Minggu, 01 April 2012

BERDAKWAH MELALUI TULISAN

Oleh H Imam Nur Suharno MPdI
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (SETIA) Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

Salah satu sarana dakwah yang belum mendapatkan perhatian dari kalangan para dai adalah berdakwa melalui tulisan. Sangat sedikit para dai yang mau mengambil sarana ini. Padahal dakwah melalui tulisan tidak kalah pentingnya dari dakwah melalui ceramah. Untuk itu melalui tulisan ini penulis mengajak kepada diri pribadi dan juga para kader dai lainnya untuk memulai memanfaatkan sarana dakwah melalui tulisan ini.
Kita sering menyaksikan para dai yang tampil memukau di depan audiensnya. Namun, sedikit sekali para dai yang mau menuliskan materi ceramahnya itu dalam bentuk artikel ataupun buku. Padahal kemampuan berceramah seseorang tidak akan bisa memukau audiens, bahkan akan sangat dangkal isi materi ceramahnya bila tidak diimbangi dengan kemampuan membaca. Karena membaca merupakan pintu gerbang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.
Aktifitas ceramah harus dimulai dari membaca. Menulis pun juga dimulai dari membaca. Jadi aktifitas ceramah dan menulis harus diawali dengan aktifitas membaca. Karena itu, Raghib as-Sirjani dalam bukunya Spiritual Reading, menyatakan bahwa setengah jam setelah membaca lima puluh persen isi buku akan hilang dari ingatan, dan setelah dua puluh empat jam berlalu pembaca akan melupakan delapan puluh persen isi buku.
Karena itu, “ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” itulah pesan Ali bin Abi Thalib salah seorang sahabat Nabi SAW. Lebih khusus, asy-Syahid Hasan al-Banna berpesan kepada para dai, “Hendaknya engkau pandai membaca dan menulis.”
Alangkah indahnya jika para dai itu menuliskan bahan ceramahnya, lalu dikumpulkan sehingga lambat laun akan menjadi sebuah kumpulan ceramah, yang pada akhirnya lembaran-lembaran bahan ceramah itu dapat dikumpulkan menjadi sebuah buku yang dapat dinikmati kapan saja oleh orang lain.
Untuk itu mulailah menulis. Menulis adalah tindakan konkret dan praktis. Agar mampu menulis, seseorang harus melakukannya. Hanya dengan menulis seseorang dapat belajar menulis. Tanpa melakukannya, seseorang tidak akan pernah mampu menulis dengan baik.
Bambang Trim dalam bukunya Menjadi Power Da’i dengan Menulis Buku, memberikan tiga tips aktivitas yang bisa memunculkan stimulan dan gagasan untuk menulis, yaitu banyak membaca; banyak berjalan; dan banyak silaturahmi. Karena itu, gabungkan ketiga langkah tersebut sebagai kebiasaan sehari-hari.
Lebih lanjut, Bambang menyebutkan beberapa mitos yang dapat melemahkan semangat untuk menulis. Pertama, menulis membutuhkan mood (menulis adalah sebuah azzam yang bias mengalahkan mood). Kedua, ide buruk akan tertutupi oleh tulisan yang bagus (ide buruk akan tetap tampak buruk di tangan seorang penulis profesional sekalipun). Ketiga, bahasa indah dan menarik dibuat dengan puitis (terkadang bahasa yang terlalu berbunga-bunga malam membosankan). Keempat, bahasa yang rumit lebih bergengsi dan intelek (yang kita cari bukan gengsi, melainkan pemahaman). Kelima, menulis adalah permainan kata-kata (kata-kata yang dipermainkan adalah bagian dari kebohongan). Keenam, para penulis adalah orang yang memiliki bakat menulis (tidak ada bakat menulis yang dibawa sejak lahir).
Sebenarnya aktifitas menulis itu menjadi tradisi para ulama terdahulu. Kita mengenal Imam Syafii, Imam Hambali, Imam Malik, Imam Ahmad, dan imam-imam lainnya, termasuk ulama terkemukan saat ini Yusuf Qaradhawi bukan karena kita bertemu mereka, akan tetapi melalui karya-karya tulisnya yang ada dalam kitab-kitab mereka. Dengan ketajaman pena itulah mereka akan selalu terkenang sampai akhir zaman.
Ibnu Taimiyah telah menulis 300 buku dari berbagai disiplin ilmu, Abu Amru bin Al-Bashri menulis buku yang jumlahnya sampai memenuhi rumahnya hingga hampir mencapai atap. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri memiliki sekretaris pribadi dari kalangan sahabat sejumlah 65 orang (Lihat dalam buku ”65 Sekretaris Nabi SAW”, karya Prof Dr Muhammad Mustafa Azami).
Al-Jahidz pernah mengutip ucapan seorang penyair, ”Mereka meninggal dan tersisalah apa-apa yang mereka perbuat, dan seakan-akan peninggalan abadi mereka hanyalah apa yang mereka tulis dengan pena.”
Saking pentingnya dakwah melalui tulisan ini sampai Rasulullah SAW menegaskan dalam sabdanya, ”Barangsiapa meninggal dan warisannya berupa tinta dan pena (yang dituliskan dalam buku) akan masuk surga.”
Maha Benar Allah yang telah berfirman, ”Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukanlah orang gila.” (QS al-Qalam [68]: 1-2). Wallahu a’lam.


•Media Pembinaan, No 11/XXXVIII/Februari 2012

MEDITASI TAWAKAL JELANG UN

Oleh H Imam Nur Suharno SPd MPdI

Ujian Nasional (UN) akan kembali digelar. Segala usaha menghadapi UN hendaknya dipersiapkan jauh-jauh hari, bukan mengembangkan budaya SKS (sistem kebut semalam) seperti selama ini jadi andalan. Atau, sistem jamak qosor mata pelajaran (matpel) yang di-UN-kan alias sebulan menjelang UN belajar difokuskan pada matpel yang di-UN-kan dengan mengistirahatkan sementara matpel lainnya.
Budaya SKS maupun jamak qosor matpel hendaknya dijauhkan dari kehidupan peserta didik. Kebiasaan buruk ini akan membentuk karakter buruk pula pada diri mereka. Di antara bentuk ikhtiar yang perlu terus diupayakan, seperti bimbingan belajar (bimbel), optimalisasi klinik belajar (OKB), uji coba soal-soal UN (try out), remedial bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar, pengayaan materi UN bagi siswa yang memiliki kemampuan lebih, general motivasi (GM) untuk mendorong semangat belajar siswa, privat mata pelajaran yang di-UN-kan, dan usaha sejenis lainnya.
Selain itu, usaha dengan memohon doa restu dari orang-orang terdekat, seperti orang tua dan para guru, termasuk istighasah juga harus dilaksanakan. Setelah berbagai usaha dilakukan, hendaknya disempurnakan dengan meditasi tawakal karena takdir Ilahi-lah yang pada akhirnya menentukan, bukan karena kecerdasan dan kehebatan kita. Dia-lah Mahatahu yang terbaik untuk kita. Jika upaya ini dilakukan dengan baik, insya-Allah tidak akan terjadi kesalahan dalam mengekspresikan kelulusan, seperti ekspresi corat-coret baju, kebut-kebutan di jalan, dan mabuk-mabukan. Atau, kesalahan dalam melampiaskan ketidaklulusan, seperti dengan mengurung diri, merusak fasilitas sekolah, percobaan bunuh diri, dan lain sebagainya.
Tentu, berbagai tindak ekspresi itu tidak dibenarkan dalam pandangan agama manapun, dan juga tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Karena itu, melalui meditasi tawakal jelang UN ini, tindak ekspresi yang buruk itu dapat dikendalikan.
Aam Amiruddin dalam bukunya Tafsir Alquran Kontemporer Juz Amma Jilid I, memberikan prinsip-prinsip dalam bertawakal (tawakal principles). Yaitu, prinsip mujahadah, doa, syukur, dan sabar. Melalui tawakal principles ini, rasa cemas, khawatir, gundah gulana, dan stres akan dapat dikendalikan.
Prinsip pertama, mujahadah (sungguh-sungguh). Misalnya, jika siswa ingin lulus UN, ia harus bersungguh-sungguh dalam belajar. Selain bermakna sungguh-sungguh, mujahadah juga bermakna sistematis. Artinya, suatu pekerjaan hasilnya akan lebih menggembirakan apabila dilakukan dengan kesungguhan dan sistematis (QS Asy-Syarh [94]: 7-8).
Prinsip kedua, selalu berdoa, terutama berdoa di sepertiga malam setelah salat Tahajud. Allah SWT memiliki kuasa tak terhingga sedangkan manusia memiliki segudang kelemahan. Karena itu, meskipun sudah melakukan mujahadah, kita harus memohon kekuatan dari-Nya agar kerja keras yang dilakukan bisa menghasilkan hasil yang terbaik.
Prinsip ketiga, bersyukur atas kelulusan yang diraih. Apabila mujahadah dan doa menyertai seluruh aktivitas, insya-Allah kesuksesan yang kita raih akan mengantarkan pada rasa syukur sehingga ekspresi tatkala lulus UN akan mengantarkan pada ekspresi yang bermakna. Seperti, melakukan sujud syukur dan doa bersama sebagai wujud syukur atas hasil yang diterima.
Jika rasa syukur ini diarahkan pada bentuk-bentuk yang positif, tidak menutup kemungkinan peserta didik akan meraihkan kesuksesan tambahan berikutnya (QS Ibrahim [14]: 7), seperti diterima sekolah di sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi favorit.
Prinsip keempat, bersabar atas hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Sabar artinya tahan uji dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Misalnya, setelah siswa belajar keras dan usaha lainnya disertai kekuatan doa, tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan (tidak lulus UN) maka sikap sabar ini akan menjadi obat penawarnya.
Dengan demikian, jika bekal doa, usaha atau ikhtiar, dan tawakal dalam menghadapi UN dilakukan secara terpadu dan seimbang, tidak menutup kemungkinan akan memperlancar dalam meraih kesuksesan dalam ujian (lulus UN), sekaligus dapat mengendalikan tindak ekspresi yang mengarah pada hal-hal bertentangan dengan nilai-nilai agama dan budaya bangsa pascapengumuman kelulusan UN. Semoga.

*Republika, Guru Menulis, 12/3/2012.

Jumat, 02 Maret 2012

PEMUDA MEMBANGUN BANGSA

Oleh H Imam Nur Suharno MPdI
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (SETIA) Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

Pemuda memiliki andil besar dalam sejarah kebangkitan bangsa. Maju dan mundurnya sebuah bangsa tergantung pada kondisi para pemudanya saat ini. Jika mereka memiliki jiwa yang maju, jiwa besar, dan jiwa kepemimpinan, maka bangsa itu akan menjadi maju, menjadi besar dan akan mampu memimpin peradaban dunia.
Sebaliknya, jika pemudanya selalu menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, bahkan bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama, seperti mabuk-mabukan, tawuran, pornografi, pornoaksi, dan yang sejenisnya, maka masa depan bangsa itu akan terpuruk, bahkan akan hancur berkeping-keping.
Kini, pemuda namanya tercoreng akibat ulah segelintir oknum pemuda yang terlibat korupsi. Hendaknya masyarakat tidak terprofokasi dan kemudian menggeneralisir pemuda sebagai koruptor, padahal itu hanya ulah segelintir pemuda. Karena itu, sebaiknya masyarakat hendaknya lebih arif dalam menilai pemuda, lebih baik jika masyarakat turut andil dalam membimbing para pemuda agar mereka tidak terjerumus ke dalam kubangan yang menyengsarakan.
Harapan terhadap pemuda itu akan selalu ada. Pertanyaannya, sosok pemuda yang seperti apa yang dapat diharapkan dapat membangun negeri ini? Islam telah menyebutkan beberapa karakteristik pemuda yang dapat diandalkan guna membangun bangsa (peradaban).
Dalam Alquran digambarkan para pemuda Ashhabul kahfi sebagai sekelompok anak muda yang memiliki kekuatan integritas moral (iman). ”Mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS Al-Kahfi [18]: 13).
Dalam hadits disebutkan, Syabaabaka Qabla Haramika. Masa mudamu sebelum masa tuamu. Dari ayat dan hadits tersebut tampak bahwa masalah kepemudaan oleh Islam sangat ditekankan. Ditekankan karena tidak saja masa muda adalah masa berbekal untuk hari tua, melainkan juga di masa muda itulah segala kekuatan dahsyat terlihat. Dalam sejarah kita mengenal pemuda Mush’ab bin Umair, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan yang lainnya.
Karakteristik pemuda yang digambarkan oleh Islam itu adalah, pertama, pemuda yang selalu menyeru kepada alhaq (kebenaran). ”Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.” (QS Al-A’raf [7]: 181).
Kedua, mereka mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka. ”Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Maidah [5]: 54).
Ketiga, mereka saling melindungi dan saling mengingatkan satu sama lain serta taat menjalankan ajaran agama. ”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS At-Taubah [9]: 71).
Keempat, mereka adalah pemuda yang memenuhi janjinya kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman, ”(Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.” (QS Ar-Ra’d [13]: 20).
Kelima, mereka tidak ragu-ragu dalam berkorban dengan jiwa dan harta mereka untuk kepentingan Islam. ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS Al-Hujurat [49]: 15).
Keenam, pemuda yang (tumbuh) selalu beribadah kepada Allah dan hatinya senantiasa terpaut dengan masjid. Rasulullah SAW bersabda, ”Ada tujuan golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya, (yaitu): pemimpin yang adil, pemuda yang (tumbuh) selalu beribadah kepada Allah, orang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, orang laki-laki yang senantiasa mengingat Allah (berdzikir kepada-Nya) dalam keseharian sampai air matanya mengalirkan, orang laki-laki yang diajak seorang wanita yang mulia lagi cantik lalu ia berkata, ”Aku takut kepada Allah yang menguasai seluruh alam”, dan orang laki-laki yang bersedekah dan menyembunyikan (amal) sedekahnya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Melalui para pemuda dengan karakteristiknya yang dipaparkan di atas, Islam berhasil menyingkirkan segala macam bentuk kekuatan kedzaliman. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan dengan memberikan perhatian, bimbingan, dan kesempatan untuk berkiprah kepada para pemuda bangsa ini akan mampu bangkit kembali. Semoga.

•Radar Cirebon, Wacana, 28/2/2012

SYARAT MENUJU KEMENANGAN PEMILUKADA JABAR

Oleh H. Imam Nur Suharno, M.Pd.I.
Warga Jawa Barat, Kini Berdomisili di Kabupaten Kuningan

Kandidat para Calon Gubernur (Cagub) maupun Calon Wakil Gubernur (Cawagub) untuk Jawa Barat mulai ramai diperbincangkan. Mulai dari upaya saling dukung mendukung para calon yang gencar disuarakan hingga sampai pada berebut media cetak pun dilakukan sebagai upaya untuk menarik simpati masyarakat. Memang tidak salah, itu semua hak setiap orang untuk melakukan promosi diri.
Pemilihan kepala daerah menjadi sangat krusial karena menjadi momentum pergantian kepemimpinan daerah. Melalui pemilukada ini diharapkan terpilihnya pemimpin yang mampu melayani dan mengayomi masyarakat yang dipimpinnya, agar tercipta suasana kondusif serta pelayanan publik yang mudah dijumpai di Jawa Barat ini.
Menurut hemat penulis yang hanya sebagai rakyat biasa yang tinggal jauh dari pusat kota Jawa Barat, paling tidak ada enam syarat yang harus dipenuhi oleh para cagub/cawagub untuk dapat meraih kemenangan dalam pemilukada Jawa Barat tersebut, selain syarat finansial tentunya.
Pertama, sikap yang konsisten. Sikap konsisten ini lahir dari sikap percaya diri (optimis) yang kuat, memiliki integritas serta mampu mengelola emosi secara efektif. Pemimpin yang konsisten adalah pemimpin yang seluruh hidupnya ditempuh untuk jalan yang lurus. Konsisten adalah prinsip, dan pelanggaran terhadap prinsip berarti pengkhianatan pada cita-cita dan karenanya menghancurkan struktur karakteristik dirinya.
Kedua, memperbanyak doa. Doa adalah kekuatan tersembunyi yang tidak dapat ditangkap oleh akal manusia dan dapat terjadi secara tiba-tiba. Doa juga menjadi salah satu faktor penyebab di balik setiap keberhasilan yang dicapai. Hal ini sudah menjadi bukti sejarah sepanjang masa. DR. Alexis Carrel pernah berkata, ”Doa merupakan bentuk energi yang paling ampuh yang dapat dihasilkan sendiri oleh setiap orang. Karenanya, tambahlah energi kehidupan dengan memperbanyak doa. Oleh karena itu, dalam menghadapi pilkada pun para calon dan kader parpol tidak boleh berhenti untuk berdoa.
Ketiga, adanya ketaatan. Di antara faktor kekalahan umat Islam dalam perang Uhud adalah melemahnya ketaatan. Pada mulanya kaum Muslimin dapat memukul mundur pasukan musuh. Namun, karena tergiur dengan harta benda yang ditinggalkan musuh, pasukan kaum Muslimin kurang waspada dan tidak menghiraukan lagi gerakan musuh. Pasukan pemanah pun mulai meninggalkan pos-pos mereka. Melihat situasi seperti itu, panglima berkuda pasukan musuh memutar haluan dan balik menyerang pasukan kaum Muslimin. Pasukan pemanah kaum Muslimin berhasil dilumpuhkan dan pasukan infantri dapat dihancurkan musuh. Oleh karena itu, dalam pilkada para kader parpol dan tim sukses tidak boleh lengah ketika penghitungan suara menunjukkan kemenangan, justru para kader dan tim sukses harus tetap konsisten untuk tetap berada di posnya masing-masing guna mengawal kemenangan sampai KPUD mengumumkan secara resmi kemenangan tersebut.
Keempat, soliditas kader. Soliditas para kader merupakan salah satu faktor yang berkontribusi dalam pemenangan sebuah pemilukada. Dalam beberapa penyelenggaraan pemilukada menunjukkan bahwa kader-kader partai yang solid, walaupun bukan partai pemenang pemilu, mampu meraih kemenangan dalam pemilukada.
Kelima, sikap sabar. Seorang pemimpin harus mampu mengendalikan diri untuk senantiasa sabar walau harus berhadapan dengan resiko yang membahayakan. Sabar bukan berarti berhenti dari beraktifitas, justru sabar disini berarti usaha secara terus-menerus untuk mencari solusi yang terbaik guna meraih kemenangan. Berkaitan dengan pentingnya nilai sabar, ada kata-kata hikmah yang patut ditafakuri, ”Banyak orang yang sukses dengan sabar menghadapi penderitaan, namun gagal dalam menerima kesuksesan.” Artinya, kekalahan tidak selamanya disebabkan oleh adanya gangguan yang datang menimpa, namun bisa disebabkan oleh adanya ’euphoria’ kesuksesan yang dimilikinya sehingga lalai dalam menjalankan tugasnya secara efektif.
Dan keenam, memiliki integritas moral yang memadai. Seorang pemimpin harus teguh mempertahankan prinsip, tidak mau korupsi, dan nilai-nilai moral menjadi dasar yang melekat pada diri sendiri. Integritas bukan hanya sekedar bicara, pemanis retorika, tetapi juga sebuah tindakan. Integritas adalah satu kata dengan perbuatan, dia berkata jujur dan tentu saja tidak akan berbohong. Kejujuran berarti menyampaikan kebenaran, ucapannya sejalan dengan tindakannya. Jauh-jauh hari, pendiri pendidikan bangsa ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin haruslah mampu (di depan) memberi contoh, (di tengah) memberi inspirasi, dan (di belakang) memberikan dorongan.
Merujuk itu semua, tampak bahwa posisi pemimpin Jawa Barat bukanlah posisi yang mudah, atau harus diisi oleh orang-orang yang populer (seperti para artis) atau individu-individu yang pandai berbicara. Pemimpin yang dibutuhkan saat ini dan ke depan adalah disamping pemimpin yang mampu melayani, juga pemimpin yang mampu merealisasikan harapan warganya, sehingga membawa perubahan ke arah yang lebih baik, bukan sebaliknya. Wallahu a’lam.


•Radar Cirebon, Wacana, 13/1/2012

Rabu, 29 Februari 2012

MAULID NABI SAW SEPANJANG TAHUN

Oleh H Imam Nur Suharno MPdI
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (SETIA) Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

Peringatan Maulid Nabi SAW, 12 Rabiul Awal 1433, telah diperingati. Usainya peringatan Maulid Nabi SAW bukan berarti usai pula meneladani kehidupannya. Justru, keberhasilan dalam peringatan maulid itu adalah adanya keberlangsungan meneladani nilai-nilai kehidupan Nabi SAW dalam sepanjang kehidupan umat manusia. Sebab peringatan itu bukan dengan gembyarnya acara, tetapi bagaimana upaya kita terus menghadirkan (meneladani) Nabi SAW dalam setiap lini kehidupan kita.
Mengkaji kisah perjalanan hidup Rasulullah SAW bagaikan mengarungi lautan yang tak bertepi karena sangat luas, sangat kaya, dan sangat mencerahkan. Keluasan suri teladan Muhammad SAW mencakup semua aspek hidup dan kehidupan. Karena itu, peringatan Maulid Nabi hendaknya jangan dibatasi satu tahun sekali, akan tetapi hendaknya setiap hari kita memperingatinya dengan cara menghidupkan sunnah-sunnah dan ajaran beliau ke dalam kehidupan kita.
Sungguh pada diri Nabi SAW terdapat suri teladan yang agung. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab [33]: 21).

Akhlak Nabi SAW
Rasulullah SAW tidak memerintahkan kepada para sahabatnya untuk melakukan sesuatu, melainkan beliau pun melakukannya. Dikisahkan dari Al Barra’ bin Adzib, ia berkata: “Kulihat beliau mengangkuti tanah galian parit, hingga banyak debu yang menempel di kulit perutnya. Sempat pula kudengar beliau bersabda, “Ya Allah, andaikan bukan karena Engkau, tentu kami tidak akan mendapat petunjuk, tidak bershadaqah dan tidak shalat. Turunkanlah ketenteraman kepada kami dan kokohkanlah pendirian kami jika kami berperang. Sesungguhnya para kerabat banyak yang sewenang-wenang kepada kami. Jika mereka menghendaki cobaan, kami tidak menginginkannya.”
Rasulullah SAW mengedepankan kebersamaan dalam penyelesaian masalah. Direntangkannya sebuah kain besar, kemudian hajar aswad diletakkan di bagian tengahnya, lalu beliau meminta kepada setiap pemimpin kabilah untuk memegang ujung kain tersebut. Setelah itu, hajar aswad disimpan ke tempat semula di Ka’bah. Dengan cara seperti itu, tidak satupun kabilah yang merasa dirugikan, bahkan mereka sepakat untuk menggelari beliau sebagai al amin (orang yang terpercaya).
Rasulullah SAW mengedepankan akhlak mulia dalam pergaulan. Dalam sebuah riwayat Husain bin Ali cucu Rasulullah SAW menceritakan bagaimana keagungan akhlak beliau. Rasulullah SAW selalu menyenangkan, santai dan terbuka, mudah berkomunikasi dengan siapa pun, lemah lembut dan sopan, tidak keras dan tidak terlalu lunak, tidak pernah mencela, tidak pernah menuntut dan menggerutu, tidak mengulur waktu dan tidak tergesa-gesa.
Rasulullah SAW menjauhkan tiga hal yaitu riya, boros, dan sesuatu yang tidak berguna. Rasulullah SAW juga tidak pernah mencaci seseorang dan menegur karena kesalahannya, tidak mencari kesalahan orang, tidak berbicara kecuali yang bermanfaat. Kalau beliau berbicara, maka yang lain diam menunduk, tidak pernah disela atau dipotong pembicaraannya, membiarkan orang menyelesaikan pembicaraannya, tertawa bersama mereka yang tertawa, heran bersama orang yang heran, rajin dan sabar menghadapi orang asing yang tidak sopan, segera memberi apa-apa yang diperlukan orang yang tertimpa kesusahan, tidak menerima pujian kecuali dari yang pernah dipuji olehnya (HR Tirmidzi).
Bahkan, saat Rasulullah SAW disakiti oleh orang-orang yang menentangnya pun beliau tidak pernah membalasnya. Beliau menghadapinya dengan penuh kesabaran. Alkisah, setiap kali Rasulullah melintas di depan rumah wanita tua, beliau selalu diludahi oleh wanita tua itu. Suatu hari, saat Rasulullah SAW melewati rumah wanitu tua itu, beliau tidak bertemu dengannya. Karena penasaran, beliau pun bertanya kepada seseorang tentang wanita tua itu. Justru orang yang ditanya pun malah heran, kenapa Rasulullah menanyakan kabar tentang wanita tua yang telah berlaku buruk kepadanya.
Setelah Rasulullah mendapatkan jawaban, bahwa wanita tua yang biasa meludahinya itu ternyata sedang sakit. Bukannya gembira justru beliau memutuskan untuk menjenguknya. Wanita tua itu tidak menyangka jika Rasulullah mau menjenguknya. Bahkan, ketika si wanita tua itu sadar bahwa manusia yang menjenguknya adalah orang yang selalu diludahinya setiap kali melewati depan rumahnya, si wanita tua itu pun menangis di dalam hatinya, ”Duhai betapa luhur budi manusia ini. Kendati tiap hari aku ludahi, justru dialah orang pertama yang menjengukku kemari.
Dengan menitikkan air mata haru dan bahagia, si wanita tua itu lantas bertanya, ”Wahai Muhammad, kenapa engkau menjengukku, padahal tiap hari aku meludahimu?” Rasulullah menjawab, ”Aku yakin engkau meludahiku karena engkau belum tahu tentang kebenaranku. Jika engkau telah mengetahuinya, aku yakin engkau tidak akan melakukannya.”
Mendengar jawaban bijak dari Rasulullah, wanita tua itu pun menangis dalam hati. Dadanya sesak, tenggorokannya terasa tersekat. Kemudian dengan penuh kesadaran, dia pun berkata, ”Wahai Muhammad, mulai saat ini aku bersaksi untuk mengikuti agamamu.” Lantas wanita tua itu pun mengikrarkan dua kalimat syahadat, ”Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Subhanallah. Demikianlah kisah keluhuran akhlak Rasulullah SAW yang sangat menakjubkan.
Demikianlah sebagian kisah mulia dari manusia agung, Nabi Muhammad SAW. Tentu, masih banyak kisah-kisah mulia lainnya yang hendaknya terus digali, disosialisasikan, dan diteladani di tengah-tengah masyarakat yang sedang dilanda krisis keteladanan. Wallahu a’lam.

•HU Kabar Cirebon, Opini, 10/2/2012

Kamis, 02 Februari 2012

MENYALAHGUNAKAN JABATAN

Oleh H Imam Nur Suharno MPdI

Suatu hari, Ibnu Al-Lutaibah seorang petugas zakat datang menghadap Rasulullah SAW melaporkan dan menyerahkan hasil penarikan zakat dengan mengatakan: “Ini untukmu, dan yang ini telah dihadiahkan kepadaku!” Rasulullah SAW seketika tersentak mendengar laporan inventaris dan keuangan zakat dari amil beliau yang berasal dari suku Uzdi ini. Dengan penuh geram dan heran Rasulullah SAW berdiri di atas mimbar seraya mengatakan: “Ada apa gerangan seorang petugas yang kami utus untuk menjalankan suatu tugas lalu mengatakan: “Ini untukmu (Wahai Rasulullah), dan yang ini telah dihadiahkan untukku!” Kenapa ia tidak duduk saja di rumah bapak dan ibunya, lalu ia melihat apakah ia diberi hadiah atau tidak?” Lanjutnya: “Demi Tuhan yang jiwa kalian berada di tangan-Nya, bahwa tiada yang membawa sesuatupun dari hadiah-hadiah tersebut kecuali ia akan membawanya sebagai beban tengkuknya pada hari kiamat.” (HR Imam Ahmad).
Rasulullah SAW sangat geram terhadap Ibnu Al-Lutaibah yang telah menyalahgunakan jabatannya untuk memperkaya diri. Di kalangan masyarakat hal ini biasanya disebut dengan berbagai istilah, seperti money politics, uang sogok, uang kompromi, uang pelicin, dan sebagainya, tetapi esensinya sama yaitu suap (risywah).
Menurut Al-Fayumi, suap adalah pemberian seseorang kepada hakim atau yang lainnya supaya memberikan keputusan yang menguntungkannya atau membuat orang yang diberi melakukan apa yang diinginkan oleh yang memberi.
Suap identik dengan memakan harta secara yang batil. Karena itu, “Janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 188).
Dalam menafsirkan ayat di atas, Al-Haitsami berkata, “Janganlah kalian ulurkan kepada hakim pemberian kalian, yaitu dengan cara mengambil muka dan menyuap mereka, dengan harapan mereka akan memberikan hak orang lain kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui hal itu tidak halal bagi kalian.”
Rasulullah SAW sangat mengecam kepada para penyuap, penerima, penghubung dan siapa saja yang terlibat dalam proses terjadinya suap. “Rasulullah melaknat penyuap dan orang yang menerima suap.” (HR Abu Daud). Dalam hadis yang lain, Nabi SAW melaknat penghubung antara penyuap dan yang disuap. (HR Hakim).
Oleh karena itu, hanya dengan ketegasan dan memberikan hukuman yang seberat-beratnya bagi para pelaku dan yang terlibat dalam suap maka budaya penyalahgunaan jabatan akan dapat dikendalikan. Wallahu a’lam.

•dakwatuna.com, 12/1/2012

MERINDUKAN KA'BAH

Oleh H Imam Nur Suharno SPd MPdI
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (SETIA) Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

Masih terngiang di benak penulis saat merasakan puncak spiritualitas selama melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci beberapa waktu yang lalu. Rindu ingin kembali lagi.
Itulah kalimat yang selalu menggelayuti perasaan para jamaah haji setibanya dari Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah. Hal itu pun penulis rasakan dengan kerinduan yang amat sangat.
Mengapa perasaan itu selalu menghiasi setiap jamaah haji? Selain tarikan keutamaan ibadah di Tanah Suci, seperti lipatan pahala sampai seribu kali lipat jika beribadah di Masjid Nabawi dan seratus ribu kali lipat jika beribadah di Masjidil Haram (HR Ahmad), ada beberapa hal yang menjadi alasan.
Pertama, merasa amalan yang dikerjakan selama di Tanah Suci kurang maksimal. Kedua, khawatir amal yang sedikit itu tidak diterima. Ketiga, tidak dapat melaksanakan rukun, wajib, dan sunah-sunah haji secara sempurna. Hal ini mungkin terjadi karena kondisi kesehatan dan fisik jamaah. Terlepas dari itu semua, ada satu tarikan kenikmatan spiritual yang sangat tinggi yang tidak dapat di rasakan oleh orang lain, kecuali oleh para jamaah haji sendiri.
Oleh karena itu, ada beberapa amalan pasca-ibadah haji yang hendaknya selalu dikerjakan oleh setiap jamaah haji setibanya dari Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah agar kenikmatan spiritualitas itu tetap terpelihara.
Pertama, penuh harap dan banyak berdoa. Perasaan takut (khauf) saja tidak cukup, harus diimbangi dengan perasaan penuh harap (raja’) kepada Allah SWT. Sebab, perasaan khauf tanpa raja’ akan menyebabkan putus asa. Sebaliknya, perasaan raja’ saja tanpa khauf akan menyebabkan perasaan sombong.
Oleh karena itu, berharap diterimanya amal disertai perasaan takut amalnya ditolak akan mewariskan sikap tawadhu’ (rendah hati). Di saat harapannya terwujud, ia akan memohon kepada Allah SWT agar menerima amalannya. Sikap seperti inilah yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Dalam firman Allah SWT, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 127).
Kedua, memperbanyak istighfar. Meskipun seseorang telah berupaya secara maksimal untuk menyempurnakan amal ibadahnya, tetap akan menyisakan kekurangan. Oleh karena itu Allah SWT mengajarkan kepada kita bagaimana menghilangkan kekurangan tersebut, yaitu dengan memperbanyak istighfar setelah melaksanakan ibadah.
Allah SWT berfirman setelah menyebut manasik haji, “Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Baqarah [2]: 199).
Ketiga, memperbanyak amal saleh. Sesungguhnya amal saleh adalah ibarat pohon yang baik, yang membutuhkan siraman dan perawatan agar tumbuh dan menjadi kokoh, lalu memberikan buahnya. Dan, di antara tanda kemabruran haji adalah bertambah baiknya amal dan akhlak seseorang sekembalinya dari haji.
Rasulullah SAW bersabda, “Haji mabrur (yang diterima) itu tidak memiliki balasan kecuali surga.” Ketika ditanyakan kepada beliau, apa tanda mabrurnya? Rasulullah SAW bersabda, “Yaitu memberi makan (kepada orang) dan bagus ucapan.” (HR Thabrani).
Artinya, seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji hendaknya semakin peduli terhadap kaum muslimin, seperti memperbanyak infak dan bersedekah untuk orang-orang yang membutuhkan, dan meningkatkan peran dakwah di tengah-tengah masyarakat. Selain itu, ia semakin mulia dengan murah senyum dan sapaannya yang lembut serta salam yang menyejukkan.
Keempat, memperbanyak dzikir. Hal ini ditegaskan melalui firman Allah SWT, “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.“ (QS Al-Baqarah [2]: 200).
Teriring salam doa semoga Allah SWT menjadikan haji yang telah kita tunaikan sebagai haji yang mabrur, sa’i yang masykur, dosa yang diampuni, dan menjadikan amal-amal kita sebagai amalan saleh yang diterima di sisi-Nya.
Pun, kita berharap selain keinginan kembali ke Tanah Suci dapat terkabulkan, juga berharap semoga saudara-saudara kita kaum muslimin yang belum berkesempatan ke Tanah Suci dimudahkan oleh Allah SWT untuk menunaikan ibadah haji pada tahun-tahun yang akan datang. Amin.

•Kabar Cirebon, Opini, 20/1/2012