan saling mengajak kepada kebenaran. Sabda Rasulullah SAW, ”Barang siapa mengetahui keburukan saudaranya, kemudian ia menutupinya, pada hari kiamat Allah akan menutupi dosanya.” (H.R. Thabrani).
Keempat, jangan suka mencurigai orang lain. Allah SWT berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purbasangka (kecurigaan), karena sebagian dari purbasangka itu dosa.” (Q.S. Alhujurat [49]: 12).
Kelima, tidak merendahkan orang lain. Sebab, bisa jadi orang yang direndahkan lebih baik dan terhormat daripada orang yang merendahkan. Allah SWT berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (Q.S. Alhujurat [49]: 11).
Keenam, membiasakan klarifikasi (tabayun). Allah SWT berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Alhujurat [49]: 6).
Dengan demikian, ”Sungguh, bahagia orang yang dijauhkan dari fitnah. Sungguh, bahagia orang yang dijauhkan dari fitnah. Sungguh, bahagia orang yang dijauhkan dari fitnah dan orang yang dijuji lalu sabar. Sementara itu, kecelakaan berhak dirasakan orang yang berinteraksi dengan fitnah dan berbuat (berusaha mencarinya) di dalamnya.” (H.R. Abu Dawud). Wallahu a’lam.
* Pikiran Rakyat, Renungan Jumat, Jumat, 25/6/2010.
Langganan:
Postingan (Atom)