Senin, 22 November 2010

GURU MERUPAKAN AHLI WARIS PARA NABI

Oleh Imam Nur Suharno SPd MPdI
Direktur Pendidikan Yayasan Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

Guru adalah insan yang sangat dihormati dan dimuliakan. Pada suatu hari, Rasulullah SAW keluar dari rumah. Tiba-tiba beliau melihat ada dua majelis yang berbeda. Majelis yang pertama ialah majelis orang-orang ibadah yang sedang berdoa kepada Allah SWT dengan segala kecintaan kepada-Nya, sedangkan majelis yang kedua ialah majelis pendidikan atau pengajaran yang terdiri atas para guru dan sejumlah muridnya.
Melihat dua majelis yang berbeda tersebut, beliau bersabda, ”Adapun mereka dari majelis ibadah, mereka sedang berdoa kepada Allah. Jika mau, Allah menerima doa mereka, dan jika tidak, Allah menolak doa mereka itu. Tetapi, mereka yang termasuk dalam majelis pengajaran, mereka sedang mengajar manusia. Sesungguhnya aku diutus oleh Allah adalah juga menjadi seorang guru.” Kemudian beliau sendiri datang mendekati majelis yang kedua yaitu majelis pendidikan, bahkan beliau ikut duduk bersama mereka mendengar pengajaran yang disampaikan oleh seorang guru. (Khairul Anwar bin Mastor dalam bukunya Personaliti Pelajar Muslim).
Bahkan, Ahmad Syauki, seorang penyair Mesir, pernah menyatakan bahwa guru itu hampir seperti seorang rasul. Mungkin itu terlalu berlebihan. Karena memang pada dasarnya, antara rasul dan guru memiliki tugas dan peranan yang sama yaitu mendidik, mengajar, dan membina umat.
Dalam Alquran Allah SWT menegaskan tugas para rasul, “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Ali Imran [3]: 164).
Dalam ayat tersebut setidaknya ada tiga tugas pokok seorang rasul yang bisa dijadikan pegangan oleh setiap guru, yaitu pertama, membacakan ayat-ayat Allah (at-tilawah); kedua, membersihkan jiwa (at-tazkiyah); dan ketiga, mengajarkan Al-Qur’an (al-kitab) dan sunah (al-hikmah).
Selain sebagai profesi yang mulia, guru juga sebagai arsitek peradaban bangsa. Itu karena maju dan mundurnya tatanan bangsa ke depan akan sangat bergantung pada peran seorang guru dalam menyiapkan calon pemimpin/pengelola bangsa pada masa yang akan datang.
Guru merupakan profesi yang paling mulia, agung dan dihormati. Hal itu karena pertama, guru sebagai ahli waris para nabi. Guru dihormati karena ilmunya, yaitu ilmu yang diwariskan Rasulullah SAW melalui para sahabat, tabi’in, tabi’ut-tabi’in, para ulama dan guru terdahulu. Karena itulah, para guru pantas disebut sebagai ahli waris para nabi. Namun, guru yang tidak mengamalkan dan mengajarkan ilmu sesuai tuntunan Rasulullah SAW bukan ahli waris para nabi. (Fuad Asy-Syalhub dalam bukunya Guruku Muhammad SAW).
Kedua, menjadi guru berarti memiliki peluang mendapatkan amalan yang terus mengalir, yaitu dengan mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada peserta didik. Sabda Nabi SAW, “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang selalu berdoa untuknya.” (H.R. Muslim).
Menurut Syaikh Jamal Abdul Rahman, jika guru mampu mendidik siswa menjadi saleh, maka hal itu masuk ke dalam ketiga kategori amal yang tidak akan putus sebagaimana dalam hadis di atas. Maksudnya, waktu dan tenaga yang disisihkan guru untuk mendidik siswa bisa menjadi sedekah jariyah. Ilmu yang guru sampaikan kepada siswa akan menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan, siswa yang dididik guru akan menjadi anak yang saleh, yang akan mendoakan dirinya, baik ketika guru masih hidup atau sudah meninggal dunia.
Ketiga, guru banyak menciptakan generasi penerus bangsa. Pembangunan pendidikan memiliki peran sangat penting dan strategis dalam pembangunan bangsa, sehingga sejak awal para pendiri bangsa telah menggariskannya dalam salah satu tujuan bernegara di dalam pembukaan UUD 1945, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Bahkan, sebelum bangsa ini merdeka, Ki Hajar Dewantoro sebagai Bapak Pendidikan menyatakan bahwa, melalui pendidikanlah manusia Indonesia bisa jadi maju dan beradab sehingga bisa bergaul, sejajar dan dikenal di antara bangsa-bangsa di dunia.
Keempat, guru adalah profesi yang paling sehat diantara semua profesi yang ada, termasuk pengacara, dokter, pengusaha, dan lainnya. Kesehatan mental guru paling tinggi di antara semua profesi. Peneliti dari South Florida, yang melakukan survei terhadap 180.000 pekerja profesional di seluruh dunia mengatakan, profesi guru lebih dari sekadar pekerjaan, tetapi merupakan sebuah panggilan. Para guru mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang menyenangkan karena langsung berhubungan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.
Karena itu, wajar jika pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan guru. Terbitnya UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menjadi harapan baru bagi profesi pendidik. Dalam UU tersebut disebutkan bahwa guru akan mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik, yaitu pemerintah akan memberikan tunjangan profesi yang setara dengan satu kali gaji pokok.
Oleh karena itu, wahai para guru, “Ajarilah anak didikmu, bukan dalam keadaan yang serupa denganmu. Didiklah dan persiapkanlah mereka untuk suatu zaman yang bukan zamanmu. Mereka akan hidup pada suatu zaman yang bukan zamanmu.” (Ali bin Abi Tahlib). Wallahu a’lam.

* Pikiran Rakyat, Teropong, Senin, 15/11-2010

Sabtu, 02 Oktober 2010

Keutamaan Istighfar

Imam Nur Suharno MPdI

Muhammad Shalih Al-Khuzaim dalam bukunya Shifat Shalat Qiyamullail, menjelaskan bahwa istighfar merupakan penutup amal saleh, penutup shalat, haji, puasa, dan juga penutup majelis. Istighfar berfungsi untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang diperbuat selama melaksanakan ibadah tersebut. Selain itu, istighfar juga sebagai penyebab utama mendapatkan ampunan Allah SWT.

Karena itu, setiap Muslim hendaknya memperbanyak istighfar dalam berbagai kesempatan. Minimal mengucapkan: Astaghfirullah, Rabbighfirli, Allahummaghfirli, dan yang lainnya. Melalui istighfar tersebut seseorang akan memperoleh banyak keutamaan.

Pertama, dihapus kejelekannya dan diangkat derajatnya. "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS An-Nisa' [4]: 110).

Kedua, dilapangkan rezeki, anak, harta, dan penyebab turunnya hujan. "Maka Aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?" (QS Nuh [71]: 10-13).

Ketiga, ditambah kekuatannya. "Dan (dia berkata): 'Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa'." (QS Hud [11]: 52).

Keempat, dilenyapkan dosanya. Setiap dosa meninggalkan noda hitam pada hati. Noda hitam bisa lenyap dengan melakukan istighfar. "Sesungguhnya bila seorang Mukmin melakukan satu dosa, pada hatinya timbul satu noda hitam. Bila dia bertobat, berhenti dari maksiat, dan beristighfar, niscaya mengilap hatinya." (HR Ahmad).

Kelima, dimudahkan segala urusannya. "Barangsiapa membiasakan diri untuk beristighfar, Allah akan memberikan jalan keluar baginya dari setiap kesulitan, akan memberikan kebahagiaan dari setiap kesusahan, dan akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).

Untuk itu, ketahuilah, dalam sebuah atsar disebutkan bahwa, "Sesungguhnya Iblis pernah berkata: 'Aku membinasakan manusia dengan dosa, dan mereka membinasakanku dengan La Ilaha Illallah dan istighfar'." Wallahu a'lam.

Rahasia Zakat

Oleh Imam Nur Suharno
"Ambillah zakat dari sebagianharta mereka, dengan zakat itukamu membersihkan dan menyu-cikan mereka dan mendoalah untukmereka." (At-Taubah [9] 103). Zakat merupakan rukun Islam yang bercorak sosial-ekonomi. Selain itu, zakat merupakan pokok ajaran Islam sebagaimana sya-hadat, shalat, puasa, dan haji. . Zakat juga merupakan ibadah berdimensi vertikal (hablum minallah) dan sekaligus horizontal (hablum minnas).

Zakat adalah kewajiban bagi setiap Muslim dalam bentuk mengeluarkan harta bagi orang-orang yang telah memenuhi batas minimal harta (nishab) dan telah sampai pada batas kepemilikannya (haul) untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya (mustahik). Untuk mendorong kesadaran zakat, seseorang harus mengetahui rahasia di balik kewajiban zakat tersebut. Pertama, zakat membersihkan jiwa dari sifat kikir. Kikir adalah tabiat manusia (Al-Maarij [70] 19), yang harus diuji. Kikir merupakan salah satu sifat yang dapat merusak kehidupan manusia. "Tiga hal yang akan merusak manusia kikir yang dituruti,hawa nafsu yang diikuti, dan manusia memandang hebat akan dirinya." (HR Thabrani).

Kedua, mengobati hati dari cinta dunia. Terlalu larut dalam kecintaan dunia, dapat memalingkan jiwa dari kecintaan kepada Allah SWT dan takut akan akhirat. Zakat akan melatih seseorang mau untuk menandingi fitnah harta dan berinfak dengannya semata karena Allah SWT. Ketiga, mengembangkan kekayaan batin. Seseorang yang mengeluarkan zakat akan menumbuhkan semangat optimistis dan menambah kekayaan jiwa. Dengan zakat berarti seseorang telah mampu mene-kan sifat egoismenya.

Keempat, mengembangkan harta. Secara lahiriah, zakat mengurangi harta dengan mengeluarkan sebagiannya. Tetapi, orang yang mengerti tentang zakat akan memahami bahwa di balik pengurangan bersifat zahir, hakikatnya akan bertambah dan berkembang. Sesungguhnya harta yang diberikan itu akan kembali berlipat ganda. (QS Arrum [30) 39).

Kelima, menarik simpati masyarakat. Zakat dapat mengikat antaia orang kaya dan masyarakatnya, dengan ikatan yang kuat, penuh kecintaan, persaudaraan, dan tolong-meno-long. Apabila manusia mengetahui ada orang yang memberikan kebaikan, maka secara naluriah mereka akan senang, dan jiwa mereka pasti akan tertarik kepadanya. "Secara otomatis hati akan tertarik untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan membenci orang yang berbuat jahat kepadanya." (HR Ibnu Adi).
Untuk itu, kini saatnya umat Islam memberdayakan potensi zakat, terutama zakat mal, agar kehidupan bermasyarakat semakin baik guna mengurangi kesenjangan hidup antara si kaya dan si miskin. Wallahu alam

Jumat, 01 Oktober 2010

Rahasia Tidur

HU Republika Selasa, 28 September 2010


Oleh Imam Nur Suharno

Tidur merupakan salah satu nikmat Allah SWT yang tak terhingga nilainya karena di dalamnya terdapat tanda-tanda kekuasaan dan keagungan-Nya. "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan." (QS Ar-Rum [30]: 23).

Menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, tidur adalah suatu kondisi yang ditandai meresapnya suhu insting dan kekuatan jiwa dalam tubuh untuk mencari ketenangan (istirahat). Ada empat macam jenis tidur. Pertama, tidur yang alami, yaitu tidur pada malam hari. "Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan." (QS An-Naba' [78]: 9-11).

Allah SWT menggambarkan suasana malam disamakan dengan pakaian karena malam itu gelap menutupi jagat, seperti pakaian menutupi tubuh. Sedangkan siang dijadikan untuk mencari penghidupan karena dengan suasana siang yang cerah dan terang itu, manusia dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kedua, tidur yang buruk, yaitu tidur pada pagi hari. Tidur pagi dapat menghalangi datangnya rezeki karena pagi hari merupakan saat yang baik untuk memulai akitivitas. Rasulullah SAW bersabda, "Tidur di waktu pagi itu dapat mencegah datangnya rezeki." (HR Ahmad).

Ketiga, tidur yang paling buruk, yaitu tidur pada sore hari. Tidur sore membuat tubuh menjadi lemah, kepala pusing, dan dapat mengakibatkan stres. Dalam sebuah penelitian disebutkan, tidur sore berimplikasi buruk pada pertumbuhan mental anak. Bahkan, dapat menyebabkan kegilaan atau stres.

Keempat, tidur Qailulah, yaitu tidur sejenak pada siang/tengah hari. Qailulah ini sangat membantu bangun malam untuk qiyamullail. Rasulullah SAW bersabda, "Lakukanlah qailulah agar bisa membantumu bangun malam." (HR Ibnu Majah, Hakim, dan Thabrani).

Yang pasti, tidur adalah suatu proses ketika Allah SWT menahan roh atau jiwa. Jika berkehendak, Allah akan mengembalikannya pada jasad. Namun, jika tidak, akan terjadi kematian. Allah SWT berfirman, "Allah memegang jiwa orang ketika matinya dan memegang jiwa orang yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir." (QS Az-Zumar [39]: 42).

Karena itu, Rasulullah SAW memberikan tuntunan kepada setiap Muslim agar menjelang tidur senantiasa berdoa. "Bismika Allahumma ahya wa amut (Dengan kekuasaan-Mu ya Allah aku hidup dan aku mati)."

Dan, ketika bangun tidur, dianjurkan untuk berdoa pula. "Alhamdulillahilladzi ahyana ba'da ma amatana wa ilaihin nusyur (Segala puji milik Allah yang telah memberikan kehidupan kembali setelah mematikan dan kepada-Nya aku kembali)." Wallahu A'lam.

Sabtu, 21 Agustus 2010

Ramadhan, Tanpa Situs Porno

Oleh Imam Nur Suharno SPd ,MPd
BULAN Ramadhan (Puasa) adalah bulan yang selalu dinanti kehadirannya, sebab pada bulan Ramadhan, Allah SWT memanjakan hamba-Nya dengan berbagai kebajikan yang pahalanya dilipatgandakan, sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Nabi SAW menegaskan dalam sabdanya, Semua amalan anak Adam akan dilipatgandakan (balasannya): satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman, Kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku, dan Aku yang langsung membalasnya. Hamba-Ku telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku. (H.R. Muslim).

Untuk menjaga kekhusuan dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, pemerintah berencana memblokir peredaran situs kemaksiatan di dunia maya. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Tifatul Sembiring, menegaskan, situs atau laman porno atau berbau kemaksiatan akan diblokir dengan tegas sebelum bulan suci Ramadhan tiba. Komitmen itu agar pelaksanaan bulan suci di negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia ini tidak dinistakan oleh aktivitas pornografi di dunia maya. (Republika, 23/7/2010).

Pemblokiran laman porno merupakan amanat Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), pemerintah hanya bertugas menjalankan apa yang telah diatur dalam UU tersebut, tegas Tifatul Sembiring, petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Islam telah memberikan solusi terbaik untuk memblokir berbagai bentuk kemungkaran, termasuk memblokir penyebaran situs porno yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat.Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa melihat kemungkaran, hendaklah merubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu tingkatan iman yang paling lemah. (HR Muslim).

Dalam hadis di atas, Rasulullah SAW memberikan solusi memblokir kemungkaran. Pertama, memblokir kemungkaran dengan tangan. Dalam kitab Al-Wafi fi Syarhil Arbain An-Nawawiyah dijelaskan, bahwa hukumnya fardhu ain menghentikan kemungkaran berlaku bagi seseorang yang mengetahuinya, dan ia mampu untuk menghentikannya. Atau, jika yang mengetahui kemungkaran itu masyarakat banyak, namun hanya satu orang yang mampu menghentikannya, maka hukum menghentikan kemungkaran itu fardhu ain bagi orang tersebut.
Namun, jika menghentikan kemungkaran dengan tangan itu akan lebih efektif bila diperankan oleh penegak hukum, maka menghentikan kemungkaran itu menjadi fardhu ain bagi penegak hukum. Artinya, jika penegak hukum tidak serius menghentikan kemungkaran tersebut, apalagi malah melindunginya (naudzubillah), maka penegak hukum berdosa. Untuk diketahui, dosa dapat menghalangi seseorang masuk surga di akhirat kelak.

Kedua, memblokir kemungkaran dengan lisan. Jika suatu kemungkaran diketahui oleh lebih dari satu orang, maka kewajiban menghentikan kemungkaran itu menjadi fardhu kifayah. Artinya, jika sebagian mereka telah menunaikan kewajiban itu, maka kewajiban itu menjadi gugur bagi yang lainnya. Dan, bila sebagian orang tersebut tidak mampu menghentikan, maka mereka berkewajiban melaporkannya pada penegak hukum. Dengan demikian, menghentikan kemungkaran bagi penegak hukum menjadi fardhu ain.

Oleh karena itu, Allah SWT menegaskan, Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran [3]: 104).

Ketiga, memblokir kemungkaran dengan hati. Dan ini merupakan tingkatan iman yang paling rendah (adhafu al-iman). Oleh karena itu, mengingkari setiap kemungkaran melalui hati merupakan kewajiban bagi setiap orang yang mengetahuinya. Dan, jika ia tidak mengingkarinya, maka pertanda hilangnya iman dari hati.

Sahabat Ali RA pernah berkata, Jihad yang menjadi kunci pertama kemenangan kalian adalah jihad dengan tangan, lalu dengan lisan, lalu dengan hati. Barangsiapa yang tidak mengetahui yang baik, dan tidak mengingkari dengan hatinya kemungkaran yang terjadi, maka ia akan kalah. Sehingga, kondisi pun berbalik, yang di atas menjadi di bawah.

Untuk itu, menghentikan berbagai bentuk kemungkaran, termasuk tayangan situs asusila menjadi kewajiban bersama. Dengan kebersamaan, kemungkaran akan dapat dikendalikan. Sebab, kemungkaran yang terorganisir secara rapi dan profesional akan mampu mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir. Wallahu alam. (Penulis adalah Direktur Pendidikan Husnul Khotimah dan Dewan Pakar DPD Persaudaraan Guru Sejahtera Indonesia, Kuningan, Jawa Barat)



HU Pelita 19 Agustus 2010

Kamis, 12 Agustus 2010

TADARUS ALQURAN

Oleh Imam Nur Suharno

Ramadan, bulan yang selalu dirindukan kehadirannya oleh setiap Muslim. Bulan yang sangat sarat dengan amal kebajikan dan pahala yang melimpah. Bahkan, ada yang menyebutnya sebagai bulan panen raya. Pada bulan ini, segala amal kebajikan pahalanya dilipatgandakan, sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Sabda Nabi saw., "Semua amalan anak Adam akan dilipatgandakan (balasannya): satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat". Allah berfirman,"Kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku, dan Aku yang langsung membalasnya. Hamba-Ku telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku". (H.R. Muslim).

Di antara amal kebajikan yang sangat dianjurkan dilakukan di bulan Ramadan adalah tadarus Alquran. Tadarus Alquran berarti membaca, merenungkan, menelaah, dan memahami wahyu-wahyu Allah SWT yang turun pertama kali pada malam bulan Ramadan (Q.S. Albaqarah [2]: 185). Dengan tadarus Alquran, kandungan hikmah yang termuat dan terkumpul di dalam Alquran dapat menjadi kompas penunjuk jalan menuju kebenaran.

Malaikat Jibril menyimak tadarus Alquran Rasulullah setiap bulan Ramadan. Utsman bin Affan biasa mengkhatamkan tadarus Alquran setiap hari sekali. Imam Syafii mengkhatamkan tadarus Alquran sebanyak enam puluh kali di bulan Ramadan, Al-Aswad setiap dua hari sekali, Qatadah setiap tiga hari sekali, serta tiap malam pada sepuluh malam akhir bulan Ramadan. Subhanallah.

Terkait larangan Nabi saw. mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari, Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, "Sesungguhnya larangan dari Nabi saw. untuk mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari berlaku jika dilakukan secara rutin. Adapun untuk waktu-waktu yang utama, seperti bulan Ramadan, lebih-lebih pada malam-malam Lailatulkadar, atau di tempat-tempat yang dimuliakan, seperti di Mekah bagi orang yang memasukinya, selain penduduknya, adalah disunahkan untuk memperbanyak tadarus Alquran. Hal itu dalam rangka mencari keutamaan waktu dan tempat tersebut. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishak, dan yang lainnya". (Raghib As-Sirjani dan Muhammad Al-Muqaddam dalam bukunya Madrasah Ramadhan).

Alquran disebut sebagai "Ma`dubatullah" (hidangan Allah SWT), sebagaimana sabda Rasulullah saw., "Sesungguhnya Alquran ini adalah hidangan Allah, maka kalian terimalah hidangan-Nya itu semampu kalian". (H.R. Hakim).

Sungguh, Alquran merupakan suatu hidangan yang tidak pernah membosankan. Semakin dinikmati, semakin bertambah pula nikmatnya. Oleh karena itu, setiap orang yang mempercayai Alquran akan semakin bertambah cinta kepadanya, cinta untuk membacanya, mempelajarinya, menghafalkannya, memahaminya, mengamalkannya, dan mengajarkannya

Tidak heran, jika Rasulullah saw. menganjurkan umatnya untuk senantiasa bertadarus Alquran. Ada banyak keutamaan dalam tadarus Alquran. Pertama, menjadi sebaik-baiknya manusia. Tidak ada manusia yang lebih baik daripada orang yang mau belajar dan mengajarkan Alquran. Oleh karena itu, profesi pengajar Alquran - jika dimasukkan sebagai profesi - adalah profesi terbaik di antara sekian banyak profesi. Sabda Nabi saw., "Sebaik-baik kamu sekalian adalah yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya". (H.R. Bukhari).

Kedua, memperoleh kebaikan berlipat. Sabda Nabi saw., "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Saya tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf". (H.R. Tirmidzi).

Ketiga, memberi syafaat di hari kiamat. Sabda Nabi saw., "Bacalah olehmu Alquran karena sesungguhnya Alquran itu akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya". (H.R. Muslim).

Keempat, dikumpulkan di surga bersama para Malaikat. Sabda Nabi saw., "Orang yang mahir membaca Alquran kelak (mendapat tempat di surga) bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Sementara orang yang kesulitan dan berat jika membaca Alquran, maka ia mendapatkan dua pahala". (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kelima, mengangkat derajat. Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan Alkitab (Alquran), dan Ia akan merendahkan derajat suatu kaum yang lain dengannya". (H.R. Muslim).

Keenam, menjadi pembeda. Sabda Nabi saw., "Perumpamaan orang mukmin yang membaca Alquran seperti buah limau yang harum baunya dan lezat rasanya. Perumpamaan orang mukmin yang tidak suka membaca Alquran seperti buah kurma yang tidak berbau, tetapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Alquran seperti buah yang harum baunya, tetapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Alquran seperti buah handhalah yang tidak ada baunya dan rasanya pahit." (H.R. Bukhari dan Muslim).

Tadarus Alquran merupakan amalan mulia yang dianjurkan Nabi saw., terutama pada bulan Ramadan. Untuk itu, jangan biarkan bulan Ramadan kali ini berlalu tanpa tadarus Alquran. Wallahualam.***

Penulis, pengurus MUI Maniskidul dan Korps Mubaligh Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat



RENUNGAN JUM'AT PR EDISI 3 RAMADHAN 1431 H

Kamis, 05 Agustus 2010

Pesantren dan Pendidikan Moral Bangsa

Oleh Imam Nur Suharno, SPd, MPdI

ADA beberapa indikator yang digunakan untuk melihat kualitas moral kehidupan suatu bangsa. Menurut Thomas Lickona (1992) terdapat sepuluh tanda dari perilaku manusia yang menunjukkan arah kehancuran suatu bangsa.
Pertama, meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. Kedua, ketidakjujuran yang membudaya. Ketiga, semakin tingginya rasa tidak hormat kepada orang tua, guru, dan figur pemimpin. Keempat, pengaruh per group terhadap tindakan kekerasan. Kelima, meningkatnya kecurigaan dan kebencian.
Keenam, penggunaan bahasa yang memburuk. Ketujuh, penurunan etos kerja. Kedelapan, menurunnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara. Kesembilan, meningginya perilaku merusak diri. Dan Kesepuluh, semakin kaburnya pedoman moral.
Dekadensi moral di era globalisasi dewasa ini, bila melihat apa yang disampaikan oleh Thomas Lickona tentang ciri penurunan moral, sangat mengkhawatirkan. Maka itu, agar masyarakat dapat terjaga dari serangan budaya yang tidak sesuai dengan norma agama dan moral bangsa, posisi pendidikan agama dan moral menjadi semakin penting.
Para tokoh agama pun sangat mendorong peningkatan pendidikan moral dan etika bagi masyarakat. Hal ini merespons beredarnya rekaman video mesum artis yang mirip Ariel, vokalis Peterpan dan artis Cut Tari serta Luna Maya akhir-akhir ini.
Untuk itu, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Syuhada Bahri, menegaskan, pembangunan mental akan membuat seseorang memiliki kesadaran akan kehadiran Tuhan. Jika kesadaran ini telah melekat maka siapa pun, terlepas dari agama yang mereka anut, akan merasa Tuhan selalu mengawasinya dan tak akan membuatnya berbuat asusila (Republika, 11/6).
Berbicara tentang pendidikan agama dan moral, maka tak bisa dilepaskan dengan sistem pendidikan di pesantren. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, yang memiliki andil besar dalam membangun bangsa ini.
Sejarah telah membuktikan, betapa besar arti pentingnya pesantren dalam rentang perjalanan bangsa Indonesia pada zaman penjajahan. Pesantren telah melakukan kegiatan yang pada hakikatnya terpusat pada pengembangan sumber daya manusia, yang kemudian amat berperan pada pergerakan perjuangan untuk merebut kemerdekaan.
Sesuai dengan pendapat Wardiman Djojonegoro (1994) yang menyatakan bahwa pesantren telah membuktikan peranannya sebagai salah satu komponen bangsa dalam usaha menyediakan manusia Indonesia yang dibutuhkan pada era pra kemerdekaan. Sejarah juga menunjukkan banyak tokoh nasional dan internasional yang lahir dari lingkungan pesantren.
Hal ini dipertegas oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj, Selama ini, pesantren telah sangat berjasa membangun fondasi agama dan mendidik bangsa. (Republika, 5/5).
Di antara tokoh bangsa yang lahir dari perut pesantren adalah: (1) KH Sahal Mahfudz. Beliau menempuh pendidikan selain mengaji kepada orangtuanya sendiri juga di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Tsanawiyah, kemudian melanjutkan studi di Pesantren Bendo, Kediri dan Pesantren Sarang, Rembang. Sejumlah kursus pun pernah diikutinya, antara lain: kursus Bahasa Inggris, Administrasi, Manajemen, dan lain-lain.
(2) KH Hasyim Muzadi. Menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo, kemudian melanjutkan di IAIN Sunan Ampel, Malang, dan juga sempat nyantri di Pesantren Al-Anwar dan berguru langsung dari KH Abdullah Faqih dari Langitan, dan (alm) KH Anwar dari Bululawang, Malang.
(3) Prof DR A Mukti Ali. Alumni dari Pesantren Termas, Kediri, Pesantren Lasem dan Pandangan, Jawa Timur. Pernah nyantri di Pesantren Tarekat, Pandangan, Tuban. Kemudian melanjutkan di Sekolah Tinggi Islam (STI), Yogyakarta yang kemudian berubah menjadi UII.
Pernah belajar di Mekkah dan Madinah, kemudian melanjutkan di program Phd di Universitas Karachi, dan kemudian ia meneruskan studi di Institut of Islamic Studies, Me Gill University, Montreal, Kanada.
(4) Prof DR Ahmad Syafii Maarif. Beliau menempuh pendidikan di Madrasah Muallimin Muhammadiyah, Yogyakarta. Kemudian melanjutkan di Universitas Cokroaminoto, Surakarta dan IKIP Yogyakarta. Studi di Universitas Illinois Utara, mendapat gelar MA dalam bidang Ilmu Sejarah dari Universitas Ohio, AS, dan gelar Phd dalam bidang Ilmu Sejarah dari Universitas Chicago.
(5) DR HM Hidayat Nur Wahid MA. Setamat dari sekolah dasar negeri (SDN) di desanya, beliau melanjutkan study di Pondok Pesantren Ngabar, Ponorogo, Jawa Timur. Kemudian melanjutkan di Pondok Pesantren Modern Darussalam, Gontor; IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta; dan Universitas Islam Madinah, Arab Saudi (S1, S2, S3).
Kemudian, seperti Agus Salim, HOS Cokroaminoto, Kahar Muzakir, Ahmad Dahlan, Abdurrahman Wahid, Amin Rais, Din Syamsuddin, M Maftuh Basyuni, Mahfud MD, Jimly Assiddiqie, dan masih banyak lagi tokoh bangsa yang lahir dari proses pendidikan pesantren yang tidak cukup untuk disebutkan di sini.
Hal ini membuktikan bahwa pesantren mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas, berpengetahuan luas, berpikiran maju, berwawasan kebangsaan yang kuat, yang dibingkai dengan keimanan dan ketakwaan, sebagai motivasi utamanya. Karena itu, keberadaan pesantren memang sangat dibutuhkan, guna membenahi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan demikian, keberadaan pesantren tidak bisa dilihat sebelah mata. Oleh karena itu, pemerintah hendaknya memberikan perhatian terhadap pengembangan dan pemberdayaan pesantren guna membangun budaya bangsa yang santun, cinta damai, ramah, religius, dan jauh dari praktek-praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme, ataupun budaya makelar kasus (markus). Wallahu alam. (Penulis adalah Direktur Pendidikan Yayasan Husnul Khotimah dan Dewan Pakar DPD Persaudaraan Guru Sejahtera Indonesia/PGSI, Kuningan, Jawa Barat).


Opini HU Pelita, 28 Juli 2010