Oleh Imam Nur Suharno
Di antara ibadah sunah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW adalah shalat malam (Tahajud). Rasulullah mengerjakannya hingga kedua telapak kaki beliau bengkak-bengkak. Tahajud merupakan ibadah yang disyariatkan sebagai rahmat, tambahan kebaikan, dan keutamaan (QS Al-Muzzammil [73]: 1-4).
Shalat Tahajud menjadi jalan hidup dan amalan rutin bagi orang-orang saleh (HR Tirmidzi); orang-orang besar (takwa) (QS Adz-Dzariyat [51]: 17-18); 'Ibadurrahman (QS Al-Furqan [25]: 64); dan menjadi salah satu ciri orang-orang yang memiliki kesempurnaan iman (QS As-Sajdah [32]: 16-17).
Selain menjadi sumber energi keimanan, shalat Tahajud memiliki banyak manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh orang-orang yang melaksanakannya. Pertama, menjaga kesehatan. Sabda Nabi SAW, "Lakukanlah shalat malam karena itu adalah tradisi orang-orang saleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Allah, pencegah dari perbuatan dosa, penghapus kesalahan, dan pencegah segala penyakit dari tubuh."
Kedua, merawat ketampanan/kecantikan. "Barang siapa yang banyak menunaikan shalat malam, maka wajahnya akan terlihat tampan/cantik di siang hari." (HR Ibnu Majah). Ketiga, meningkatkan produktivitas kerja. "Setan membuat ikatan pada tengkuk salah seorang di antara kalian ketika tidur dengan tiga ikatan dan setiap kali memasang ikatan dia berkata: 'Malam masih panjang, maka tidurlah.' Jika orang tadi bangun lalu berzikir kepada Allah SWT, maka terlepas satu ikatan, jika dia berwudhu, maka terlepas satu ikatan yang lainnya, dan jika dia melaksanakan shalat, maka terlepas semua ikatannya.
Pada akhirnya, dia akan menjadi segar dengan jiwa yang bersih. Jika tidak, dia akan bangun dengan jiwa yang kotor yang diliputi rasa malas." (HR Bukhari).
Keempat, mempercepat tercapainya cita-cita dan rasa aman. "Ketahuilah sesungguhnya Allah tertawa terhadap dua orang laki-laki: Seseorang yang bangun pada malam yang dingin dari ranjang dan selimutnya, lalu ia berwudhu dan melakukan shalat. Allah SWT berfirman kepada para Malaikat-Nya, "Apa yang mendorong hamba-Ku melakukan ini?" Mereka menjawab, "Wahai Rabb kami, ia melakukan ini karena mengharap apa yang ada di sisi-Mu." Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku telah memberikan kepadanya apa yang ia harapkan (cita-citakan) dan memberikan rasa aman dari apa yang ia takutkan." (HR Ahmad).
Kelima, melembutkan hati yang keras. Dari Abu Hanifah, "Saya tidak lebih dari satu ayat yang saya baca ketika melakukan shalat malam." Satu ayat tersebut dibaca berulang-ulang semalam suntuk, "Sesungguhnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit." (QS Al-Qamar [54]: 46). Karena itu, bersegeralah untuk menunaikan shalat Tahajud dan raih manfaatnya (balasannya) (QS As-Sajdah [32]: 17). Wallahu a'lam.
Dimuat HU Republika, Hikmah, 6/1-2011
Kamis, 06 Januari 2011
Minggu, 02 Januari 2011
BERCANDA
BERCANDA
Oleh Imam Nur Suharno
Bercanda merupakan bagian dari kehidupan umat manusia. Tanpa canda, hidup terasa hampa dan monoton. Untuk itu, Islam memperbolehkan umatnya bercanda, asal tidak berlebihan. Rasulullah SAW pun pernah bercanda.
Dari Hasan RA, dia berkata, ada seorang perempuan tua yang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, "Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah supaya memasukkanku ke dalam surga." Rasulullah SAW menjawab, "Wahai Ummu fulan, sesungguhnya surga itu tidak dimasuki oleh orang yang sudah tua renta."
Perempuan itu pun berpaling sambil menangis. Lalu, Rasulullah SAW bersabda, "Beri tahu dia kalau dia tidak akan masuk surga dalam keadaan sudah tua renta. Sebab, Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta, lagi sebaya umurnya." (QS Al-Waqiah [56]: 35-37). (HR Tirmidzi).
Islam telah memberikan tuntunan dalam bercanda agar canda yang dilakukan itu tidak berbalik menjadi dosa. Pertama, tidak berlebihan. Sebab, canda yang berlebihan akan menjatuhkan kehormatan dalam pandangan manusia. Kehormatan harga diri di dalam Islam sama dengan kehormatan darah dan harta. Kesadaran orang untuk tidak mencuri harta atau mencelakai orang lain, belumlah cukup tanpa adanya kesadaran untuk menjaga kehormatan orang. Sabda Nabi SAW, "Setiap Muslim dengan Muslim lain diharamkan darah, harta, dan harga dirinya." (HR Muslim).
Kedua, bukan cacian dan cemoohan. Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)." (QS Al-Hujurat [49] :11).
Ketiga, tidak menjadikan canda sebagai kebiasaan. Kesungguhan dan serius adalah karakter pribadi Muslim, sedang kelakar hanya sekadar jeda, rehat dari kepenatan.
Keempat, isi canda bukan dusta dan tidak dibuat-buat. Sabda Nabi SAW, "Celakalah orang yang berbicara lalu mengarang cerita dusta agar orang lain tertawa, celakalah!" (HR Abu Dawud).
Kelima, tidak menjadikan aspek agama sebagai materi canda. Allah SWT menegaskan, "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, "Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah, "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa." (QS At-Taubah [9]: 65-66). Wallahu a'lam.
* Republika,Hikmah, 28 Desember 2010
Oleh Imam Nur Suharno
Bercanda merupakan bagian dari kehidupan umat manusia. Tanpa canda, hidup terasa hampa dan monoton. Untuk itu, Islam memperbolehkan umatnya bercanda, asal tidak berlebihan. Rasulullah SAW pun pernah bercanda.
Dari Hasan RA, dia berkata, ada seorang perempuan tua yang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, "Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah supaya memasukkanku ke dalam surga." Rasulullah SAW menjawab, "Wahai Ummu fulan, sesungguhnya surga itu tidak dimasuki oleh orang yang sudah tua renta."
Perempuan itu pun berpaling sambil menangis. Lalu, Rasulullah SAW bersabda, "Beri tahu dia kalau dia tidak akan masuk surga dalam keadaan sudah tua renta. Sebab, Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta, lagi sebaya umurnya." (QS Al-Waqiah [56]: 35-37). (HR Tirmidzi).
Islam telah memberikan tuntunan dalam bercanda agar canda yang dilakukan itu tidak berbalik menjadi dosa. Pertama, tidak berlebihan. Sebab, canda yang berlebihan akan menjatuhkan kehormatan dalam pandangan manusia. Kehormatan harga diri di dalam Islam sama dengan kehormatan darah dan harta. Kesadaran orang untuk tidak mencuri harta atau mencelakai orang lain, belumlah cukup tanpa adanya kesadaran untuk menjaga kehormatan orang. Sabda Nabi SAW, "Setiap Muslim dengan Muslim lain diharamkan darah, harta, dan harga dirinya." (HR Muslim).
Kedua, bukan cacian dan cemoohan. Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)." (QS Al-Hujurat [49] :11).
Ketiga, tidak menjadikan canda sebagai kebiasaan. Kesungguhan dan serius adalah karakter pribadi Muslim, sedang kelakar hanya sekadar jeda, rehat dari kepenatan.
Keempat, isi canda bukan dusta dan tidak dibuat-buat. Sabda Nabi SAW, "Celakalah orang yang berbicara lalu mengarang cerita dusta agar orang lain tertawa, celakalah!" (HR Abu Dawud).
Kelima, tidak menjadikan aspek agama sebagai materi canda. Allah SWT menegaskan, "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, "Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah, "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa." (QS At-Taubah [9]: 65-66). Wallahu a'lam.
* Republika,Hikmah, 28 Desember 2010
Senin, 20 Desember 2010
SEPAKAT UN DILANJUTKAN, TETAPI ...
Oleh Imam Nur Suharno
Hiruk-pikuk tentang Ujian Nasional (UN) akan kembali menghiasi dunia pendidikan di negeri ini. Karena UN tetap akan dilanjutkan, tetapi ada formulasi yang harus disempurnakan, demikian penjelasan Wakil Ketua Komisi X DPR RI Rully Chairul Azwar. Bahkan, untuk kelulusan UN 2011 ada empat syarat yang harus dipenuhi para siswa, yaitu menyelesaikan program pembelajaran di sekolah; mendapat nilai baik untuk etika, budi pekerti, serta pendidikan kewarganegaraan; lulus ujian sekolah untuk mata pelajaran eksak; lulus UN dengan standar nilai yang ditentukan ("PR Online", 11/12).
Kementerian Pendidikan Nasional telah mengajukan dua alternatif sistem kelulusan. Alternatif pertama adalah menggabungkan nilai mata pelajaran ujian sekolah dan nilai UN dengan bobot 60 persen dari nilai UN dan 40 persen dari ujian sekolah, tetapi nilai rata-ratanya sesuai dengan standar kelulusan. Pada alternatif pertama ini tidak ada nilai mati dan tidak ada UN ulangan. Sementara pada alternatif kedua formulasinya sama seperti alternatif pertama, tetapi berlaku nilai mati dan diberlakukan UN ulangan.
Mencermati kedua alternatif formulasi sistem kelulusan tersebut tampaknya masih belum menjamin tidak terjadi pro-kontra dalam penyelenggaraan UN. Sebab masalah utama dari lahirnya pro-kontra itu masih menjadi salah satu dari empat syarat kelulusan peserta didik, yaitu lulus UN dengan standar nilai yang ditentukan. Seandainya syarat keempat ini ditiadakan tampaknya pro dan kontra tentang UN akan berakhir.
Untuk itu, sebaiknya, pertama, sistem tersebut kembali seperti sistem Ebtanas. Melalui sistem Ebtanas, nilai yang diraih siswa dapat mencerminkan kemampuannya sebenarnya. Dengan demikian, kegunaan penyelenggaraan UN untuk pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan; akreditasi satuan pendidikan; dan pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan mudah tercapai. Sementara itu, nilai UN yang hasilnya disinyalir tidak murni karena ada peran "tim sukses", tidak dapat digunakan untuk pemetaan mutu pendidikan dan/atau program pendidikan. Bisa jadi, misalnya, kualitas sekolah A adalah C, tetapi karena ada peran "tim sukses" dalam UN, sekolah A tersebut kualifikasinya menjadi A, ataupun sebaliknya.
Kedua, penentuan kelulusan ujian sepenuhnya diserahkan kepada guru di sekolah penyelenggara. Hal itu sesuai dengan UU No. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), pasal 58 ayat 1 dan 2. Dalam pasal 58 ayat 1 disebutkan, "Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan". Pada ayat 2 disebutkan, "Evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik standar nasional pendidikan". Jika syarat kelulusan UN salah satunya masih ditentukan pemerintah, berarti pemerintah telah melanggar UU yang dibuatnya sendiri.
Ketiga, standar nilai yang ditetapkan pemerintah jika masih diberlakukan, dijadikan sebagai acuan untuk seleksi masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini sesuai de-ngan kegunaan penyelenggara-an UN sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Menteri Pendi-dikan Nasional RI, yaitu hasil UN digunakan sebagai salah sa-tu pertimbangan untuk seleksi masuk jenjang pendidikan beri-kutnya. Jika hal ini bisa dilaksanakan, sebagaimana wacana tahun lalu bahwa hasil UN akan diintegrasikan dengan SNMPTN itu akan direalisasikan pada 2011, ini menjadi satu langkah lebih maju dalam penyelenggaraan UN di negeri ini, sekaligus dapat menghemat biaya. Untuk menjaga kredibilitas UN hendaknya dalam penyelenggaraan UN pun melibatkan perguruan tinggi.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan siswa guna menghadapi UN. Pertama, berusaha (ikhtiar) secara maksimal. Di antara bentuk usaha tersebut adalah belajar yang teratur, perbanyak latihan soal, lakukan pengulangan latihan pada soal yang dianggap sulit, lakukan penyegaran materi dengan membaca buku yang terkait kisi-kisi soal, mengikuti bimbingan belajar di luar jam sekolah, mengikuti kegiatan try out (uji coba), mengikuti remedial; dan kegiatan mendukung lainnya.
Kedua, selalu berdoa, terutama di sepertiga waktu malam. Sebab, segala sesuatu yang telah kita lakukan bukanlah jaminan akan berhasil. Semua akan terjadi bila Allah SWT mengizinkan. Mohonlah kepada yang Mahaberkehendak agar diberi kemudahan dan kelancaran dalam menghadapi UN. Doa adalah kekuatan tersembunyi yang tidak dapat ditangkap oleh manusia dan dapat terjadi secara tiba-tiba. Doa juga menjadi salah satu faktor penyebab dibalik setiap keberhasilan yang dicapai. Dr. Alexis Carrel pernah berkata, "Doa merupakan bentuk energi yang paling ampuh yang dapat dihasilkan sendiri oleh setiap orang. Karenanya, tambahlah energi kehidupan dengan memperbanyak doa".
Ketiga, tawakal (pasrah diri) kepada Allah SWT. Tawakal merupakan langkah terakhir setelah kita menjalankan meditasi dengan belajar dan berdoa. Tawakal dengan tujuan memasrahkan segela bentuk usaha kita secara lahiriyah dan batiniyah kepada Allah SWT, segala bentuk keberhasilan adalah mutlak kehendak Allah SWT. Sementara manusia hanya bisa berusaha dan berdoa.
Dengan berakhirnya pro dan kontra penyelenggaraan UN, diharapkan sekolah dapat lebih fokus dalam melaksanakan amanah pendidikan sebagaimana yang tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Amanah tersebut adalah pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermartabat, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Semoga. Wallahualam.***
Penulis, Direktur Pendidikan Yayasan Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat.
PR Edisi 21 Desember 2010
Hiruk-pikuk tentang Ujian Nasional (UN) akan kembali menghiasi dunia pendidikan di negeri ini. Karena UN tetap akan dilanjutkan, tetapi ada formulasi yang harus disempurnakan, demikian penjelasan Wakil Ketua Komisi X DPR RI Rully Chairul Azwar. Bahkan, untuk kelulusan UN 2011 ada empat syarat yang harus dipenuhi para siswa, yaitu menyelesaikan program pembelajaran di sekolah; mendapat nilai baik untuk etika, budi pekerti, serta pendidikan kewarganegaraan; lulus ujian sekolah untuk mata pelajaran eksak; lulus UN dengan standar nilai yang ditentukan ("PR Online", 11/12).
Kementerian Pendidikan Nasional telah mengajukan dua alternatif sistem kelulusan. Alternatif pertama adalah menggabungkan nilai mata pelajaran ujian sekolah dan nilai UN dengan bobot 60 persen dari nilai UN dan 40 persen dari ujian sekolah, tetapi nilai rata-ratanya sesuai dengan standar kelulusan. Pada alternatif pertama ini tidak ada nilai mati dan tidak ada UN ulangan. Sementara pada alternatif kedua formulasinya sama seperti alternatif pertama, tetapi berlaku nilai mati dan diberlakukan UN ulangan.
Mencermati kedua alternatif formulasi sistem kelulusan tersebut tampaknya masih belum menjamin tidak terjadi pro-kontra dalam penyelenggaraan UN. Sebab masalah utama dari lahirnya pro-kontra itu masih menjadi salah satu dari empat syarat kelulusan peserta didik, yaitu lulus UN dengan standar nilai yang ditentukan. Seandainya syarat keempat ini ditiadakan tampaknya pro dan kontra tentang UN akan berakhir.
Untuk itu, sebaiknya, pertama, sistem tersebut kembali seperti sistem Ebtanas. Melalui sistem Ebtanas, nilai yang diraih siswa dapat mencerminkan kemampuannya sebenarnya. Dengan demikian, kegunaan penyelenggaraan UN untuk pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan; akreditasi satuan pendidikan; dan pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan mudah tercapai. Sementara itu, nilai UN yang hasilnya disinyalir tidak murni karena ada peran "tim sukses", tidak dapat digunakan untuk pemetaan mutu pendidikan dan/atau program pendidikan. Bisa jadi, misalnya, kualitas sekolah A adalah C, tetapi karena ada peran "tim sukses" dalam UN, sekolah A tersebut kualifikasinya menjadi A, ataupun sebaliknya.
Kedua, penentuan kelulusan ujian sepenuhnya diserahkan kepada guru di sekolah penyelenggara. Hal itu sesuai dengan UU No. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), pasal 58 ayat 1 dan 2. Dalam pasal 58 ayat 1 disebutkan, "Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan". Pada ayat 2 disebutkan, "Evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik standar nasional pendidikan". Jika syarat kelulusan UN salah satunya masih ditentukan pemerintah, berarti pemerintah telah melanggar UU yang dibuatnya sendiri.
Ketiga, standar nilai yang ditetapkan pemerintah jika masih diberlakukan, dijadikan sebagai acuan untuk seleksi masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini sesuai de-ngan kegunaan penyelenggara-an UN sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Menteri Pendi-dikan Nasional RI, yaitu hasil UN digunakan sebagai salah sa-tu pertimbangan untuk seleksi masuk jenjang pendidikan beri-kutnya. Jika hal ini bisa dilaksanakan, sebagaimana wacana tahun lalu bahwa hasil UN akan diintegrasikan dengan SNMPTN itu akan direalisasikan pada 2011, ini menjadi satu langkah lebih maju dalam penyelenggaraan UN di negeri ini, sekaligus dapat menghemat biaya. Untuk menjaga kredibilitas UN hendaknya dalam penyelenggaraan UN pun melibatkan perguruan tinggi.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan siswa guna menghadapi UN. Pertama, berusaha (ikhtiar) secara maksimal. Di antara bentuk usaha tersebut adalah belajar yang teratur, perbanyak latihan soal, lakukan pengulangan latihan pada soal yang dianggap sulit, lakukan penyegaran materi dengan membaca buku yang terkait kisi-kisi soal, mengikuti bimbingan belajar di luar jam sekolah, mengikuti kegiatan try out (uji coba), mengikuti remedial; dan kegiatan mendukung lainnya.
Kedua, selalu berdoa, terutama di sepertiga waktu malam. Sebab, segala sesuatu yang telah kita lakukan bukanlah jaminan akan berhasil. Semua akan terjadi bila Allah SWT mengizinkan. Mohonlah kepada yang Mahaberkehendak agar diberi kemudahan dan kelancaran dalam menghadapi UN. Doa adalah kekuatan tersembunyi yang tidak dapat ditangkap oleh manusia dan dapat terjadi secara tiba-tiba. Doa juga menjadi salah satu faktor penyebab dibalik setiap keberhasilan yang dicapai. Dr. Alexis Carrel pernah berkata, "Doa merupakan bentuk energi yang paling ampuh yang dapat dihasilkan sendiri oleh setiap orang. Karenanya, tambahlah energi kehidupan dengan memperbanyak doa".
Ketiga, tawakal (pasrah diri) kepada Allah SWT. Tawakal merupakan langkah terakhir setelah kita menjalankan meditasi dengan belajar dan berdoa. Tawakal dengan tujuan memasrahkan segela bentuk usaha kita secara lahiriyah dan batiniyah kepada Allah SWT, segala bentuk keberhasilan adalah mutlak kehendak Allah SWT. Sementara manusia hanya bisa berusaha dan berdoa.
Dengan berakhirnya pro dan kontra penyelenggaraan UN, diharapkan sekolah dapat lebih fokus dalam melaksanakan amanah pendidikan sebagaimana yang tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Amanah tersebut adalah pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermartabat, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Semoga. Wallahualam.***
Penulis, Direktur Pendidikan Yayasan Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat.
PR Edisi 21 Desember 2010
Rabu, 15 Desember 2010
Adab Makan
Imam Nur Suharno
"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS Al-A'raf [7]: 31).
Makna 'janganlah berlebih-lebihan' dalam ayat di atas sebagaimana dijelaskan dalam Alquran dan terjemahannya adalah janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan.
Terkait hal itu, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada sesuatu yang lebih buruk untuk dipenuhi oleh seseorang selain perutnya, padahal cukup beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Bila terpaksa ia lakukan, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernapas." (HR Ahmad, Nasa'i, Tirmidzi, dan beberapa perawi lainnya).
Makan secara berlebihan dapat menyebabkan kelambanan dan kelebihan beban pada pencernaan serta fermentasi makanan dalam perut. Hal ini terkadang bisa mengakibatkan luka dan peradangan pada perut, kerongkongan, dan usus dua belas jari.
Hilmy al-Khuly dalam bukunya Mukjizat Kesembuhan Dalam Gerakan Shalat, menyebutkan, bila perut dipenuhi oleh makanan, kemudian timbul proses fermentasi di dalamnya, maka dapat menimbulkan berbagai efek negatif, yaitu in'ikas ashabiy (reflek gerak pemantulan dan pembalikan saraf) terhadap kondisi jantung; idhthirab al-qalb (denyut jantung berdebar-debar) yang tekanannya bisa menurun dan bisa pula meninggi; dan terjadinya kejang jantung.
Karena itu, Rasulullah SAW memberikan tuntunan dalam menyantap makan sebagai upaya mengendalikan syahwat makan. Pertama, qul bismillaahi, ucapkanlah bismillah ketika hendak makan. Kedua, kul biyamiinika, makanlah dengan tangan kananmu. Dan ketiga, kul mimmaa yaliika, makanlah yang terdekat denganmu. (HR Muslim).
Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW bersabda, "Kami adalah kaum yang tidak akan makan sampai kami merasa lapar. Jika kami makan, maka kami makan tidak sampai kenyang. (Rasulullah juga bersabda) Tinggalkanlah makanan (justru) ketika engkau sangat menginginkannya."
Dengan demikian, melalui pengendalian syahwat makan ini, kita akan terhindar dari berbagai macam penyakit yang mengancam kehidupan. Sebab, perut adalah sarangnya penyakit, sebagaimana dikatakan Harits bin Kaldah, seorang tabib bangsa Arab, "Diet (mengatur pola makan) adalah pokok segala pengobatan, sedangkan perut adalah sarang penyakit. Oleh karena itu, kembalikanlah tubuh pada kebutuhan proporsionalnya." Wallahu a'lam.
HU Republika Edisi Rabu, 15 Desember 2010
"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS Al-A'raf [7]: 31).
Makna 'janganlah berlebih-lebihan' dalam ayat di atas sebagaimana dijelaskan dalam Alquran dan terjemahannya adalah janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan.
Terkait hal itu, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada sesuatu yang lebih buruk untuk dipenuhi oleh seseorang selain perutnya, padahal cukup beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Bila terpaksa ia lakukan, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernapas." (HR Ahmad, Nasa'i, Tirmidzi, dan beberapa perawi lainnya).
Makan secara berlebihan dapat menyebabkan kelambanan dan kelebihan beban pada pencernaan serta fermentasi makanan dalam perut. Hal ini terkadang bisa mengakibatkan luka dan peradangan pada perut, kerongkongan, dan usus dua belas jari.
Hilmy al-Khuly dalam bukunya Mukjizat Kesembuhan Dalam Gerakan Shalat, menyebutkan, bila perut dipenuhi oleh makanan, kemudian timbul proses fermentasi di dalamnya, maka dapat menimbulkan berbagai efek negatif, yaitu in'ikas ashabiy (reflek gerak pemantulan dan pembalikan saraf) terhadap kondisi jantung; idhthirab al-qalb (denyut jantung berdebar-debar) yang tekanannya bisa menurun dan bisa pula meninggi; dan terjadinya kejang jantung.
Karena itu, Rasulullah SAW memberikan tuntunan dalam menyantap makan sebagai upaya mengendalikan syahwat makan. Pertama, qul bismillaahi, ucapkanlah bismillah ketika hendak makan. Kedua, kul biyamiinika, makanlah dengan tangan kananmu. Dan ketiga, kul mimmaa yaliika, makanlah yang terdekat denganmu. (HR Muslim).
Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW bersabda, "Kami adalah kaum yang tidak akan makan sampai kami merasa lapar. Jika kami makan, maka kami makan tidak sampai kenyang. (Rasulullah juga bersabda) Tinggalkanlah makanan (justru) ketika engkau sangat menginginkannya."
Dengan demikian, melalui pengendalian syahwat makan ini, kita akan terhindar dari berbagai macam penyakit yang mengancam kehidupan. Sebab, perut adalah sarangnya penyakit, sebagaimana dikatakan Harits bin Kaldah, seorang tabib bangsa Arab, "Diet (mengatur pola makan) adalah pokok segala pengobatan, sedangkan perut adalah sarang penyakit. Oleh karena itu, kembalikanlah tubuh pada kebutuhan proporsionalnya." Wallahu a'lam.
HU Republika Edisi Rabu, 15 Desember 2010
Kamis, 09 Desember 2010
MENGATASI JENUH DALAM BELAJAR
Oleh Imam Nur Suharno SPd MPdI
Belajar tidak selamanya menyenangkan. Dalam kondisi tertentu, saat belajar kadang muncul rasa bosan (boring). Kebosanan ini tak hanya menimpa siswa yang sudah lama belajar. Tetapi siswa yang baru masuk pun bisa mengalami hal yang serupa. Kebosanan bisa timbul karena belajar yang monoton, tekanan dalam belajar, ada masalah pribadi dengan teman dan masih banyak lagi. Karena kebosanan ini, kadang terbersit keinginan untuk pindah sekolah.
Pindah sekolah bukanlah solusi efektif. Sebab, kebosanan merupakan penyakit yang biasa menyerang para pelajar. Rasa bosan ini bisa terjadi kapan dan di mana saja. Jika kebosanan sudah menyerang biasanya lahir ketidakberdayaan dan kemalasan. Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan doa, ”Allahumma Inni A’udzubika Minal Hammi Wal Hazan, Wa A’udzubika Minal Ajzi Wal Kasal, Wa A’udzubika Minal Jubni Wal Bukhl, Wa A’udzubika Min Ghalabatid Daini Wa Qahrir Rijal” Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa sesak dada dan kesedihan, dan aku berlindung pada-Mu dari ketidakberdayaan dan kemalasan, dan aku berlindung pada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung pada-Mu dari problem keuangan dan tekanan orang lain.” (HR Abu Dawud).
Untuk memacu semangat tinggi dalam belajar perlu ditumbuh kembangkan dalam hati sanubari guna pengendalian boring tersebut. Pertama, nikmati suasana belajar sepenuh hati. Rasa bosan dalam belajar bisa dilawan dengan cara belajar untuk menikmati suasana belajar. Jangan sampai tubuh kita berada dalam kelas, tetapi pikiran berada di luar kelas. Penulis mengistilahkan ”Wujuduhu Kaadamihi” Adanya seperti tidak adanya. Jika hal ini terus berkembang akan menyebabkan ketertinggalan pelajaran. Pada akhirnya melahirkan ketidakbetahan dalam belajar. Dan ujung-ujungnya adalah pindah sekolah.
Kedua, memiliki rasa percaya diri. Rasa percaya diri adalah sumber energi untuk terus memusatkan perhatian pada pelajaran. Dan perlu menanamkan keyakinan mampu mempelajari dan mengerjakan berbagai sulitnya pelajaran yang dihadapi. Keyakinan ini akan membuat diri untuk bekerja keras. Hambatan dan kesulitan dalam belajar itu biasa, karenanya, teruslah belajar. Sebab, setumpul-tumpulnya pisau jika diasah terus-menerus akan tajam juga.
Ketiga, memiliki tujuan belajar yang jelas hendak dicapai. Dalam upaya memusatkan perhatian pada pelajaran, dituntut untuk membuat tujuan yang jelas dari pelajaran yang hendak dipelajari. Tujuan gunanya sebagai pedoman atau target yang hendak dikuasai. Dengan adanya tujuan yang hendak dicapai pasti siswa akan terpandu untuk memusatkan perhatian secara intensif pada pelajaran. Oleh karena itu, tujuan hendaknya dibuat dengan target yang besar, yang jauh ke depan, agar yang kecil-kecil atau yang dekat-dekat akan mudah diraih. Permisalan, jika kita membeli kambing, pasti akan memperoleh tambangnya. Jika membeli tambang, belum tentu dapat kambingnya. Tanamlah padi, pasti akan tumbuh rumput di sekitarnya. Dan jangan harap akan tumbuh padi bila kita menanam rumput.
Keempat, tanamkan cita-cita dari awal. Setiap siswa pasti memiliki cita-cita. Tentu dengan cita-cita ini akan memacu untuk belajar dengan tekun dan ulet. Karena dalam hati telah terpatri suatu harapan besar yang hendak dicapai. Dengan adanya cita-cita yang tertanam dalam hati tentu akan dapat memusatkan perhatian pada pelajaran yang dihadapi. Sebab, tanpa memusatkan perhatian pada pelajaran berarti cita-cita tidak akan bisa diraih.
Kelima, belajar dari pengalaman, baik pengalaman diri maupun orang lain. Pengalaman dari diri bisa berupa melakukan evaluasi terhadap kekurangan dan kesalahan diri sehingga bisa diperbaiki dikemudian hari. Sedangkan belajar melalui pengalaman orang lain bisa dengan mengambil hal-hal positif sebagai penunjang keberhasilan.
Keenam, hindari berpikir negatif. Pusatkan perhatian pada pelajaran sekarang. Jangan terlalu menghiraukan penilaian orang lain. Yang harus dilakukan adalah melakukan upaya terbaik sehingga bisa merasakan suatu kegembiraan karena telah mampu menyelesaikan pelajaran dengan baik.
Oleh karena itu, tidak bijaksana jika membiarkan anak didik terus menerus dalam kebosanan. Untuk itu, tugas guru untuk membimbingnya saat di sekolah, dan tugas orangtua saat di rumah. Dengan demikian, bila kemauan belajar telah bangkit, tentu berbagai kesulitan dalam belajar seperti rasa jemu, rasa bosan dan mengantuk akan segera sirna. Semoga.
* Tribun Jabar, Suluh, 30/11-2010
Belajar tidak selamanya menyenangkan. Dalam kondisi tertentu, saat belajar kadang muncul rasa bosan (boring). Kebosanan ini tak hanya menimpa siswa yang sudah lama belajar. Tetapi siswa yang baru masuk pun bisa mengalami hal yang serupa. Kebosanan bisa timbul karena belajar yang monoton, tekanan dalam belajar, ada masalah pribadi dengan teman dan masih banyak lagi. Karena kebosanan ini, kadang terbersit keinginan untuk pindah sekolah.
Pindah sekolah bukanlah solusi efektif. Sebab, kebosanan merupakan penyakit yang biasa menyerang para pelajar. Rasa bosan ini bisa terjadi kapan dan di mana saja. Jika kebosanan sudah menyerang biasanya lahir ketidakberdayaan dan kemalasan. Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan doa, ”Allahumma Inni A’udzubika Minal Hammi Wal Hazan, Wa A’udzubika Minal Ajzi Wal Kasal, Wa A’udzubika Minal Jubni Wal Bukhl, Wa A’udzubika Min Ghalabatid Daini Wa Qahrir Rijal” Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa sesak dada dan kesedihan, dan aku berlindung pada-Mu dari ketidakberdayaan dan kemalasan, dan aku berlindung pada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung pada-Mu dari problem keuangan dan tekanan orang lain.” (HR Abu Dawud).
Untuk memacu semangat tinggi dalam belajar perlu ditumbuh kembangkan dalam hati sanubari guna pengendalian boring tersebut. Pertama, nikmati suasana belajar sepenuh hati. Rasa bosan dalam belajar bisa dilawan dengan cara belajar untuk menikmati suasana belajar. Jangan sampai tubuh kita berada dalam kelas, tetapi pikiran berada di luar kelas. Penulis mengistilahkan ”Wujuduhu Kaadamihi” Adanya seperti tidak adanya. Jika hal ini terus berkembang akan menyebabkan ketertinggalan pelajaran. Pada akhirnya melahirkan ketidakbetahan dalam belajar. Dan ujung-ujungnya adalah pindah sekolah.
Kedua, memiliki rasa percaya diri. Rasa percaya diri adalah sumber energi untuk terus memusatkan perhatian pada pelajaran. Dan perlu menanamkan keyakinan mampu mempelajari dan mengerjakan berbagai sulitnya pelajaran yang dihadapi. Keyakinan ini akan membuat diri untuk bekerja keras. Hambatan dan kesulitan dalam belajar itu biasa, karenanya, teruslah belajar. Sebab, setumpul-tumpulnya pisau jika diasah terus-menerus akan tajam juga.
Ketiga, memiliki tujuan belajar yang jelas hendak dicapai. Dalam upaya memusatkan perhatian pada pelajaran, dituntut untuk membuat tujuan yang jelas dari pelajaran yang hendak dipelajari. Tujuan gunanya sebagai pedoman atau target yang hendak dikuasai. Dengan adanya tujuan yang hendak dicapai pasti siswa akan terpandu untuk memusatkan perhatian secara intensif pada pelajaran. Oleh karena itu, tujuan hendaknya dibuat dengan target yang besar, yang jauh ke depan, agar yang kecil-kecil atau yang dekat-dekat akan mudah diraih. Permisalan, jika kita membeli kambing, pasti akan memperoleh tambangnya. Jika membeli tambang, belum tentu dapat kambingnya. Tanamlah padi, pasti akan tumbuh rumput di sekitarnya. Dan jangan harap akan tumbuh padi bila kita menanam rumput.
Keempat, tanamkan cita-cita dari awal. Setiap siswa pasti memiliki cita-cita. Tentu dengan cita-cita ini akan memacu untuk belajar dengan tekun dan ulet. Karena dalam hati telah terpatri suatu harapan besar yang hendak dicapai. Dengan adanya cita-cita yang tertanam dalam hati tentu akan dapat memusatkan perhatian pada pelajaran yang dihadapi. Sebab, tanpa memusatkan perhatian pada pelajaran berarti cita-cita tidak akan bisa diraih.
Kelima, belajar dari pengalaman, baik pengalaman diri maupun orang lain. Pengalaman dari diri bisa berupa melakukan evaluasi terhadap kekurangan dan kesalahan diri sehingga bisa diperbaiki dikemudian hari. Sedangkan belajar melalui pengalaman orang lain bisa dengan mengambil hal-hal positif sebagai penunjang keberhasilan.
Keenam, hindari berpikir negatif. Pusatkan perhatian pada pelajaran sekarang. Jangan terlalu menghiraukan penilaian orang lain. Yang harus dilakukan adalah melakukan upaya terbaik sehingga bisa merasakan suatu kegembiraan karena telah mampu menyelesaikan pelajaran dengan baik.
Oleh karena itu, tidak bijaksana jika membiarkan anak didik terus menerus dalam kebosanan. Untuk itu, tugas guru untuk membimbingnya saat di sekolah, dan tugas orangtua saat di rumah. Dengan demikian, bila kemauan belajar telah bangkit, tentu berbagai kesulitan dalam belajar seperti rasa jemu, rasa bosan dan mengantuk akan segera sirna. Semoga.
* Tribun Jabar, Suluh, 30/11-2010
Senin, 22 November 2010
GURU MERUPAKAN AHLI WARIS PARA NABI
Oleh Imam Nur Suharno SPd MPdI
Direktur Pendidikan Yayasan Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
Guru adalah insan yang sangat dihormati dan dimuliakan. Pada suatu hari, Rasulullah SAW keluar dari rumah. Tiba-tiba beliau melihat ada dua majelis yang berbeda. Majelis yang pertama ialah majelis orang-orang ibadah yang sedang berdoa kepada Allah SWT dengan segala kecintaan kepada-Nya, sedangkan majelis yang kedua ialah majelis pendidikan atau pengajaran yang terdiri atas para guru dan sejumlah muridnya.
Melihat dua majelis yang berbeda tersebut, beliau bersabda, ”Adapun mereka dari majelis ibadah, mereka sedang berdoa kepada Allah. Jika mau, Allah menerima doa mereka, dan jika tidak, Allah menolak doa mereka itu. Tetapi, mereka yang termasuk dalam majelis pengajaran, mereka sedang mengajar manusia. Sesungguhnya aku diutus oleh Allah adalah juga menjadi seorang guru.” Kemudian beliau sendiri datang mendekati majelis yang kedua yaitu majelis pendidikan, bahkan beliau ikut duduk bersama mereka mendengar pengajaran yang disampaikan oleh seorang guru. (Khairul Anwar bin Mastor dalam bukunya Personaliti Pelajar Muslim).
Bahkan, Ahmad Syauki, seorang penyair Mesir, pernah menyatakan bahwa guru itu hampir seperti seorang rasul. Mungkin itu terlalu berlebihan. Karena memang pada dasarnya, antara rasul dan guru memiliki tugas dan peranan yang sama yaitu mendidik, mengajar, dan membina umat.
Dalam Alquran Allah SWT menegaskan tugas para rasul, “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Ali Imran [3]: 164).
Dalam ayat tersebut setidaknya ada tiga tugas pokok seorang rasul yang bisa dijadikan pegangan oleh setiap guru, yaitu pertama, membacakan ayat-ayat Allah (at-tilawah); kedua, membersihkan jiwa (at-tazkiyah); dan ketiga, mengajarkan Al-Qur’an (al-kitab) dan sunah (al-hikmah).
Selain sebagai profesi yang mulia, guru juga sebagai arsitek peradaban bangsa. Itu karena maju dan mundurnya tatanan bangsa ke depan akan sangat bergantung pada peran seorang guru dalam menyiapkan calon pemimpin/pengelola bangsa pada masa yang akan datang.
Guru merupakan profesi yang paling mulia, agung dan dihormati. Hal itu karena pertama, guru sebagai ahli waris para nabi. Guru dihormati karena ilmunya, yaitu ilmu yang diwariskan Rasulullah SAW melalui para sahabat, tabi’in, tabi’ut-tabi’in, para ulama dan guru terdahulu. Karena itulah, para guru pantas disebut sebagai ahli waris para nabi. Namun, guru yang tidak mengamalkan dan mengajarkan ilmu sesuai tuntunan Rasulullah SAW bukan ahli waris para nabi. (Fuad Asy-Syalhub dalam bukunya Guruku Muhammad SAW).
Kedua, menjadi guru berarti memiliki peluang mendapatkan amalan yang terus mengalir, yaitu dengan mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada peserta didik. Sabda Nabi SAW, “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang selalu berdoa untuknya.” (H.R. Muslim).
Menurut Syaikh Jamal Abdul Rahman, jika guru mampu mendidik siswa menjadi saleh, maka hal itu masuk ke dalam ketiga kategori amal yang tidak akan putus sebagaimana dalam hadis di atas. Maksudnya, waktu dan tenaga yang disisihkan guru untuk mendidik siswa bisa menjadi sedekah jariyah. Ilmu yang guru sampaikan kepada siswa akan menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan, siswa yang dididik guru akan menjadi anak yang saleh, yang akan mendoakan dirinya, baik ketika guru masih hidup atau sudah meninggal dunia.
Ketiga, guru banyak menciptakan generasi penerus bangsa. Pembangunan pendidikan memiliki peran sangat penting dan strategis dalam pembangunan bangsa, sehingga sejak awal para pendiri bangsa telah menggariskannya dalam salah satu tujuan bernegara di dalam pembukaan UUD 1945, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Bahkan, sebelum bangsa ini merdeka, Ki Hajar Dewantoro sebagai Bapak Pendidikan menyatakan bahwa, melalui pendidikanlah manusia Indonesia bisa jadi maju dan beradab sehingga bisa bergaul, sejajar dan dikenal di antara bangsa-bangsa di dunia.
Keempat, guru adalah profesi yang paling sehat diantara semua profesi yang ada, termasuk pengacara, dokter, pengusaha, dan lainnya. Kesehatan mental guru paling tinggi di antara semua profesi. Peneliti dari South Florida, yang melakukan survei terhadap 180.000 pekerja profesional di seluruh dunia mengatakan, profesi guru lebih dari sekadar pekerjaan, tetapi merupakan sebuah panggilan. Para guru mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang menyenangkan karena langsung berhubungan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.
Karena itu, wajar jika pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan guru. Terbitnya UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menjadi harapan baru bagi profesi pendidik. Dalam UU tersebut disebutkan bahwa guru akan mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik, yaitu pemerintah akan memberikan tunjangan profesi yang setara dengan satu kali gaji pokok.
Oleh karena itu, wahai para guru, “Ajarilah anak didikmu, bukan dalam keadaan yang serupa denganmu. Didiklah dan persiapkanlah mereka untuk suatu zaman yang bukan zamanmu. Mereka akan hidup pada suatu zaman yang bukan zamanmu.” (Ali bin Abi Tahlib). Wallahu a’lam.
* Pikiran Rakyat, Teropong, Senin, 15/11-2010
Direktur Pendidikan Yayasan Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
Guru adalah insan yang sangat dihormati dan dimuliakan. Pada suatu hari, Rasulullah SAW keluar dari rumah. Tiba-tiba beliau melihat ada dua majelis yang berbeda. Majelis yang pertama ialah majelis orang-orang ibadah yang sedang berdoa kepada Allah SWT dengan segala kecintaan kepada-Nya, sedangkan majelis yang kedua ialah majelis pendidikan atau pengajaran yang terdiri atas para guru dan sejumlah muridnya.
Melihat dua majelis yang berbeda tersebut, beliau bersabda, ”Adapun mereka dari majelis ibadah, mereka sedang berdoa kepada Allah. Jika mau, Allah menerima doa mereka, dan jika tidak, Allah menolak doa mereka itu. Tetapi, mereka yang termasuk dalam majelis pengajaran, mereka sedang mengajar manusia. Sesungguhnya aku diutus oleh Allah adalah juga menjadi seorang guru.” Kemudian beliau sendiri datang mendekati majelis yang kedua yaitu majelis pendidikan, bahkan beliau ikut duduk bersama mereka mendengar pengajaran yang disampaikan oleh seorang guru. (Khairul Anwar bin Mastor dalam bukunya Personaliti Pelajar Muslim).
Bahkan, Ahmad Syauki, seorang penyair Mesir, pernah menyatakan bahwa guru itu hampir seperti seorang rasul. Mungkin itu terlalu berlebihan. Karena memang pada dasarnya, antara rasul dan guru memiliki tugas dan peranan yang sama yaitu mendidik, mengajar, dan membina umat.
Dalam Alquran Allah SWT menegaskan tugas para rasul, “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Ali Imran [3]: 164).
Dalam ayat tersebut setidaknya ada tiga tugas pokok seorang rasul yang bisa dijadikan pegangan oleh setiap guru, yaitu pertama, membacakan ayat-ayat Allah (at-tilawah); kedua, membersihkan jiwa (at-tazkiyah); dan ketiga, mengajarkan Al-Qur’an (al-kitab) dan sunah (al-hikmah).
Selain sebagai profesi yang mulia, guru juga sebagai arsitek peradaban bangsa. Itu karena maju dan mundurnya tatanan bangsa ke depan akan sangat bergantung pada peran seorang guru dalam menyiapkan calon pemimpin/pengelola bangsa pada masa yang akan datang.
Guru merupakan profesi yang paling mulia, agung dan dihormati. Hal itu karena pertama, guru sebagai ahli waris para nabi. Guru dihormati karena ilmunya, yaitu ilmu yang diwariskan Rasulullah SAW melalui para sahabat, tabi’in, tabi’ut-tabi’in, para ulama dan guru terdahulu. Karena itulah, para guru pantas disebut sebagai ahli waris para nabi. Namun, guru yang tidak mengamalkan dan mengajarkan ilmu sesuai tuntunan Rasulullah SAW bukan ahli waris para nabi. (Fuad Asy-Syalhub dalam bukunya Guruku Muhammad SAW).
Kedua, menjadi guru berarti memiliki peluang mendapatkan amalan yang terus mengalir, yaitu dengan mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada peserta didik. Sabda Nabi SAW, “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang selalu berdoa untuknya.” (H.R. Muslim).
Menurut Syaikh Jamal Abdul Rahman, jika guru mampu mendidik siswa menjadi saleh, maka hal itu masuk ke dalam ketiga kategori amal yang tidak akan putus sebagaimana dalam hadis di atas. Maksudnya, waktu dan tenaga yang disisihkan guru untuk mendidik siswa bisa menjadi sedekah jariyah. Ilmu yang guru sampaikan kepada siswa akan menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan, siswa yang dididik guru akan menjadi anak yang saleh, yang akan mendoakan dirinya, baik ketika guru masih hidup atau sudah meninggal dunia.
Ketiga, guru banyak menciptakan generasi penerus bangsa. Pembangunan pendidikan memiliki peran sangat penting dan strategis dalam pembangunan bangsa, sehingga sejak awal para pendiri bangsa telah menggariskannya dalam salah satu tujuan bernegara di dalam pembukaan UUD 1945, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Bahkan, sebelum bangsa ini merdeka, Ki Hajar Dewantoro sebagai Bapak Pendidikan menyatakan bahwa, melalui pendidikanlah manusia Indonesia bisa jadi maju dan beradab sehingga bisa bergaul, sejajar dan dikenal di antara bangsa-bangsa di dunia.
Keempat, guru adalah profesi yang paling sehat diantara semua profesi yang ada, termasuk pengacara, dokter, pengusaha, dan lainnya. Kesehatan mental guru paling tinggi di antara semua profesi. Peneliti dari South Florida, yang melakukan survei terhadap 180.000 pekerja profesional di seluruh dunia mengatakan, profesi guru lebih dari sekadar pekerjaan, tetapi merupakan sebuah panggilan. Para guru mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang menyenangkan karena langsung berhubungan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.
Karena itu, wajar jika pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan guru. Terbitnya UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menjadi harapan baru bagi profesi pendidik. Dalam UU tersebut disebutkan bahwa guru akan mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik, yaitu pemerintah akan memberikan tunjangan profesi yang setara dengan satu kali gaji pokok.
Oleh karena itu, wahai para guru, “Ajarilah anak didikmu, bukan dalam keadaan yang serupa denganmu. Didiklah dan persiapkanlah mereka untuk suatu zaman yang bukan zamanmu. Mereka akan hidup pada suatu zaman yang bukan zamanmu.” (Ali bin Abi Tahlib). Wallahu a’lam.
* Pikiran Rakyat, Teropong, Senin, 15/11-2010
Sabtu, 02 Oktober 2010
Keutamaan Istighfar
Imam Nur Suharno MPdI
Muhammad Shalih Al-Khuzaim dalam bukunya Shifat Shalat Qiyamullail, menjelaskan bahwa istighfar merupakan penutup amal saleh, penutup shalat, haji, puasa, dan juga penutup majelis. Istighfar berfungsi untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang diperbuat selama melaksanakan ibadah tersebut. Selain itu, istighfar juga sebagai penyebab utama mendapatkan ampunan Allah SWT.
Karena itu, setiap Muslim hendaknya memperbanyak istighfar dalam berbagai kesempatan. Minimal mengucapkan: Astaghfirullah, Rabbighfirli, Allahummaghfirli, dan yang lainnya. Melalui istighfar tersebut seseorang akan memperoleh banyak keutamaan.
Pertama, dihapus kejelekannya dan diangkat derajatnya. "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS An-Nisa' [4]: 110).
Kedua, dilapangkan rezeki, anak, harta, dan penyebab turunnya hujan. "Maka Aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?" (QS Nuh [71]: 10-13).
Ketiga, ditambah kekuatannya. "Dan (dia berkata): 'Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa'." (QS Hud [11]: 52).
Keempat, dilenyapkan dosanya. Setiap dosa meninggalkan noda hitam pada hati. Noda hitam bisa lenyap dengan melakukan istighfar. "Sesungguhnya bila seorang Mukmin melakukan satu dosa, pada hatinya timbul satu noda hitam. Bila dia bertobat, berhenti dari maksiat, dan beristighfar, niscaya mengilap hatinya." (HR Ahmad).
Kelima, dimudahkan segala urusannya. "Barangsiapa membiasakan diri untuk beristighfar, Allah akan memberikan jalan keluar baginya dari setiap kesulitan, akan memberikan kebahagiaan dari setiap kesusahan, dan akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).
Untuk itu, ketahuilah, dalam sebuah atsar disebutkan bahwa, "Sesungguhnya Iblis pernah berkata: 'Aku membinasakan manusia dengan dosa, dan mereka membinasakanku dengan La Ilaha Illallah dan istighfar'." Wallahu a'lam.
Muhammad Shalih Al-Khuzaim dalam bukunya Shifat Shalat Qiyamullail, menjelaskan bahwa istighfar merupakan penutup amal saleh, penutup shalat, haji, puasa, dan juga penutup majelis. Istighfar berfungsi untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang diperbuat selama melaksanakan ibadah tersebut. Selain itu, istighfar juga sebagai penyebab utama mendapatkan ampunan Allah SWT.
Karena itu, setiap Muslim hendaknya memperbanyak istighfar dalam berbagai kesempatan. Minimal mengucapkan: Astaghfirullah, Rabbighfirli, Allahummaghfirli, dan yang lainnya. Melalui istighfar tersebut seseorang akan memperoleh banyak keutamaan.
Pertama, dihapus kejelekannya dan diangkat derajatnya. "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS An-Nisa' [4]: 110).
Kedua, dilapangkan rezeki, anak, harta, dan penyebab turunnya hujan. "Maka Aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?" (QS Nuh [71]: 10-13).
Ketiga, ditambah kekuatannya. "Dan (dia berkata): 'Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa'." (QS Hud [11]: 52).
Keempat, dilenyapkan dosanya. Setiap dosa meninggalkan noda hitam pada hati. Noda hitam bisa lenyap dengan melakukan istighfar. "Sesungguhnya bila seorang Mukmin melakukan satu dosa, pada hatinya timbul satu noda hitam. Bila dia bertobat, berhenti dari maksiat, dan beristighfar, niscaya mengilap hatinya." (HR Ahmad).
Kelima, dimudahkan segala urusannya. "Barangsiapa membiasakan diri untuk beristighfar, Allah akan memberikan jalan keluar baginya dari setiap kesulitan, akan memberikan kebahagiaan dari setiap kesusahan, dan akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).
Untuk itu, ketahuilah, dalam sebuah atsar disebutkan bahwa, "Sesungguhnya Iblis pernah berkata: 'Aku membinasakan manusia dengan dosa, dan mereka membinasakanku dengan La Ilaha Illallah dan istighfar'." Wallahu a'lam.
Langganan:
Postingan (Atom)