Rabu, 29 Februari 2012

MAULID NABI SAW SEPANJANG TAHUN

Oleh H Imam Nur Suharno MPdI
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (SETIA) Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

Peringatan Maulid Nabi SAW, 12 Rabiul Awal 1433, telah diperingati. Usainya peringatan Maulid Nabi SAW bukan berarti usai pula meneladani kehidupannya. Justru, keberhasilan dalam peringatan maulid itu adalah adanya keberlangsungan meneladani nilai-nilai kehidupan Nabi SAW dalam sepanjang kehidupan umat manusia. Sebab peringatan itu bukan dengan gembyarnya acara, tetapi bagaimana upaya kita terus menghadirkan (meneladani) Nabi SAW dalam setiap lini kehidupan kita.
Mengkaji kisah perjalanan hidup Rasulullah SAW bagaikan mengarungi lautan yang tak bertepi karena sangat luas, sangat kaya, dan sangat mencerahkan. Keluasan suri teladan Muhammad SAW mencakup semua aspek hidup dan kehidupan. Karena itu, peringatan Maulid Nabi hendaknya jangan dibatasi satu tahun sekali, akan tetapi hendaknya setiap hari kita memperingatinya dengan cara menghidupkan sunnah-sunnah dan ajaran beliau ke dalam kehidupan kita.
Sungguh pada diri Nabi SAW terdapat suri teladan yang agung. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab [33]: 21).

Akhlak Nabi SAW
Rasulullah SAW tidak memerintahkan kepada para sahabatnya untuk melakukan sesuatu, melainkan beliau pun melakukannya. Dikisahkan dari Al Barra’ bin Adzib, ia berkata: “Kulihat beliau mengangkuti tanah galian parit, hingga banyak debu yang menempel di kulit perutnya. Sempat pula kudengar beliau bersabda, “Ya Allah, andaikan bukan karena Engkau, tentu kami tidak akan mendapat petunjuk, tidak bershadaqah dan tidak shalat. Turunkanlah ketenteraman kepada kami dan kokohkanlah pendirian kami jika kami berperang. Sesungguhnya para kerabat banyak yang sewenang-wenang kepada kami. Jika mereka menghendaki cobaan, kami tidak menginginkannya.”
Rasulullah SAW mengedepankan kebersamaan dalam penyelesaian masalah. Direntangkannya sebuah kain besar, kemudian hajar aswad diletakkan di bagian tengahnya, lalu beliau meminta kepada setiap pemimpin kabilah untuk memegang ujung kain tersebut. Setelah itu, hajar aswad disimpan ke tempat semula di Ka’bah. Dengan cara seperti itu, tidak satupun kabilah yang merasa dirugikan, bahkan mereka sepakat untuk menggelari beliau sebagai al amin (orang yang terpercaya).
Rasulullah SAW mengedepankan akhlak mulia dalam pergaulan. Dalam sebuah riwayat Husain bin Ali cucu Rasulullah SAW menceritakan bagaimana keagungan akhlak beliau. Rasulullah SAW selalu menyenangkan, santai dan terbuka, mudah berkomunikasi dengan siapa pun, lemah lembut dan sopan, tidak keras dan tidak terlalu lunak, tidak pernah mencela, tidak pernah menuntut dan menggerutu, tidak mengulur waktu dan tidak tergesa-gesa.
Rasulullah SAW menjauhkan tiga hal yaitu riya, boros, dan sesuatu yang tidak berguna. Rasulullah SAW juga tidak pernah mencaci seseorang dan menegur karena kesalahannya, tidak mencari kesalahan orang, tidak berbicara kecuali yang bermanfaat. Kalau beliau berbicara, maka yang lain diam menunduk, tidak pernah disela atau dipotong pembicaraannya, membiarkan orang menyelesaikan pembicaraannya, tertawa bersama mereka yang tertawa, heran bersama orang yang heran, rajin dan sabar menghadapi orang asing yang tidak sopan, segera memberi apa-apa yang diperlukan orang yang tertimpa kesusahan, tidak menerima pujian kecuali dari yang pernah dipuji olehnya (HR Tirmidzi).
Bahkan, saat Rasulullah SAW disakiti oleh orang-orang yang menentangnya pun beliau tidak pernah membalasnya. Beliau menghadapinya dengan penuh kesabaran. Alkisah, setiap kali Rasulullah melintas di depan rumah wanita tua, beliau selalu diludahi oleh wanita tua itu. Suatu hari, saat Rasulullah SAW melewati rumah wanitu tua itu, beliau tidak bertemu dengannya. Karena penasaran, beliau pun bertanya kepada seseorang tentang wanita tua itu. Justru orang yang ditanya pun malah heran, kenapa Rasulullah menanyakan kabar tentang wanita tua yang telah berlaku buruk kepadanya.
Setelah Rasulullah mendapatkan jawaban, bahwa wanita tua yang biasa meludahinya itu ternyata sedang sakit. Bukannya gembira justru beliau memutuskan untuk menjenguknya. Wanita tua itu tidak menyangka jika Rasulullah mau menjenguknya. Bahkan, ketika si wanita tua itu sadar bahwa manusia yang menjenguknya adalah orang yang selalu diludahinya setiap kali melewati depan rumahnya, si wanita tua itu pun menangis di dalam hatinya, ”Duhai betapa luhur budi manusia ini. Kendati tiap hari aku ludahi, justru dialah orang pertama yang menjengukku kemari.
Dengan menitikkan air mata haru dan bahagia, si wanita tua itu lantas bertanya, ”Wahai Muhammad, kenapa engkau menjengukku, padahal tiap hari aku meludahimu?” Rasulullah menjawab, ”Aku yakin engkau meludahiku karena engkau belum tahu tentang kebenaranku. Jika engkau telah mengetahuinya, aku yakin engkau tidak akan melakukannya.”
Mendengar jawaban bijak dari Rasulullah, wanita tua itu pun menangis dalam hati. Dadanya sesak, tenggorokannya terasa tersekat. Kemudian dengan penuh kesadaran, dia pun berkata, ”Wahai Muhammad, mulai saat ini aku bersaksi untuk mengikuti agamamu.” Lantas wanita tua itu pun mengikrarkan dua kalimat syahadat, ”Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Subhanallah. Demikianlah kisah keluhuran akhlak Rasulullah SAW yang sangat menakjubkan.
Demikianlah sebagian kisah mulia dari manusia agung, Nabi Muhammad SAW. Tentu, masih banyak kisah-kisah mulia lainnya yang hendaknya terus digali, disosialisasikan, dan diteladani di tengah-tengah masyarakat yang sedang dilanda krisis keteladanan. Wallahu a’lam.

•HU Kabar Cirebon, Opini, 10/2/2012

Kamis, 02 Februari 2012

MENYALAHGUNAKAN JABATAN

Oleh H Imam Nur Suharno MPdI

Suatu hari, Ibnu Al-Lutaibah seorang petugas zakat datang menghadap Rasulullah SAW melaporkan dan menyerahkan hasil penarikan zakat dengan mengatakan: “Ini untukmu, dan yang ini telah dihadiahkan kepadaku!” Rasulullah SAW seketika tersentak mendengar laporan inventaris dan keuangan zakat dari amil beliau yang berasal dari suku Uzdi ini. Dengan penuh geram dan heran Rasulullah SAW berdiri di atas mimbar seraya mengatakan: “Ada apa gerangan seorang petugas yang kami utus untuk menjalankan suatu tugas lalu mengatakan: “Ini untukmu (Wahai Rasulullah), dan yang ini telah dihadiahkan untukku!” Kenapa ia tidak duduk saja di rumah bapak dan ibunya, lalu ia melihat apakah ia diberi hadiah atau tidak?” Lanjutnya: “Demi Tuhan yang jiwa kalian berada di tangan-Nya, bahwa tiada yang membawa sesuatupun dari hadiah-hadiah tersebut kecuali ia akan membawanya sebagai beban tengkuknya pada hari kiamat.” (HR Imam Ahmad).
Rasulullah SAW sangat geram terhadap Ibnu Al-Lutaibah yang telah menyalahgunakan jabatannya untuk memperkaya diri. Di kalangan masyarakat hal ini biasanya disebut dengan berbagai istilah, seperti money politics, uang sogok, uang kompromi, uang pelicin, dan sebagainya, tetapi esensinya sama yaitu suap (risywah).
Menurut Al-Fayumi, suap adalah pemberian seseorang kepada hakim atau yang lainnya supaya memberikan keputusan yang menguntungkannya atau membuat orang yang diberi melakukan apa yang diinginkan oleh yang memberi.
Suap identik dengan memakan harta secara yang batil. Karena itu, “Janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 188).
Dalam menafsirkan ayat di atas, Al-Haitsami berkata, “Janganlah kalian ulurkan kepada hakim pemberian kalian, yaitu dengan cara mengambil muka dan menyuap mereka, dengan harapan mereka akan memberikan hak orang lain kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui hal itu tidak halal bagi kalian.”
Rasulullah SAW sangat mengecam kepada para penyuap, penerima, penghubung dan siapa saja yang terlibat dalam proses terjadinya suap. “Rasulullah melaknat penyuap dan orang yang menerima suap.” (HR Abu Daud). Dalam hadis yang lain, Nabi SAW melaknat penghubung antara penyuap dan yang disuap. (HR Hakim).
Oleh karena itu, hanya dengan ketegasan dan memberikan hukuman yang seberat-beratnya bagi para pelaku dan yang terlibat dalam suap maka budaya penyalahgunaan jabatan akan dapat dikendalikan. Wallahu a’lam.

•dakwatuna.com, 12/1/2012

MERINDUKAN KA'BAH

Oleh H Imam Nur Suharno SPd MPdI
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (SETIA) Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

Masih terngiang di benak penulis saat merasakan puncak spiritualitas selama melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci beberapa waktu yang lalu. Rindu ingin kembali lagi.
Itulah kalimat yang selalu menggelayuti perasaan para jamaah haji setibanya dari Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah. Hal itu pun penulis rasakan dengan kerinduan yang amat sangat.
Mengapa perasaan itu selalu menghiasi setiap jamaah haji? Selain tarikan keutamaan ibadah di Tanah Suci, seperti lipatan pahala sampai seribu kali lipat jika beribadah di Masjid Nabawi dan seratus ribu kali lipat jika beribadah di Masjidil Haram (HR Ahmad), ada beberapa hal yang menjadi alasan.
Pertama, merasa amalan yang dikerjakan selama di Tanah Suci kurang maksimal. Kedua, khawatir amal yang sedikit itu tidak diterima. Ketiga, tidak dapat melaksanakan rukun, wajib, dan sunah-sunah haji secara sempurna. Hal ini mungkin terjadi karena kondisi kesehatan dan fisik jamaah. Terlepas dari itu semua, ada satu tarikan kenikmatan spiritual yang sangat tinggi yang tidak dapat di rasakan oleh orang lain, kecuali oleh para jamaah haji sendiri.
Oleh karena itu, ada beberapa amalan pasca-ibadah haji yang hendaknya selalu dikerjakan oleh setiap jamaah haji setibanya dari Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah agar kenikmatan spiritualitas itu tetap terpelihara.
Pertama, penuh harap dan banyak berdoa. Perasaan takut (khauf) saja tidak cukup, harus diimbangi dengan perasaan penuh harap (raja’) kepada Allah SWT. Sebab, perasaan khauf tanpa raja’ akan menyebabkan putus asa. Sebaliknya, perasaan raja’ saja tanpa khauf akan menyebabkan perasaan sombong.
Oleh karena itu, berharap diterimanya amal disertai perasaan takut amalnya ditolak akan mewariskan sikap tawadhu’ (rendah hati). Di saat harapannya terwujud, ia akan memohon kepada Allah SWT agar menerima amalannya. Sikap seperti inilah yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Dalam firman Allah SWT, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 127).
Kedua, memperbanyak istighfar. Meskipun seseorang telah berupaya secara maksimal untuk menyempurnakan amal ibadahnya, tetap akan menyisakan kekurangan. Oleh karena itu Allah SWT mengajarkan kepada kita bagaimana menghilangkan kekurangan tersebut, yaitu dengan memperbanyak istighfar setelah melaksanakan ibadah.
Allah SWT berfirman setelah menyebut manasik haji, “Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Baqarah [2]: 199).
Ketiga, memperbanyak amal saleh. Sesungguhnya amal saleh adalah ibarat pohon yang baik, yang membutuhkan siraman dan perawatan agar tumbuh dan menjadi kokoh, lalu memberikan buahnya. Dan, di antara tanda kemabruran haji adalah bertambah baiknya amal dan akhlak seseorang sekembalinya dari haji.
Rasulullah SAW bersabda, “Haji mabrur (yang diterima) itu tidak memiliki balasan kecuali surga.” Ketika ditanyakan kepada beliau, apa tanda mabrurnya? Rasulullah SAW bersabda, “Yaitu memberi makan (kepada orang) dan bagus ucapan.” (HR Thabrani).
Artinya, seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji hendaknya semakin peduli terhadap kaum muslimin, seperti memperbanyak infak dan bersedekah untuk orang-orang yang membutuhkan, dan meningkatkan peran dakwah di tengah-tengah masyarakat. Selain itu, ia semakin mulia dengan murah senyum dan sapaannya yang lembut serta salam yang menyejukkan.
Keempat, memperbanyak dzikir. Hal ini ditegaskan melalui firman Allah SWT, “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.“ (QS Al-Baqarah [2]: 200).
Teriring salam doa semoga Allah SWT menjadikan haji yang telah kita tunaikan sebagai haji yang mabrur, sa’i yang masykur, dosa yang diampuni, dan menjadikan amal-amal kita sebagai amalan saleh yang diterima di sisi-Nya.
Pun, kita berharap selain keinginan kembali ke Tanah Suci dapat terkabulkan, juga berharap semoga saudara-saudara kita kaum muslimin yang belum berkesempatan ke Tanah Suci dimudahkan oleh Allah SWT untuk menunaikan ibadah haji pada tahun-tahun yang akan datang. Amin.

•Kabar Cirebon, Opini, 20/1/2012

Selasa, 03 Januari 2012

AMALAN PELANCAR REZEKI

Oleh H Imam Nur Suharno SPd MPdI

Setiap orang pasti mendambakan rezeki yang halal, baik, berkah, dan melimpah. Tentu, dengan rezeki tersebut seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan untuk mendapatkannya, selain dengan bekerja keras secara ikhlas, tuntas dan cerdas, seseorang harus mengetahui amalan-amalan apa saja yang dapat memperlancar turunnya rezeki.
Di antara amalan-amalan tersebut adalah, pertama, memperbanyak istighfar dan bertaubat. “Maka Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS Nuh [71]: 10-12).
Kedua, meningkatkan ketakwaan. “....Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS At-Thalaq [65]: 2-3).
Ketiga, gemar menyambung tali silaturrahim. “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahim.” (HR Bukhari dan Muslim).
Keempat, gemar mendermakan harta. “Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS Saba’[34]: 39).
Kelima, membiasakan ibadah dengan benar. ”Sesungguhnya Allah berfirman, ”Wahai anak Adam, sibukkanlah untuk beribadah kepada-Ku, niscara akan Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku tutup kefakiranmu. Jika tidak kamu lakukan niscaya akan Aku penuhi pada kedua tanganmu kesibukan dan tidak Aku tutup kefakiranmu.” (HR Ahmad).
Keenam, menunaikan ibadah haji dan umrah. ”Lakukanlah haji dan umrah, karena keduanya akan menghapus kefakiran dan dosa sebagaimana api menghilangkan karat besi, emas, dan perak.” (HR Ahmad).
Ketujuh, hijrah di jalan Allah (fisabilillah). ”Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisa’ [4]: 100).
Kedelapan, tawakkal kepada Allah. ”Seandainya kalian mau bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, pasti Allah akan memberikan rezeki kepadamu sebagaimana burung yang diberi rezeki, pagi-pagi dia dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).
Kesembilan, mendawamkan shalat Dhuha. “Barangsiapa shalat Dhuha enam rakaat, ia akan dicukupi kebutuhannya hari itu.” (HR Thabrani dan Abu Darda’).
Kesepuluh, menafkahi penuntut ilmu. Anas bin Malik RA berkata, ”Dulu ada dua orang bersaudara pada masa Rasulullah SAW. Salah seorang menuntut ilmu pada majelis Rasulullah SAW, sedangkan yang lainnya bekerja. Lalu saudaranya yang bekerja itu mengadu kepada Rasulullah SAW (lantaran ia memberi nafkah kepada saudaranya itu). Maka Nabi SAW bersabda, ”Mudah-mudahan engkau diberi rezeki dengan sebab dia.” (HR Tirmidzi). Wallahu a’lam.

•Republika Online, Hikmah, 4/1/2012

Minggu, 01 Januari 2012

DUNIA DAN ILUSINYA

Oleh H Imam Nur Suharno MPdI

Nilai kehidupan dunia tidak diukur dari melimpahnya harta, tingginya jabatan, ataupun kesenangan duniawi belaka, semua itu bersifat sementara. Karena itu, janganlah menjadikan semua itu sebagai tujuan akhir dari kehidupan dunia.
Alquran menggambarkan kehidupan dunia dengan berbagai sebutan yang menunjukkan hakikat kehidupan dunia sebenarnya agar manusia tidak terlena dalam urusan dunia, dan melupakan kehidupan akhirat.
Pertama, al-la’b wa-lahwu (permainan dan senda gurau). Kesenangan dunia hanya sebentar, tidak kekal. Untuk itu, jangan mudah terpedaya olehnya, serta lalai dari memperhatikan urusan akhirat. Sesungguhnya kenikmatan dunia itu hanya sebagai penghilang kepedihan, dan tidak lebih dari permainan dan senda gurau belaka.
Allah SWT berfirman, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An’am [6]: 32).
Kedua, al-zinah (perhiasan). Kehidupan dunia berupa wanita, keturunan, harta dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak, sawah ladang, dan sejenisnya hanyalah sebuah perhiasan, bukan suatu nilai. Semuanya adalah sarana, bukan tujuan.
Allah SWT berfirman, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran [3]: 14).
Ketiga, al-ghurur (tipuan). Penggambaran dunia dengan al-ghurur, karena dunia dapat menundukkan manusia, membuat mereka condong kepadanya, dan lalai dari apa yang seharusnya dipersiapkan untuk menghadap Allah SWT.
Allah SWT berfirman, “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS Ali Imran [3]: 185).
Keempat, al-aradh (harta benda). Harta benda tidak akan kekal dan tidak akan abadi. Kehidupan dunia datang hanya untuk memberi peringatan akan ketidakabadiannya (QS Annisa’ [4]: 94). Rasulullah SAW menegaskan, ”Kekayaan sejati bukanlah terletak pada banyaknya harta benda, akan tetapi terletak pada kelapangan hati.” (HR Muslim).
Para penghuni dunia selalu ingin saling berbangga dengan kekayaan, kekuasaan, kekuatan, keturunan, kedudukan, dan sebagainya. Mereka ingin menjadi populer dalam urusan dunia, karena ketidaktahuannya.
Sedangkan bagi yang mengetahui hakikat kehidupan dunia, mereka menjadikannya sebagai jembatan penyeberangan, bukan tujuan akhir, tetapi sebagai sarana yang dapat mengantarkannya menuju kebahagiaan yang hakiki. Wallahu a’lam.

•Republika Online, Hikmah, 23/12-2011

TIPE GURU MANAKAH KITA?

Oleh H Imam Nur Suharno SPd MPdI

Kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sistem pendidikan, tetapi ditentukan juga oleh pendidik. Melalui pendidiklah aktivitas paedagogis dapat diarahkan pada tujuan yang ingin dicapai, yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermartabat.
Guru selain sebagai pendidik, juga bertanggung jawab dalam mentransformasikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang telah ditetapkan, sehingga kehadiran guru akan banyak memengaruhi keberhasilan proses pendidikan itu sendiri. Gurulah yang menjadi ujung tombak dalam proses penyiapan generasi mendatang. Karena itu, jika bangsa ini hendak menyiapkan generasi mendatang, gurulah yang pertama kali harus dipersiapkan.
Dalam kehidupan masyarakat, istilah guru mempunyai arti lebih luas, tidak sebatas guru di sekolah saja. Semua orang yang pernah memberikan atau mengajarkan suatu ilmu atau kepandaian tertentu kepada seseorang atau sekelompok orang dapat disebut guru. Misalnya, guru silat, guru mengetik, guru menjahit, dan sebagainya.
Mengajar sering kali dikaitkan dengan kegiatan menyampaikan dan memberikan sesuatu berupa bahan dan materi tertentu yang mesti dipelajari oleh siswa. Karena itu, ketika guru mengajar, ia mengajar sesuai dengan garis besar program pengajaran sebagaimana terdapat dalam kurikulum.
Dalam tindak mengajar, terdapat proses transfer dari guru kepada siswa. Jadi, tindakan mengajar lebih berurusan dengan penyampaian materi pelajaran sehingga siswa dapat memahami isi kurikulum yang mesti mereka pelajari. Hasil ajaran ini lantas diuji melalui proses evaluasi untuk melihat apakah siswa itu dapat menguasai materi yang diajarkan atau belum.
Mendidik memiliki konotasi yang lebih luas, tidak sekadar menyampaikan materi pelajaran. Karena itu, mendidik juga tidak sekadar berurusan dengan menyampaikan materi pelajaran. Guru mendidik dengan cara menghadirkan diri mereka secara utuh di hadapan siswa dan dengan itu siswa merasakan kehadiran guru sebagai sosok yang istimewa, sebagai pribadi yang memberikan inspirasi dan rasa hormat.
Guru menjadi teman, sahabat, pengajar, rekan kerja, pendamping, orang tua, dan semua kemampuan individu yang memungkinkan proses belajar di sekolah berjalan dengan baik, di dalam maupun di luar kelas. Kegiatan mendidik berkaitan dengan eksistensi keseluruhan individu dalam relasinya dengan orang lain dan lingkungannya. Untuk itu, mendidik tidak dapat dibatasi oleh kegiatan di dalam kelas.
Seiring perkembangan kehidupan yang semakin kompleks, kadang guru terjebak pada kehidupan materialistik. Hal ini membuat Aris Setiawan membagi guru menjadi tiga kategori, yaitu guru nyasar, bayar, dan sadar. (Republika, 9/12).
Guru nyasar, sosok yang hanya melihat guru sebuah profesi alternatif di tengah kesulitan mencari kerja. Tipe ini yang penting adalah bekerja, memberikan materi seadanya, pasang muka killer, dan selalu memarahi muridnya dengan kata-kata yang tidak seharusnya.
Guru bayar, memiliki tipikal pada awal bulan penuh semangat mengajar, dan pada akhir bulan lemas. Guru kategori ini biasanya tidak pernah menghafal nama anak didiknya. Bila diumpamakan, ada uang aku sayang, tidak ada uang aku melayang.
Guru sadar, sosok pendidik yang mampu memosisikan diri sebagai orang tua. Anak didik dianggap sebagai anak kandung sendiri. Ia sadar bergaji kecil, tapi lebih mengharapkan gaji yang cair di akhirat. Ia juga kenal dekat dengan siswa dan orang tuanya. Guru kategori ini mampu menyenangkan dan menggerakkan semangat siswanya. Guru sadar ini mampu memerankan dirinya sebagai sosok sebagaimana diuraikan Eric Hoyle dalam bukunya, The Role of Teacher.
Muhammad Atiyah al-Abrasyi, Abdurrahman an-Nahlawi, dan Imam al-Ghazali menambahkan sifat-sifat yang dimiliki sosok guru sadar, yaitu zuhud, kebersihan diri, ikhlas, pemaaf, kebapak-bapakan, mengetahui tabiat anak didik, menguasai mata pelajaran, bersifat rabbani, sabar, jujur, senantiasa membekali diri dengan ilmu, mampu menggunakan berbagai metode mengajar, mampu mengelola anak didik, mengetahui keadaan psikis anak didik, memiliki kepekaan dalam mengantisipasi perkembangan yang terjadi, bersifat adil, tidak meninggalkan nasihat, tidak berlaku kasar, tidak menjelek-jelekkan ilmu yang lain di depan anak didik, tidak mengajarkan sesuatu di luar kemampuan anak didik, mengajarkan pelajaran secara jelas, dan hendaknya pendidik mengamalkan ilmunya.
Wahai bapak dan ibu guru, termasuk tipe guru manakah kita: nyasar, bayar, ataukah sadar?

•Republika, Guru Menulis, 14/12-2011.

Senin, 12 Desember 2011

MENUJU PALESTINA MERDEKA

Oleh H Imam Nur Suharno SPd MPdI
Pemerhati Masalah Sosial dan Pengurus DPD Persatuan Guru Madrasah (PGM), Kuningan, Jawa Barat

MASIH terngiang di benak kita aksi kebrutalan tentara marinir Israel terhadap kapal pembawa bantuan kemanusiaan, Mavi Marmara, di perairan Internasional, sekitar 128 kilometer dari pantai Gaza, Palestina, Senin 31 Mei 2011 lalu.
Aksi-aksi kebrutalan dan kebiadaban Israel terhadap warga Palestina seakan tidak pernah berhenti, dari dulu, sekarang, dan yang akan datang. Sepanjang sejarah berdirinya negara penjajah Zionis Israel semenjak tahun 1948, tidak pernah menunjukkan niat baik bagi wilayah-wilayah di sekitarnya. Tidak pernah mengindahkan resolusi-resolusi dunia Internasional. (Konferensi Perdamaian Madrid (1991), Oslo (1993), Sharm Al-Shekh (1999), serta Peta Jalan Perdamaian (Road Map for Peace 2003) gagasan Quartet (AS, Rusia, PBB, dan UE). Resolusi dan kesepakatan itu semua tidak ada satupun yang dilaksanakan penjajah Zionis Israel. Israel seakan berdiri di atas hukum (dakwatuna.com).
"Le historie se repete", kata orang Prancis. Sejarah akan kembali berulang, termasuk sejarah kebencian kaum Yahudi terhadap umat Islam. Mereka tak akan pernah senang dengan kedamaian yang didapatkan kaum muslimin, terutama Palestina. Dalam hal ini, Allah SWT menegaskan, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS Al-Baqarah [2]: 120).
Dalam ayat yang lain, Allah SWT menerangkan bahwa kaum Yahudi memiliki sikap yang paling keras permusuhannya terhadap umat Islam. ”Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ”Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (QS Almaidah [5]: 82).
Dalam Alquran, Allah SWT telah mengurai karakter utama kaum Yahudi atau Israel tersebut. Yaitu, karakter yang selalu melekat dalam sepanjang sejarah kehidupan mereka, hingga akhir zaman. Pertama, kaum Yahudi suka menyembunyikan kebenaran (alhaq). Allah SWT menegaskan, “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS Albaqarah [2]: 42).
Kedua, kaum Yahudi suka ngeyel dan keras kepala. Allah SWT berfirman, “Mereka menjawab: “mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada Kami; sapi betina apakah itu.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
“Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”
“Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).”
“Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” Mereka berkata: ”Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.” Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.” (QS Albaqarah [2]: 68-71).

Ingkar Janji
Ketiga, kaum Yahudi suka ingkar janji. Allah SWT menegaskan, ”Dan mereka berkata: ”Hai ahli sihir, berdoalah kepada Tuhanmu untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu; sesungguhnya kami (jika doamu dikabulkan) benar-benar akan menjadi orang yang mendapat petunjuk. Maka tatkala Kami hilangkan azab itu dari mereka, dengan serta merta mereka memungkiri (janjinya).” (QS Az-Zukhruf [43]: 49-50).
Keempat, kaum Yahudi memiliki sifat bakhil dan tamak. Firman Allah SWT, ”Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia.” (QS Annisa [4]: 53).
Kelima, kaum Yahudi suka berbuat dosa, menyebarkan permusuhan, dan memakan yang haram. Allah SWT berfirman, ”Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu. Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (QS Almaidah [5]: 62-63).
Keenam, kaum Yahudi suka mempermainkan ayat-ayat Allah SWT dan mengubah yang halal menjadi haram atau sebaliknya sesuai keinginannya. Allah SWT berfirman, ”(Yaitu) di antara orang Yahudi, yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Dan mereka berkata, ”Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya.” Dan (mereka mengatakan pula), ”Dengarlah,” sedang (engkau Muhammad sebenarnya) tidak mendengar apa pun. Dan (mereka mengatakan), ”Raa'ina” dengan memutarbalikkan lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan, ”Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami,” tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, tetapi Allah melaknat mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali sedikit sekali.” (QS Annisa [4]: 46).
Ketujuh, kaum Yahudi suka membunuh para nabi hanya karena ajarannya tidak sesuai tradisi dan kebiasaan hidupnya. Allah SWT berfirman, ”Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi, tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.” (QS Ali Imran [3]: 112).
Kedelapan, kaum Yahudi suka membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat keadilan dan kebajikan. Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar) dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, sampaikanlah kepada mereka kabar gembira yaitu azab yang pedih. Mereka itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong.” (QS Ali Imran [3]: 21-22).
Dan masih banyak lagi karakter buruk yang melekat pada diri kaum Yahudi yang diterangkan dalam Alquran. Pantaslah bila Allah SWT menggambarkan mereka sebagai binatang ternak, bahkan lebih sesat. ”Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya.” (QS Al-Furqan [25]: 44).
Oleh karena itu, tiada kata lain kecuali dengan merapatkan barisan (shaf), bergandengan-tangan, dan bersatu-padu dalam menyelesaikan permasalahan Palestina, termasuk mendukung sepenuhnya menuju Palestina merdeka. Wallahu a’lam.

•Kabar Cirebon, Opini, 19/11-2011.