Oleh Imam Nur Suharno
Dikisahkan bahwa malaikat maut (Izrail) bersahabat dengan Nabi Ya'kub AS. Suatu ketika Nabi Ya'kub berkata kepada malaikat maut. "Aku menginginkan sesuatu yang harus kamu penuhi sebagai tanda persaudaraan kita."
"Apakah itu?" tanya malaikat maut. "Jika ajalku telah dekat, beri tahu aku." Malaikat maut berkata, "Baik aku akan memenuhi permintaanmu, aku tidak hanya akan mengirim satu utusanku, namun aku akan mengirim dua atau tiga utusanku." Setelah mereka bersepakat, mereka kemudian berpisah.
Setelah beberapa lama, malaikat maut kembali menemui Nabi Ya'kub. Kemudian, Nabi Ya'kub bertanya, "Wahai sahabatku, apakah engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?"
"Aku datang untuk mencabut nyawamu." Jawab malaikat maut. "Lalu, mana ketiga utusanmu?" tanya Nabi Ya'kub. "Sudah kukirim." Jawab malaikat, "Putihnya rambutmu setelah hitamnya, lemahnya tubuhmu setelah kekarnya, dan bungkuknya badanmu setelah tegapnya. Wahai Ya'kub, itulah utusanku untuk setiap bani Adam.
Kisah tersebut di atas mengingatkan tentang tiga tanda kematian yang akan selalu menemui kita, yaitu memutihnya rambut; melemahnya fisik, dan bungkuknya badan. Jika ketiga atau salah satunya sudah ada pada diri kita, itu berarti malaikat maut telah mengirimkan utusannya. Karena itu, setiap Muslim hendaknya senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadapi utusan tersebut.
Kematian adalah kepastian yang akan dialami oleh setiap manusia sebagaimana yang telah ditegaskan dalam firman Allah SWT, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati." (QS Ali Imran [3]: 185).
Karena itu, kita berharap agar saat menghadapi kematian dalam keadaan tunduk dan patuh kepada-Nya. "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS Ali Imran [3]: 102).
Tidaklah terlalu penting kita akan mati, tapi yang terpenting adalah sejauh mana persiapan menghadapi kematian itu. Rasulullah SAW mengingatkan agar kita bersegera untuk menyiapkan bekal dengan beramal saleh. "Bersegeralah kamu beramal sebelum datang tujuh perkara: kemiskinan yang memperdaya, kekayaan yang menyombongkan, sakit yang memayahkan, tua yang melemahkan, kematian yang memutuskan, dajjal yang menyesatkan, dan kiamat yang sangat berat dan menyusahkan." (HR Tirmidzi).
Bekal adalah suatu persiapan, tanpa persiapan tentu akan kesulitan dalam mengarungi perjalanan yang panjang dan melelahkan. Oleh karena itu, "Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS Al-Baqarah [2]: 197).
Teruntuk Ibu Hasri Ainun Habibie. Selamat Jalan, Ibu ….
Hikmah Republika (Rabu, 26 Mei 2010)
Rabu, 26 Mei 2010
Kamis, 20 Mei 2010
Meraih Hidup Sukses
Oleh Imam Nur Suharno
Setiap manusia mendambakan hidup sukses. Hidup mapan tidak akan datang tiba-tiba. Tetapi, melalui proses panjang sebagai upaya mencapai tingkat hidup lebih baik dan mampu menciptakan suasana penuh damai, tenang, bahagia, menepis kegalauan, dan bayangan buruk dalam kehidupan.
Islam telah memberikan tuntunan dalam upaya meraih kesuksesan hidup tersebut. Pertama, dengan beriman dan beramal saleh. Allah SWT berfirman, Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS An-Nahl [16]: 97).
Kedua, ridha terhadap takdir Allah. Kesuksesan dapat diraih oleh mereka yang beriman kepada Allah SWT. Sedangkan, meyakini ketentuan dan kekuasaan (qadha dan qadar) Allah adalah bagian dari iman kepada-Nya. Dan, ridha itu adalah bagian dari iman pada qadha dan qadar-Nya.
Oleh karena itu, manusia wajib berhati-hati terhadap buaian angan dan dampak buruk yang ditimbulkan. Dan, jika ia berkeluh kesah dengan ketentuan-Nya, pasti akan celaka. Sabda Nabi SAW, Sesungguhnya Allah berfirman; 'Barangsiapa yang tidak ridha dengan qadha dan qadar-Ku dan tidak sabar terhadap bencana yang Aku timpakan atasnya, maka sebaiknya ia mencari tuhan selain Aku. (HR Thabrani).
Ketiga, tawakal kepada Allah SWT. Maka itu, seorang Mukmin tidak boleh terlena oleh segala macam angan-angan dan bujuk rayu dunia. Ia harus yakin kepada Allah SWT dan berharap anugerah-Nya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. (QS At-Thalaq [65]: 3).
Keempat, selalu mengingat Allah SWT. Mereka yang senantiasa mengingat Allah, niscaya hatinya akan terasa damai, dan lebih dari itu hidupnya akan lebih baik, serta keresahan dan guncangan dalam hatinya akan terempaskan karena adanya cahaya Ilahi. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. (QS Ar-Ra'du [13]: 28-29).
Kelima, menyusun perencanaan ke depan. Yaitu, dengan memberikan perhatian terhadap pekerjaan hari ini dan tidak berlarut dalam keluh kesah dengan kenyataan masa lalu. Oleh karena itu, Nabi SAW selalu memohon perlindungan dari sifat keluh kesah.
Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh dan kesah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat tak berdaya dan malas. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari banyaknya utang dan penindasan orang lain. (HR Bukhari).
Setiap Muslim yang ingin hidup sukses, hendaknya selalu menanamkan paradigma berpikir sukses sehingga dapat meraih kesuksesan di dunia dan akhirat kelak. Amin. Wa Allahu A'lam.
Harian Republika Kolom HIkmah Kamis, 20 Mei 2010
Setiap manusia mendambakan hidup sukses. Hidup mapan tidak akan datang tiba-tiba. Tetapi, melalui proses panjang sebagai upaya mencapai tingkat hidup lebih baik dan mampu menciptakan suasana penuh damai, tenang, bahagia, menepis kegalauan, dan bayangan buruk dalam kehidupan.
Islam telah memberikan tuntunan dalam upaya meraih kesuksesan hidup tersebut. Pertama, dengan beriman dan beramal saleh. Allah SWT berfirman, Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS An-Nahl [16]: 97).
Kedua, ridha terhadap takdir Allah. Kesuksesan dapat diraih oleh mereka yang beriman kepada Allah SWT. Sedangkan, meyakini ketentuan dan kekuasaan (qadha dan qadar) Allah adalah bagian dari iman kepada-Nya. Dan, ridha itu adalah bagian dari iman pada qadha dan qadar-Nya.
Oleh karena itu, manusia wajib berhati-hati terhadap buaian angan dan dampak buruk yang ditimbulkan. Dan, jika ia berkeluh kesah dengan ketentuan-Nya, pasti akan celaka. Sabda Nabi SAW, Sesungguhnya Allah berfirman; 'Barangsiapa yang tidak ridha dengan qadha dan qadar-Ku dan tidak sabar terhadap bencana yang Aku timpakan atasnya, maka sebaiknya ia mencari tuhan selain Aku. (HR Thabrani).
Ketiga, tawakal kepada Allah SWT. Maka itu, seorang Mukmin tidak boleh terlena oleh segala macam angan-angan dan bujuk rayu dunia. Ia harus yakin kepada Allah SWT dan berharap anugerah-Nya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. (QS At-Thalaq [65]: 3).
Keempat, selalu mengingat Allah SWT. Mereka yang senantiasa mengingat Allah, niscaya hatinya akan terasa damai, dan lebih dari itu hidupnya akan lebih baik, serta keresahan dan guncangan dalam hatinya akan terempaskan karena adanya cahaya Ilahi. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. (QS Ar-Ra'du [13]: 28-29).
Kelima, menyusun perencanaan ke depan. Yaitu, dengan memberikan perhatian terhadap pekerjaan hari ini dan tidak berlarut dalam keluh kesah dengan kenyataan masa lalu. Oleh karena itu, Nabi SAW selalu memohon perlindungan dari sifat keluh kesah.
Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh dan kesah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat tak berdaya dan malas. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari banyaknya utang dan penindasan orang lain. (HR Bukhari).
Setiap Muslim yang ingin hidup sukses, hendaknya selalu menanamkan paradigma berpikir sukses sehingga dapat meraih kesuksesan di dunia dan akhirat kelak. Amin. Wa Allahu A'lam.
Harian Republika Kolom HIkmah Kamis, 20 Mei 2010
Jumat, 07 Mei 2010
PILAR-PILAR KESUKSESAN GURU
Oleh Imam Nur Suharno SPd MPdI
Dalam mutiara hikmah dikatakan, ”Aththoriqotu ahammu minal maddah, wal ustadz ahammu minaththoriqoh, wa ruhul ustadz ahammu min kulli syaiin.” (Metode lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode, dan ruh (semangat) guru lebih penting dari semua itu). Sebab, dengan ruh tersebut guru mampu menghidupkan suasana pembelajaran yang menyenangkan dengan sentuhan kasih, sayang, dan cintanya pada anak didik.
Guru sebagai pendidik merupakan gerbang awal dalam pembentukan kepribadian siswa. Hal ini mengandung makna bahwa guru memberikan pengaruh yang cukup bermakna bagi terwujudnya manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia. Guru merupakan orang yang ditangannya terletak masa depan bangsa. Guru tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didik, tetapi guru adalah arsitek peradaban. Karena itu, maju mundurnya sebuah bangsa ke depan berada di genggaman guru.
Berkaitan dengan peran guru dalam membentuk kepribadian siswa, Mahmud Samir al-Munir dalam kitabnya, Al-Mu’allimur Rabbani, menyebutkan tujuh pilar kesuksesan seorang guru. Pertama, semangat yang terkontrol. Seorang guru mesti menjadi orang yang ulet, telaten, peduli, dan memiliki tekad yang memadai. Sebab, peserta didik memerlukan hal baru, tambahan informasi, perhatian, dan didikan yang baik darinya.
Kedua, ilmu yang terus berkembang. Seorang guru yang sukses harus mempunyai dua kelebihan, yakni kelebihan horizontal (pengetahuan luas) dan vertikal (menguasai bidangnya secara mendalam). Guru yang tidak atau jarang membaca lambat laun akan kering wawasannya seiring permasalahan yang muncul. Karena itu, guru jangan sampai meninggalkan aktivitas membaca. Guru juga hendaknya mempunyai perpustakaan sendiri walaupun sederhana.
Ketiga, perencanaan yang rapi. Guru hendaknya memiliki perencanaan pendidikan yang matang, tertulis dan tersusun rapi. Perencanaan itu mesti dalam jangka waktu tertentu, terukur, dan realistis agar tujuan pendidikan bisa tercapai. Penulis menyebutnya dengan istilah ‘TUKER-KERIS’ (TUlis apa yang anda KERjakan, dan KERjakan apa yang anda tulIS.
Keempat, variasi kecerdasan. Guru itu seperti sungai, ia memberi minum kepada orang-orang yang kehausan, mengalir deras ke setiap lembah, mengubah tandusnya akal menjadi pengetahuan yang berbunga di lembah pengetahuan yang beraneka ragam.
Oleh karena itu, guru harus menjadi bapak bagi siswanya dalam ikatan batin, menjadi syekh dalam pendidikan rohani, menjadi pendidik dalam penyampaian ilmu, menjadi teman dalam penyampaian curhat, dan menjadi pemimpin dalam keteladanan.
Kelima, kepemimpinan yang bijaksana. Tidak cukup seorang guru hanya menyampaikan materi pelajaran tanpa memenuhi pendidikan yang sesunggunya, yang bertujuan menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak didik. Disamping transformasi ilmu pengetahuan, guru juga harus mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Keenam, menjaga celah. Guru adalah arsitek peradaban. Masa depan anak didik adalah amanah di pundak guru. Baiknya generasi muda ke depan tergantung kepada kesungguhan guru dalam mempersiapkan anak didiknya. Oleh karena itu, guru harus mampu menjaga celah di bidang pendidikan. Sebab, jika pendidikan tidak bisa diharapkan, tunggulah akan kehancuran. Syauqi pernah berkata, ”Jika guru berbuat salah sedikit saja, akan lahirlah siswa-siswa yang lebih buruk lagi.”
Ketujuh, tidak mengenal putus asa. Kenyataan terkadang membuat guru sedih dengan fakta dekadensi morol pada generasi muda. Orang yang bertekad lemah, kadang menyatakan bahwa generasi sekarang tidak bisa diharapkan, tak ada harapan akan perbaikan. Tetapi, guru harus yakin, bahwa impian hari ini adalah kenyataan esok hari. Karena itu, guru perlu terus berbuat dan meninggikan bendera kebajikan guna menyiapkan generasi mendatang yang lebih baik. Wallahua ’alam.
* Majalah Pembinaan, Kajian Utama, Edisi Mei 2010.
Dalam mutiara hikmah dikatakan, ”Aththoriqotu ahammu minal maddah, wal ustadz ahammu minaththoriqoh, wa ruhul ustadz ahammu min kulli syaiin.” (Metode lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode, dan ruh (semangat) guru lebih penting dari semua itu). Sebab, dengan ruh tersebut guru mampu menghidupkan suasana pembelajaran yang menyenangkan dengan sentuhan kasih, sayang, dan cintanya pada anak didik.
Guru sebagai pendidik merupakan gerbang awal dalam pembentukan kepribadian siswa. Hal ini mengandung makna bahwa guru memberikan pengaruh yang cukup bermakna bagi terwujudnya manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia. Guru merupakan orang yang ditangannya terletak masa depan bangsa. Guru tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didik, tetapi guru adalah arsitek peradaban. Karena itu, maju mundurnya sebuah bangsa ke depan berada di genggaman guru.
Berkaitan dengan peran guru dalam membentuk kepribadian siswa, Mahmud Samir al-Munir dalam kitabnya, Al-Mu’allimur Rabbani, menyebutkan tujuh pilar kesuksesan seorang guru. Pertama, semangat yang terkontrol. Seorang guru mesti menjadi orang yang ulet, telaten, peduli, dan memiliki tekad yang memadai. Sebab, peserta didik memerlukan hal baru, tambahan informasi, perhatian, dan didikan yang baik darinya.
Kedua, ilmu yang terus berkembang. Seorang guru yang sukses harus mempunyai dua kelebihan, yakni kelebihan horizontal (pengetahuan luas) dan vertikal (menguasai bidangnya secara mendalam). Guru yang tidak atau jarang membaca lambat laun akan kering wawasannya seiring permasalahan yang muncul. Karena itu, guru jangan sampai meninggalkan aktivitas membaca. Guru juga hendaknya mempunyai perpustakaan sendiri walaupun sederhana.
Ketiga, perencanaan yang rapi. Guru hendaknya memiliki perencanaan pendidikan yang matang, tertulis dan tersusun rapi. Perencanaan itu mesti dalam jangka waktu tertentu, terukur, dan realistis agar tujuan pendidikan bisa tercapai. Penulis menyebutnya dengan istilah ‘TUKER-KERIS’ (TUlis apa yang anda KERjakan, dan KERjakan apa yang anda tulIS.
Keempat, variasi kecerdasan. Guru itu seperti sungai, ia memberi minum kepada orang-orang yang kehausan, mengalir deras ke setiap lembah, mengubah tandusnya akal menjadi pengetahuan yang berbunga di lembah pengetahuan yang beraneka ragam.
Oleh karena itu, guru harus menjadi bapak bagi siswanya dalam ikatan batin, menjadi syekh dalam pendidikan rohani, menjadi pendidik dalam penyampaian ilmu, menjadi teman dalam penyampaian curhat, dan menjadi pemimpin dalam keteladanan.
Kelima, kepemimpinan yang bijaksana. Tidak cukup seorang guru hanya menyampaikan materi pelajaran tanpa memenuhi pendidikan yang sesunggunya, yang bertujuan menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak didik. Disamping transformasi ilmu pengetahuan, guru juga harus mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Keenam, menjaga celah. Guru adalah arsitek peradaban. Masa depan anak didik adalah amanah di pundak guru. Baiknya generasi muda ke depan tergantung kepada kesungguhan guru dalam mempersiapkan anak didiknya. Oleh karena itu, guru harus mampu menjaga celah di bidang pendidikan. Sebab, jika pendidikan tidak bisa diharapkan, tunggulah akan kehancuran. Syauqi pernah berkata, ”Jika guru berbuat salah sedikit saja, akan lahirlah siswa-siswa yang lebih buruk lagi.”
Ketujuh, tidak mengenal putus asa. Kenyataan terkadang membuat guru sedih dengan fakta dekadensi morol pada generasi muda. Orang yang bertekad lemah, kadang menyatakan bahwa generasi sekarang tidak bisa diharapkan, tak ada harapan akan perbaikan. Tetapi, guru harus yakin, bahwa impian hari ini adalah kenyataan esok hari. Karena itu, guru perlu terus berbuat dan meninggikan bendera kebajikan guna menyiapkan generasi mendatang yang lebih baik. Wallahua ’alam.
* Majalah Pembinaan, Kajian Utama, Edisi Mei 2010.
Minggu, 02 Mei 2010
SIAP MENTAL KE PESANTREN
SELAIN menyekolahkan anak ke luar negeri, banyak pula orang tua mengirimkan putra-putrinya ke pesantren atau sekolah dengan sistem boarding (asrama). Meskipun berbeda, pola dan dampaknya hampir sama. Orang tua berjauhan dengan anak, orang tua cemas terhadap pergaulan anak, anak menjadi harapan orang tua untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Direktur Pendidikan dan Kepala Sekolah MTs. Husnul Khotimah, Kuningan, Imam Nur Suharno (41), mengatakan, hal yang harus diperhatikan saat seseorang akan melanjutkan pendidikan jauh dari orang tua adalah, hal itu merupakan perpaduan keinginan bersama antara orang tua maupun anak. Kalau hanya keinginan orang tua atau anak, akan muncul kendala.
Pasalnya, modal utama sekolah berjauhan dengan orang tua adalah betah atau tidak. Oleh karena itu, jauh-jauh hari sebelum anak itu berangkat menuntut ilmu, orang tua harus memberi pemahaman terlebih dahulu bagaimana tata cara hidup berjauhan dengan orang tua.
"Kunci belajar di pesantren itu betah. Kalau tidak betah, anak pintar pun akan kehilangan konsentrasi belajar. Sebaliknya, bila anak itu pas-pasan tetapi betah di pesantren, ia akan dapat konsentrasi dan belajar dengan baik," ujar Imam.
Pendek kata, kata Imam, orang tua mengirimkan anak-anaknya ke pesantren karena ingin anak-anaknya pintar dan saleh. Bahkan kalau harus memilih di antara keduanya, mereka (orang tua-red.) akan memilih anak yang saleh ketimbang pintar.
Hal yang dapat dilakukan orang tua saat anak belajar berjauhan adalah doa. Bila segala upaya sudah dilakukan, langkah berikutnya adalah menguatkan diri dengan doa. Sebab yang membolak-balikkan hati itu, bukan siapa-siapa tetapi Allah SWT.
Pada umumnya, kata Imam, orang tua memasukkan anak ke pesantren, ingin memperoleh tempat aman dan nyaman bagi putra-putrinya. Tempat yang sesuai dengan harapan orang tua. Apalagi semua tempat saat ini, memang sudah sangat mengkawatirkan orang tua. Pendek kata, orang tua meghendaki pendidikan yang dberikan ini menghasilkan peserta didik menjadi anak saleh (untuk diri sendiri) dan menjadi Muslih (mengajak kepada orang lain) tanpa paksaan.
Pola aktivitas keseharian juga berbeda. Bila di rumah anak-anak lebih banyak menonton televisi, kalau di pesantren lebih banyak mengkaji Alquran. Hal sama terjadi juga dalam hal makan dan minum. "Di rumah, makan, minum, dan mandi tidak harus mengantre. Sepintas tidak ada apa-apanya tetapi kemudian, bisa dirasakan sendiri," ujarnya.
Kehidupan pesantren menurut Imam, mengantarkan anak pada kehidupan 24 jam bersama dengan teman. Bila di rumah hanya mengenal beberapa orang, maka di pesantren akan mengenal banyak orang dengan belakang keluarga dan daerah yang berbeda-beda.
Di situlah akan terjadi kerukunan yang lintas batas, menanamkan dan menjalin ukhuwah. Makanya di sekolah itu ditanamkan saling menghargai dan menghormati. Yang tua menyayangi yang muda, yang muda hormat kepada yang tua. Di pesantren juga diajarkan akhlak kepada guru, orang tua, dan teman.
Jika di sekolah biasa paling lama hanya 2-7 jam, di pesantren 24 jam. Pesantren jadi sebuah laboratorium, tempat salat berjamaah, puasa sunah bersama, makan dan mandi bersama (harus ngantre). Di situ ada ujian kesabaran dan berlatih mandiri. Lambat laun kehidupan ini akan membentuk anak.
”Oleh karena itu, lagi-lagi doa tidak hanya akan menguatkan anak tetapi juga guru pada saat membimbing. (Eriyanti/”PR”)***
wawancara PR dengan Direktur Pendidikan dan Kepala MTs Husnul Khotimah
Penulis:
Direktur Pendidikan dan Kepala Sekolah MTs. Husnul Khotimah, Kuningan, Imam Nur Suharno (41), mengatakan, hal yang harus diperhatikan saat seseorang akan melanjutkan pendidikan jauh dari orang tua adalah, hal itu merupakan perpaduan keinginan bersama antara orang tua maupun anak. Kalau hanya keinginan orang tua atau anak, akan muncul kendala.
Pasalnya, modal utama sekolah berjauhan dengan orang tua adalah betah atau tidak. Oleh karena itu, jauh-jauh hari sebelum anak itu berangkat menuntut ilmu, orang tua harus memberi pemahaman terlebih dahulu bagaimana tata cara hidup berjauhan dengan orang tua.
"Kunci belajar di pesantren itu betah. Kalau tidak betah, anak pintar pun akan kehilangan konsentrasi belajar. Sebaliknya, bila anak itu pas-pasan tetapi betah di pesantren, ia akan dapat konsentrasi dan belajar dengan baik," ujar Imam.
Pendek kata, kata Imam, orang tua mengirimkan anak-anaknya ke pesantren karena ingin anak-anaknya pintar dan saleh. Bahkan kalau harus memilih di antara keduanya, mereka (orang tua-red.) akan memilih anak yang saleh ketimbang pintar.
Hal yang dapat dilakukan orang tua saat anak belajar berjauhan adalah doa. Bila segala upaya sudah dilakukan, langkah berikutnya adalah menguatkan diri dengan doa. Sebab yang membolak-balikkan hati itu, bukan siapa-siapa tetapi Allah SWT.
Pada umumnya, kata Imam, orang tua memasukkan anak ke pesantren, ingin memperoleh tempat aman dan nyaman bagi putra-putrinya. Tempat yang sesuai dengan harapan orang tua. Apalagi semua tempat saat ini, memang sudah sangat mengkawatirkan orang tua. Pendek kata, orang tua meghendaki pendidikan yang dberikan ini menghasilkan peserta didik menjadi anak saleh (untuk diri sendiri) dan menjadi Muslih (mengajak kepada orang lain) tanpa paksaan.
Pola aktivitas keseharian juga berbeda. Bila di rumah anak-anak lebih banyak menonton televisi, kalau di pesantren lebih banyak mengkaji Alquran. Hal sama terjadi juga dalam hal makan dan minum. "Di rumah, makan, minum, dan mandi tidak harus mengantre. Sepintas tidak ada apa-apanya tetapi kemudian, bisa dirasakan sendiri," ujarnya.
Kehidupan pesantren menurut Imam, mengantarkan anak pada kehidupan 24 jam bersama dengan teman. Bila di rumah hanya mengenal beberapa orang, maka di pesantren akan mengenal banyak orang dengan belakang keluarga dan daerah yang berbeda-beda.
Di situlah akan terjadi kerukunan yang lintas batas, menanamkan dan menjalin ukhuwah. Makanya di sekolah itu ditanamkan saling menghargai dan menghormati. Yang tua menyayangi yang muda, yang muda hormat kepada yang tua. Di pesantren juga diajarkan akhlak kepada guru, orang tua, dan teman.
Jika di sekolah biasa paling lama hanya 2-7 jam, di pesantren 24 jam. Pesantren jadi sebuah laboratorium, tempat salat berjamaah, puasa sunah bersama, makan dan mandi bersama (harus ngantre). Di situ ada ujian kesabaran dan berlatih mandiri. Lambat laun kehidupan ini akan membentuk anak.
”Oleh karena itu, lagi-lagi doa tidak hanya akan menguatkan anak tetapi juga guru pada saat membimbing. (Eriyanti/”PR”)***
wawancara PR dengan Direktur Pendidikan dan Kepala MTs Husnul Khotimah
Penulis:
Senin, 26 April 2010
MERAYAKAN KELULUSAN UN
Oleh Imam Nur Suharno
Hiruk pikuk Ujian Nasional (UN) telah usai dilaksanakan. Kecemasan pun mulai mereda. Kini, tinggal menunggu hasilnya: lulus atau tidak lulus. Tentu, dalam penantian inilah perasaan cemas masih tetap menghantui siswa, orang tua, guru, bahkan kepala sekolah.
Rencananya, sesuai dengan surat edaran yang diberikan ke setiap sekolah, hasil UN akan diumumkan pada 26 April 2010 untuk sekolah tingkat SMA/MA, dan pada 7 Mei 2010 untuk sekolah tingkat SMP/MTs.
Untuk itu, dalam masa menunggu hasil UN ini, sekolah perlu menyiapkan strategi untuk mengantisipasi terjadinya budaya perayaan kelulusan UN yang cenderung mengarah kepada hal-hal yang negatif, yang merugikan diri sendiri, orang lain, dan bahkan meresahkan masyarakat, yaitu dengan alternatif kegiatan yang bermanfaat.
Berita-berita yang terjadi pada 2009 lalu, tradisi perayaan kelulusan pelajar sekolah menengah atas (SMA) di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Di Subang, pelajar melakukan pesta kelulusan membawa parang dan vodka. Di Tegal, banyak kondom ditemukan di tas-tas pelajar. Di Surabaya, euforia kelulusan memacetkan lalu lintas. Di Pamekasan, aksi konvoi kelulusan menelan satu korban tewas. Di Yogyakarta, aksi coret-coret baju mewarnai perayaan kelulusan. Di Blitar, aksi konvoi kelulusan diwarnai aksi bugil. (Majalah Gontor, Maret 2010).
Sudah sedemikian rendahkah moralitas pelajar kita dalam merayakan kelulusan UN? Untuk itu, sekolah perlu melakukan antisipasi agar tradisi tersebut tidak terulang kembali. Sebab, tradisi itu terjadi karena ada niat dan kesempatan. Oleh karena itu, sekolah perlu memutus kesempatan itu.
Menurut hemat penulis, ada beberapa solusi alternatif yang dapat dilakukan untuk merayakan kelulusan UN, di antaranya: pertama, pengumuman kelulusan UN tidak diserahkan langsung pada siswa. Akan tetapi, perlu ada pendampingan dari orang tua atau wali siswa. Dengan demikian, kesempatan untuk melakukan hal-hal negatif pascakelulusan dapat diminimalisasi.
Kedua, sebelum hasil UN diserahkan, perlu ada arahan khusus dari sekolah untuk mennyikapi hasil ujian. Dalam ujian hanya ada dua kemungkinan, lulus (L) dan tidak lulus (TL). Oleh karena itu, bersyukur jika lulus dan bersabar jika tidak lulus. Bagi yang tidak lulus masih ada kesempatan untuk mengikuti ujian ulangan. Bersiaplah untuk menghadapi ujian ulangan, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Kesedihan tidak akan menyelesaikan ketidaklulusan.
Ketiga, melakukan sujud syukur dan doa bersama sebagai wujud syukur atas hasil yang diterima, yang dipimpin oleh guru Pendidikan Agama Islam. Contoh doa syukur dalam Alquran, ”Rabbi Awzi’ni An Asykura Ni’matikallati An’amta ’Alayya wa ’Ala Walidayya, wa an A’mala Shalihan Tardhahu, wa Adkhilni Birahmatika fi ’Ibadikash Shalihin.” Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh (Q.S. Annaml [27]: 19).
Berikut doa sujud syukur, ”Subhanakallahumma Anta Rabbi Haqqan Haqqa, Sajadtu Laka Ya Rabbi Ta’abbudan Wa Riqqa. Allahumma Inna ’Amali Dha’ifun Fadha’i Li. Allahumma Qini ’Adzabaka Yawma Tub’atsu ’Ibaduka Wa Tub’alayya Innaka Antat Tawwabur Rahim.” Maha Suci Engkau. Ya Allah, Engkaulah Tuhanku yang sebenarnya, aku sujud kepada-Mu ya Rabbi sebagai pengabdian dan penghambaan. Ya Allah, sungguh amalku lemah, maka lipatgandakan pahalanya bagiku. Ya Allah, selamatkan aku dari siksa-Mu pada hari hamba-hamba-Mu dibangkitkan, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Menerima taubat dan Maha Penyayang (kitab ”Mafatihul Jinan”).
Keempat, pengumpulan pakaian seragam bekas dan untuk selanjutkan diserahkan kepada adik kelas yang memerlukan. Dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat bagi mereka yang lulus dan memberikan motivasi bagi mereka yang tidak lulus untuk mempersiapkan diri mengkuti ujian ulangan.
Tentu, kegiatan alternatif untuk merayakan kelulusan UN itu dapat terlaksana dengan baik jika didukung seluruh civitas academica sekolah, dan juga orang tua siswa. Semoga.***
Penulis, Direktur Pendidikan Yayasan Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat.
Pikiran Rakyat, Edisi 26 April 2010
Hiruk pikuk Ujian Nasional (UN) telah usai dilaksanakan. Kecemasan pun mulai mereda. Kini, tinggal menunggu hasilnya: lulus atau tidak lulus. Tentu, dalam penantian inilah perasaan cemas masih tetap menghantui siswa, orang tua, guru, bahkan kepala sekolah.
Rencananya, sesuai dengan surat edaran yang diberikan ke setiap sekolah, hasil UN akan diumumkan pada 26 April 2010 untuk sekolah tingkat SMA/MA, dan pada 7 Mei 2010 untuk sekolah tingkat SMP/MTs.
Untuk itu, dalam masa menunggu hasil UN ini, sekolah perlu menyiapkan strategi untuk mengantisipasi terjadinya budaya perayaan kelulusan UN yang cenderung mengarah kepada hal-hal yang negatif, yang merugikan diri sendiri, orang lain, dan bahkan meresahkan masyarakat, yaitu dengan alternatif kegiatan yang bermanfaat.
Berita-berita yang terjadi pada 2009 lalu, tradisi perayaan kelulusan pelajar sekolah menengah atas (SMA) di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Di Subang, pelajar melakukan pesta kelulusan membawa parang dan vodka. Di Tegal, banyak kondom ditemukan di tas-tas pelajar. Di Surabaya, euforia kelulusan memacetkan lalu lintas. Di Pamekasan, aksi konvoi kelulusan menelan satu korban tewas. Di Yogyakarta, aksi coret-coret baju mewarnai perayaan kelulusan. Di Blitar, aksi konvoi kelulusan diwarnai aksi bugil. (Majalah Gontor, Maret 2010).
Sudah sedemikian rendahkah moralitas pelajar kita dalam merayakan kelulusan UN? Untuk itu, sekolah perlu melakukan antisipasi agar tradisi tersebut tidak terulang kembali. Sebab, tradisi itu terjadi karena ada niat dan kesempatan. Oleh karena itu, sekolah perlu memutus kesempatan itu.
Menurut hemat penulis, ada beberapa solusi alternatif yang dapat dilakukan untuk merayakan kelulusan UN, di antaranya: pertama, pengumuman kelulusan UN tidak diserahkan langsung pada siswa. Akan tetapi, perlu ada pendampingan dari orang tua atau wali siswa. Dengan demikian, kesempatan untuk melakukan hal-hal negatif pascakelulusan dapat diminimalisasi.
Kedua, sebelum hasil UN diserahkan, perlu ada arahan khusus dari sekolah untuk mennyikapi hasil ujian. Dalam ujian hanya ada dua kemungkinan, lulus (L) dan tidak lulus (TL). Oleh karena itu, bersyukur jika lulus dan bersabar jika tidak lulus. Bagi yang tidak lulus masih ada kesempatan untuk mengikuti ujian ulangan. Bersiaplah untuk menghadapi ujian ulangan, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Kesedihan tidak akan menyelesaikan ketidaklulusan.
Ketiga, melakukan sujud syukur dan doa bersama sebagai wujud syukur atas hasil yang diterima, yang dipimpin oleh guru Pendidikan Agama Islam. Contoh doa syukur dalam Alquran, ”Rabbi Awzi’ni An Asykura Ni’matikallati An’amta ’Alayya wa ’Ala Walidayya, wa an A’mala Shalihan Tardhahu, wa Adkhilni Birahmatika fi ’Ibadikash Shalihin.” Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh (Q.S. Annaml [27]: 19).
Berikut doa sujud syukur, ”Subhanakallahumma Anta Rabbi Haqqan Haqqa, Sajadtu Laka Ya Rabbi Ta’abbudan Wa Riqqa. Allahumma Inna ’Amali Dha’ifun Fadha’i Li. Allahumma Qini ’Adzabaka Yawma Tub’atsu ’Ibaduka Wa Tub’alayya Innaka Antat Tawwabur Rahim.” Maha Suci Engkau. Ya Allah, Engkaulah Tuhanku yang sebenarnya, aku sujud kepada-Mu ya Rabbi sebagai pengabdian dan penghambaan. Ya Allah, sungguh amalku lemah, maka lipatgandakan pahalanya bagiku. Ya Allah, selamatkan aku dari siksa-Mu pada hari hamba-hamba-Mu dibangkitkan, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Menerima taubat dan Maha Penyayang (kitab ”Mafatihul Jinan”).
Keempat, pengumpulan pakaian seragam bekas dan untuk selanjutkan diserahkan kepada adik kelas yang memerlukan. Dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat bagi mereka yang lulus dan memberikan motivasi bagi mereka yang tidak lulus untuk mempersiapkan diri mengkuti ujian ulangan.
Tentu, kegiatan alternatif untuk merayakan kelulusan UN itu dapat terlaksana dengan baik jika didukung seluruh civitas academica sekolah, dan juga orang tua siswa. Semoga.***
Penulis, Direktur Pendidikan Yayasan Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat.
Pikiran Rakyat, Edisi 26 April 2010
Jumat, 23 April 2010
INDRAMAYU MENANTI PEMIMPIN YANG MELAYANI
Oleh Imam Nur Suharno SPd MPdI
Pemerhati Masalah Sosial, tinggal di Kuningan, Jawa Barat
Kabupaten Indramayu akan kembali melaksanakan perhelatan demokrasi lokal melalui pemilihan umum kepala daerah (pemilukada). Hal ini, menjadi momen penting karena tujuan awal berdirinya Kabupaten Indramayu adalah memperbaiki kinerja birokrasi. Salah satunya adalah perbaikan pelayanan. Melalui pemilukada secara langsung diharapkan terpilihnya pemimpin yang mampu melayani. Hal ini agar tercipta suasana pelayanan publik yang mudah dijumpai di Indramayu.
Pertanyaannya sekarang, aspek apa yang diperlukan dalam melayani Kabupaten Indramayu? Paling tidak, ada tiga aspek dalam melayani. Pertama, melayani dengan hati. Melayani harus dimulai dari dalam diri. Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam hati, kemudian bergerak ke luar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Ciri dari pemimpin yang mampu melayani dengan hati adalah: (1) Tujuan utama seorang pemimpin adalah melayani kepentingan orang-orang yang dipimpinnya. Orientasinya bukan untuk kepentingan pribadi maupun golongan, tetapi justru untuk kepentingan publik yang dipimpinnya. (2) Memiliki kerinduan untuk membangun dan mengembangkan orang-orang yang dipimpinnya. (3) Memiliki perhatian terhadap mereka yang dipimpinnya. Perhatian akan kebutuhan, kepentingan, dan harapan. (4) Akuntabilitas, penuh tanggungjawab dan dapat diandalkan. Artinya, perkataan dan tindakannya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. (5) Mau mendengar setiap kebutuhan dan harapan dari orang-orang yang dipimpinnya. (6) Mampu mengendalikan ego dan kepentingan pribadinya. Mengendalikan ego berarti dapat mengendalikan diri ketika tekanan maupun tantangan yang dihadapi menjadi begitu berat. Karenanya, pemimpin sejati harus selalu dalam keadaan tenang, penuh pengendalian diri dan tidak mudah emosi.
Aspek kedua, melayani dengan kepala (pikiran). Ada tiga hal penting dalam melayani dengan pikiran: (1) Memiliki visi yang jelas. (2) Responsive. Artinya, seorang pemimpin harus senantiasa tanggap dalam setiap persoalan, kebutuhan, dan harapan dari orang-orang yang dipimpinnya. Juga selalu aktif dan proaktif dalam mencari solusi dari setiap permasalahan maupun tantangan yang dihadapi. (3) Performance coach, menjadi pelatih atau pendamping bagi orang-orang yang dipimpinnya.
Dan aspek ketiga adalah melayani dengan tangan. Paling tidak ada empat perilaku yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang melayani dengan tangan: (1) Pemimpin tidak hanya sekedar memuaskan mereka yang dipimpinnya, tapi juga memiliki kerinduan untuk mengemban amanah dengan baik, karena kepemimpinan adalah beban, bukan kehormatan. (2) Fokus pada hal-hal spiritual dibandingkan dengan sekedar kesuksesan duniawi. (3) Mau belajar. (4) Senantiasa menselaraskan dirinya terhadap komitmen untuk ibadah dan melayani sesamanya.
Selain kemampuan dalam melayani, seorang pemimpin harus juga memiliki kualitas di atas rata-rata dari mereka yang dipimpinnya. Kualitas itu menyangkut dalam hal keyakinan (iman), kepribadian (akhlak) dan keahlian memimpin atau skill of leadership. Kualitas tersebut haruslah menyatu dalam keseluruhan tindakan, sehingga kata sejalan dengan tindakan. Janji yang disampaikan pada saat kampanye akan direalisasikan setelah dirinya menjadi pemimpin. Kepemimpinan adalah amanah dan setiap amanah akan dimintai pertanggung jawabannya.
Kualitas secara operasional sebagaimana dikemukakan oleh Keith Davis adalah: (1) Kualitas intelegensia. Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan yang relatif lebih daripada mereka yang dipimpinnya. (2) Kematangan dan keluasan pandangan sosial. Sehingga dengan kematangan tersebut diharapkan dapat mengendalikan keadaan, kerjasama sosial serta mempunyai keyakinan dan kepercayaan pada diri sendiri. (3) Mempunyai motivasi dan keinginan berprestasi. (4) Mempunyai kemampuan mengadakan hubungan sosial.
Lebih terperinci lagi George R. Terry menyebutkan delapan sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin (kepala daerah), yaitu: (1) Penuh energi, baik rohani maupun jasmani. (2) Mempunyai stabilitas dalam emosi dan perasaan. Artinya seorang pemimpin tidak boleh berprasangka atau berpikir apriori buruk tentang mereka yang dipimpinnya. (3) Berpengetahuan luas dalam hubungan sosial. (4) Keinginan untuk menjadi pemimpin harus menjadi daya pendorong yang muncul dari dalam dan tidak didesakkan dari luar. (5) Mahir dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan. (6) Cakap. Artinya, pemimpin sejati harus bisa memberi semangat, mengembangkan, dan memajukan orang-orang yang dipimpinnya. (7) Mempunyai kemahiran di bidang sosial. Seorang pemimpin harus memiliki sifat suka menolong, senang jika orang lain maju, ramah dan dapat menghargai pendapat orang lain. (8) Mempunyai kecakapan teknis. Seorang pemimpin harus mampu merencanakan, mendelegasikan, mengambil keputusan, mengawasi dan meneliti.
Dan, merujuk itu semua, tampak bahwa posisi pemimpin Kabupaten Indramayu bukanlah posisi yang mudah diisi oleh orang-orang populer atau individu-individu yang hanya pandai berbicara. Pemimpin yang dibutuhkan saat ini dan ke depan adalah pemimpin yang mampu melayani, terlebih disertai keteladanan yang tulus dan konkret, tidak sebatas pada pemimpin tingkat atas, melainkan juga diikuti seluruh jajaran di bawahnya, sehingga dapat mengantarkan kepada suasana keramahan hidup. Wallahu a’lam.
* HU Republika, Kabar Jabar, Lenyepaneun, Rabu, 21 PRIL 2010
Pemerhati Masalah Sosial, tinggal di Kuningan, Jawa Barat
Kabupaten Indramayu akan kembali melaksanakan perhelatan demokrasi lokal melalui pemilihan umum kepala daerah (pemilukada). Hal ini, menjadi momen penting karena tujuan awal berdirinya Kabupaten Indramayu adalah memperbaiki kinerja birokrasi. Salah satunya adalah perbaikan pelayanan. Melalui pemilukada secara langsung diharapkan terpilihnya pemimpin yang mampu melayani. Hal ini agar tercipta suasana pelayanan publik yang mudah dijumpai di Indramayu.
Pertanyaannya sekarang, aspek apa yang diperlukan dalam melayani Kabupaten Indramayu? Paling tidak, ada tiga aspek dalam melayani. Pertama, melayani dengan hati. Melayani harus dimulai dari dalam diri. Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam hati, kemudian bergerak ke luar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Ciri dari pemimpin yang mampu melayani dengan hati adalah: (1) Tujuan utama seorang pemimpin adalah melayani kepentingan orang-orang yang dipimpinnya. Orientasinya bukan untuk kepentingan pribadi maupun golongan, tetapi justru untuk kepentingan publik yang dipimpinnya. (2) Memiliki kerinduan untuk membangun dan mengembangkan orang-orang yang dipimpinnya. (3) Memiliki perhatian terhadap mereka yang dipimpinnya. Perhatian akan kebutuhan, kepentingan, dan harapan. (4) Akuntabilitas, penuh tanggungjawab dan dapat diandalkan. Artinya, perkataan dan tindakannya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. (5) Mau mendengar setiap kebutuhan dan harapan dari orang-orang yang dipimpinnya. (6) Mampu mengendalikan ego dan kepentingan pribadinya. Mengendalikan ego berarti dapat mengendalikan diri ketika tekanan maupun tantangan yang dihadapi menjadi begitu berat. Karenanya, pemimpin sejati harus selalu dalam keadaan tenang, penuh pengendalian diri dan tidak mudah emosi.
Aspek kedua, melayani dengan kepala (pikiran). Ada tiga hal penting dalam melayani dengan pikiran: (1) Memiliki visi yang jelas. (2) Responsive. Artinya, seorang pemimpin harus senantiasa tanggap dalam setiap persoalan, kebutuhan, dan harapan dari orang-orang yang dipimpinnya. Juga selalu aktif dan proaktif dalam mencari solusi dari setiap permasalahan maupun tantangan yang dihadapi. (3) Performance coach, menjadi pelatih atau pendamping bagi orang-orang yang dipimpinnya.
Dan aspek ketiga adalah melayani dengan tangan. Paling tidak ada empat perilaku yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang melayani dengan tangan: (1) Pemimpin tidak hanya sekedar memuaskan mereka yang dipimpinnya, tapi juga memiliki kerinduan untuk mengemban amanah dengan baik, karena kepemimpinan adalah beban, bukan kehormatan. (2) Fokus pada hal-hal spiritual dibandingkan dengan sekedar kesuksesan duniawi. (3) Mau belajar. (4) Senantiasa menselaraskan dirinya terhadap komitmen untuk ibadah dan melayani sesamanya.
Selain kemampuan dalam melayani, seorang pemimpin harus juga memiliki kualitas di atas rata-rata dari mereka yang dipimpinnya. Kualitas itu menyangkut dalam hal keyakinan (iman), kepribadian (akhlak) dan keahlian memimpin atau skill of leadership. Kualitas tersebut haruslah menyatu dalam keseluruhan tindakan, sehingga kata sejalan dengan tindakan. Janji yang disampaikan pada saat kampanye akan direalisasikan setelah dirinya menjadi pemimpin. Kepemimpinan adalah amanah dan setiap amanah akan dimintai pertanggung jawabannya.
Kualitas secara operasional sebagaimana dikemukakan oleh Keith Davis adalah: (1) Kualitas intelegensia. Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan yang relatif lebih daripada mereka yang dipimpinnya. (2) Kematangan dan keluasan pandangan sosial. Sehingga dengan kematangan tersebut diharapkan dapat mengendalikan keadaan, kerjasama sosial serta mempunyai keyakinan dan kepercayaan pada diri sendiri. (3) Mempunyai motivasi dan keinginan berprestasi. (4) Mempunyai kemampuan mengadakan hubungan sosial.
Lebih terperinci lagi George R. Terry menyebutkan delapan sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin (kepala daerah), yaitu: (1) Penuh energi, baik rohani maupun jasmani. (2) Mempunyai stabilitas dalam emosi dan perasaan. Artinya seorang pemimpin tidak boleh berprasangka atau berpikir apriori buruk tentang mereka yang dipimpinnya. (3) Berpengetahuan luas dalam hubungan sosial. (4) Keinginan untuk menjadi pemimpin harus menjadi daya pendorong yang muncul dari dalam dan tidak didesakkan dari luar. (5) Mahir dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan. (6) Cakap. Artinya, pemimpin sejati harus bisa memberi semangat, mengembangkan, dan memajukan orang-orang yang dipimpinnya. (7) Mempunyai kemahiran di bidang sosial. Seorang pemimpin harus memiliki sifat suka menolong, senang jika orang lain maju, ramah dan dapat menghargai pendapat orang lain. (8) Mempunyai kecakapan teknis. Seorang pemimpin harus mampu merencanakan, mendelegasikan, mengambil keputusan, mengawasi dan meneliti.
Dan, merujuk itu semua, tampak bahwa posisi pemimpin Kabupaten Indramayu bukanlah posisi yang mudah diisi oleh orang-orang populer atau individu-individu yang hanya pandai berbicara. Pemimpin yang dibutuhkan saat ini dan ke depan adalah pemimpin yang mampu melayani, terlebih disertai keteladanan yang tulus dan konkret, tidak sebatas pada pemimpin tingkat atas, melainkan juga diikuti seluruh jajaran di bawahnya, sehingga dapat mengantarkan kepada suasana keramahan hidup. Wallahu a’lam.
* HU Republika, Kabar Jabar, Lenyepaneun, Rabu, 21 PRIL 2010
Rabu, 07 April 2010
Menegakkan Supremasi Hukum
Harian Republika. Kamis, 08 April 2010 pukul 07:45:00
Menegakkan Supremasi Hukum
Oleh Imam Nur Suharno MPdI
Suatu hari, para pembesar Quraisy menggelar rapat khusus. Pasalnya, salah seorang wanita Quraisy dari Bani Makhzum telah mencuri. Antara panik dan resah karena takut kasus ini terekspos ke publik, mereka pun berpikir keras. Siapa orang yang bisa melobi Rasulullah SAW untuk mempetieskan kasus ini. Pilihan pun jatuh ke Usamah bin Zaid.
Usamah bergegas menemui Rasulullah SAW dengan sangat hati-hati dan penuh harap. Pemuda kesayangan Nabi SAW itu mengungkapkan maksud kedatangannya. Intinya, ia meminta hak khusus agar Nabi SAW tidak memidanakan kasus ini. Paham akan kedatangan Usamah, Rasulullah SAW menjadi merah wajahnya. Beliau menahan marah luar biasa. Lalu, Rasulullah SAW berdiri seraya berkata, "Sesungguhnya, yang telah menghancurkan orang-orang sebelum kamu adalah (sikap tercela mereka). Apabila yang mencuri itu adalah orang terpandang di antara mereka, mereka membiarkannya. Namun, apabila yang mencuri itu adalah orang yang lemah, mereka menegakkan hukuman atasnya. Demi Allah, andai Fatimah, putri Muhammad, mencuri niscaya aku potong tangannya." (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis di atas menggambarkan ketegasan Rasulullah SAW dalam masalah hukum. Tegas dalam menegakkan supremasi hukum, tanpa pilih kasih, tanpa pandang bulu, atau tebang pilih siapa pun pelakunya. Hukum harus bersih dari intervensi kepentingan siapa pun. Sistem birokrasi pun harus bersih dari unsur keluarga dan kekerabatan.
Tegaknya supremasi hukum akan melahirkan kepastian. Kepastian akan yang benar dan salah. Dari keseharian, kita sering kali menyaksikan keadilan masih berpihak kepada orang-orang yang terpandang. Sementara itu, kaum yang lemah sering kali terpinggirkan, bahkan menjadi bahan uji coba perundang-undangan.
Persoalan sederhana ditangani secara berlebihan. Yang seharusnya diselesaikan menurut ukurannya justru menjadi besar dan luas hanya karena tidak mampu menempatkan persoalan secara proporsional. Sementara itu, persoalan yang besar justru seakan-akan hilang begitu saja.
Oleh karena itu, keadilan menuntut kejujuran dan objektivitas. Maksudnya, tidak berpihak, kecuali pada kebenaran dan rasa keadilan itu sendiri. Allah SWT menegaskan, "Hai, orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan, janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Almaidah [5]: 8). Wallahualam.
Menegakkan Supremasi Hukum
Oleh Imam Nur Suharno MPdI
Suatu hari, para pembesar Quraisy menggelar rapat khusus. Pasalnya, salah seorang wanita Quraisy dari Bani Makhzum telah mencuri. Antara panik dan resah karena takut kasus ini terekspos ke publik, mereka pun berpikir keras. Siapa orang yang bisa melobi Rasulullah SAW untuk mempetieskan kasus ini. Pilihan pun jatuh ke Usamah bin Zaid.
Usamah bergegas menemui Rasulullah SAW dengan sangat hati-hati dan penuh harap. Pemuda kesayangan Nabi SAW itu mengungkapkan maksud kedatangannya. Intinya, ia meminta hak khusus agar Nabi SAW tidak memidanakan kasus ini. Paham akan kedatangan Usamah, Rasulullah SAW menjadi merah wajahnya. Beliau menahan marah luar biasa. Lalu, Rasulullah SAW berdiri seraya berkata, "Sesungguhnya, yang telah menghancurkan orang-orang sebelum kamu adalah (sikap tercela mereka). Apabila yang mencuri itu adalah orang terpandang di antara mereka, mereka membiarkannya. Namun, apabila yang mencuri itu adalah orang yang lemah, mereka menegakkan hukuman atasnya. Demi Allah, andai Fatimah, putri Muhammad, mencuri niscaya aku potong tangannya." (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis di atas menggambarkan ketegasan Rasulullah SAW dalam masalah hukum. Tegas dalam menegakkan supremasi hukum, tanpa pilih kasih, tanpa pandang bulu, atau tebang pilih siapa pun pelakunya. Hukum harus bersih dari intervensi kepentingan siapa pun. Sistem birokrasi pun harus bersih dari unsur keluarga dan kekerabatan.
Tegaknya supremasi hukum akan melahirkan kepastian. Kepastian akan yang benar dan salah. Dari keseharian, kita sering kali menyaksikan keadilan masih berpihak kepada orang-orang yang terpandang. Sementara itu, kaum yang lemah sering kali terpinggirkan, bahkan menjadi bahan uji coba perundang-undangan.
Persoalan sederhana ditangani secara berlebihan. Yang seharusnya diselesaikan menurut ukurannya justru menjadi besar dan luas hanya karena tidak mampu menempatkan persoalan secara proporsional. Sementara itu, persoalan yang besar justru seakan-akan hilang begitu saja.
Oleh karena itu, keadilan menuntut kejujuran dan objektivitas. Maksudnya, tidak berpihak, kecuali pada kebenaran dan rasa keadilan itu sendiri. Allah SWT menegaskan, "Hai, orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan, janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Almaidah [5]: 8). Wallahualam.
Langganan:
Postingan (Atom)