Minggu, 22 April 2012

MEMBANGUN BUDAYA JUJUR DAN BERPRESTASI


Oleh H Imam Nur Suharno SPd MPdI 

Praktisi Pendidikan, dan Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (SETIA) Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat


Seremonial penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) kembali mewarnai dunia pendidikan di negeri ini. Meskipun pro dan kontra tentang UN masih menjadi permasalahan yang tak kunjung reda, pemerintah telah berupaya memperbaiki penyelenggaraan UN. Kredibilitas UN terus ditingkatkan dengan melakukan pengawasan ketat dan berlapis. Permasalahan dalam penyelenggaraan UN yang terjadi tahun lalu, seperti bocornya soal, aksi menyontek massal, hingga percobaan bunuh diri bagi yang tidak lulus UN, hendaknya menjadi bahan renungan kita bersama. Sebenarnya, penyelenggaraan UN merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI bahwa hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk: a) pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan; b) seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; c) penentuan kelulusan peserta didik dari suatu satuan pendidikan; d) akreditasi satuan pendidikan; dan e) pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan, dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Kejujuran UN Nilai-nilai kejujuran menjadi sesuatu yang langka di negeri ini. Tidaklah efektif diadakan ikrar kejujuran dalam penyelenggaraan UN. Seakan kejujuran hanya sebatas seremonial jelang penyelenggaraan UN saja. Yang terpenting adalah meningkatan proses pengawasan dalam ruang ujian dan memberikan tindakan tegas bagi siapa saja yang melakukan kecurangan baik dari kalangan peserta didik maupun para penyelenggaran UN itu sendiri. Dan yang lebih penting lagi adalah penanaman nilai-nilai kejujuran dalam proses pembelajaran. Misalnya melalui pengetatan pengawasan dalam penyelenggaraan ulangan harian (UH), ulangan tengah semester (UTS), dan ulangan akhir semester (UAS). Selain itu, perlu penguatan materi nilai kejujuran melalui mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), seperti penambahan materi Aqidah. Misalnya, dengan menanamkan materi ‘Ma’iyyatullah” (kebersamaan Allah SWT). Kesertaan Allah pada diri manusia hanya dapat dirasakan oleh mereka yang beriman kepada Allah. Merasakan kesertaan Allah adalah sebagai hasil dari “Makrifatullah” (mengenal Allah SWT). Dengan mengenal Allah maka akan menghasilkan suatu pemahaman dan pengenalan yang baik, kemudian membuahkan hasil berupa sikap adanya keikutsertaan Allah atas segala perbuatan manusia. Dan orang yang merasakan kesertaan Allah dalam hidupnya akan merasakan hidup yang baik dan tentram. Selain itu hidupnya terjaga dari kemaksiatan, seperti kecurangan dalam ujian, karena merasakan adanya pengawasan Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr [59]: 18). Hanya orang-orang yang memiliki kemantapan imanlah yang dapat merasakan adanya muraqabatullah secara baik dan benar. Dan mereka berhak mendapatkan nashrun minallah (pertolongan dari Allah). Allah SWT berfirman, “Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah berserta orang-orang yang bertaqwa.” (QS Al-Baqarah [2]: 194). UN Berprestasi Dengan penanaman nilai-nilai kejujuran semenjak pertama peserta didik menginjakkan kakinya di lingkungan pendidikan, maka dapat membentuk karakter mereka. Yang pada akhirnya proses tersebut dapat mengantarkan pada budaya berprestasi dalam lingkungan pendidikan. Dan menjadi lenyaplah budaya ‘SKS’ (sistem kebut semalam) dari lingkungan pendidikan. Jika budaya kejujuran dan mental berprestasi ini diejawantahkan dalam lingkungan pendidikan sedini mungkin, maka tidak menutup kemungkinan akan dapat menghasilkan UN yang berprestasi. Semoga. Selain itu, dengan budaya jujur dan berprestasi ini akan dapat menyingkirkan rasa cemas setiap menjelang UN, yang pada akhirnya lembaga pendidikan menjadi fokus dalam melaksanakan amanah pendidikan sebagaimana yang tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermartabat, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Semoga. • Radar Cirebon, Wacana, 19/4/2012

Minggu, 01 April 2012

BERDAKWAH MELALUI TULISAN

Oleh H Imam Nur Suharno MPdI
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (SETIA) Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

Salah satu sarana dakwah yang belum mendapatkan perhatian dari kalangan para dai adalah berdakwa melalui tulisan. Sangat sedikit para dai yang mau mengambil sarana ini. Padahal dakwah melalui tulisan tidak kalah pentingnya dari dakwah melalui ceramah. Untuk itu melalui tulisan ini penulis mengajak kepada diri pribadi dan juga para kader dai lainnya untuk memulai memanfaatkan sarana dakwah melalui tulisan ini.
Kita sering menyaksikan para dai yang tampil memukau di depan audiensnya. Namun, sedikit sekali para dai yang mau menuliskan materi ceramahnya itu dalam bentuk artikel ataupun buku. Padahal kemampuan berceramah seseorang tidak akan bisa memukau audiens, bahkan akan sangat dangkal isi materi ceramahnya bila tidak diimbangi dengan kemampuan membaca. Karena membaca merupakan pintu gerbang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.
Aktifitas ceramah harus dimulai dari membaca. Menulis pun juga dimulai dari membaca. Jadi aktifitas ceramah dan menulis harus diawali dengan aktifitas membaca. Karena itu, Raghib as-Sirjani dalam bukunya Spiritual Reading, menyatakan bahwa setengah jam setelah membaca lima puluh persen isi buku akan hilang dari ingatan, dan setelah dua puluh empat jam berlalu pembaca akan melupakan delapan puluh persen isi buku.
Karena itu, “ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” itulah pesan Ali bin Abi Thalib salah seorang sahabat Nabi SAW. Lebih khusus, asy-Syahid Hasan al-Banna berpesan kepada para dai, “Hendaknya engkau pandai membaca dan menulis.”
Alangkah indahnya jika para dai itu menuliskan bahan ceramahnya, lalu dikumpulkan sehingga lambat laun akan menjadi sebuah kumpulan ceramah, yang pada akhirnya lembaran-lembaran bahan ceramah itu dapat dikumpulkan menjadi sebuah buku yang dapat dinikmati kapan saja oleh orang lain.
Untuk itu mulailah menulis. Menulis adalah tindakan konkret dan praktis. Agar mampu menulis, seseorang harus melakukannya. Hanya dengan menulis seseorang dapat belajar menulis. Tanpa melakukannya, seseorang tidak akan pernah mampu menulis dengan baik.
Bambang Trim dalam bukunya Menjadi Power Da’i dengan Menulis Buku, memberikan tiga tips aktivitas yang bisa memunculkan stimulan dan gagasan untuk menulis, yaitu banyak membaca; banyak berjalan; dan banyak silaturahmi. Karena itu, gabungkan ketiga langkah tersebut sebagai kebiasaan sehari-hari.
Lebih lanjut, Bambang menyebutkan beberapa mitos yang dapat melemahkan semangat untuk menulis. Pertama, menulis membutuhkan mood (menulis adalah sebuah azzam yang bias mengalahkan mood). Kedua, ide buruk akan tertutupi oleh tulisan yang bagus (ide buruk akan tetap tampak buruk di tangan seorang penulis profesional sekalipun). Ketiga, bahasa indah dan menarik dibuat dengan puitis (terkadang bahasa yang terlalu berbunga-bunga malam membosankan). Keempat, bahasa yang rumit lebih bergengsi dan intelek (yang kita cari bukan gengsi, melainkan pemahaman). Kelima, menulis adalah permainan kata-kata (kata-kata yang dipermainkan adalah bagian dari kebohongan). Keenam, para penulis adalah orang yang memiliki bakat menulis (tidak ada bakat menulis yang dibawa sejak lahir).
Sebenarnya aktifitas menulis itu menjadi tradisi para ulama terdahulu. Kita mengenal Imam Syafii, Imam Hambali, Imam Malik, Imam Ahmad, dan imam-imam lainnya, termasuk ulama terkemukan saat ini Yusuf Qaradhawi bukan karena kita bertemu mereka, akan tetapi melalui karya-karya tulisnya yang ada dalam kitab-kitab mereka. Dengan ketajaman pena itulah mereka akan selalu terkenang sampai akhir zaman.
Ibnu Taimiyah telah menulis 300 buku dari berbagai disiplin ilmu, Abu Amru bin Al-Bashri menulis buku yang jumlahnya sampai memenuhi rumahnya hingga hampir mencapai atap. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri memiliki sekretaris pribadi dari kalangan sahabat sejumlah 65 orang (Lihat dalam buku ”65 Sekretaris Nabi SAW”, karya Prof Dr Muhammad Mustafa Azami).
Al-Jahidz pernah mengutip ucapan seorang penyair, ”Mereka meninggal dan tersisalah apa-apa yang mereka perbuat, dan seakan-akan peninggalan abadi mereka hanyalah apa yang mereka tulis dengan pena.”
Saking pentingnya dakwah melalui tulisan ini sampai Rasulullah SAW menegaskan dalam sabdanya, ”Barangsiapa meninggal dan warisannya berupa tinta dan pena (yang dituliskan dalam buku) akan masuk surga.”
Maha Benar Allah yang telah berfirman, ”Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukanlah orang gila.” (QS al-Qalam [68]: 1-2). Wallahu a’lam.


•Media Pembinaan, No 11/XXXVIII/Februari 2012

MEDITASI TAWAKAL JELANG UN

Oleh H Imam Nur Suharno SPd MPdI

Ujian Nasional (UN) akan kembali digelar. Segala usaha menghadapi UN hendaknya dipersiapkan jauh-jauh hari, bukan mengembangkan budaya SKS (sistem kebut semalam) seperti selama ini jadi andalan. Atau, sistem jamak qosor mata pelajaran (matpel) yang di-UN-kan alias sebulan menjelang UN belajar difokuskan pada matpel yang di-UN-kan dengan mengistirahatkan sementara matpel lainnya.
Budaya SKS maupun jamak qosor matpel hendaknya dijauhkan dari kehidupan peserta didik. Kebiasaan buruk ini akan membentuk karakter buruk pula pada diri mereka. Di antara bentuk ikhtiar yang perlu terus diupayakan, seperti bimbingan belajar (bimbel), optimalisasi klinik belajar (OKB), uji coba soal-soal UN (try out), remedial bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar, pengayaan materi UN bagi siswa yang memiliki kemampuan lebih, general motivasi (GM) untuk mendorong semangat belajar siswa, privat mata pelajaran yang di-UN-kan, dan usaha sejenis lainnya.
Selain itu, usaha dengan memohon doa restu dari orang-orang terdekat, seperti orang tua dan para guru, termasuk istighasah juga harus dilaksanakan. Setelah berbagai usaha dilakukan, hendaknya disempurnakan dengan meditasi tawakal karena takdir Ilahi-lah yang pada akhirnya menentukan, bukan karena kecerdasan dan kehebatan kita. Dia-lah Mahatahu yang terbaik untuk kita. Jika upaya ini dilakukan dengan baik, insya-Allah tidak akan terjadi kesalahan dalam mengekspresikan kelulusan, seperti ekspresi corat-coret baju, kebut-kebutan di jalan, dan mabuk-mabukan. Atau, kesalahan dalam melampiaskan ketidaklulusan, seperti dengan mengurung diri, merusak fasilitas sekolah, percobaan bunuh diri, dan lain sebagainya.
Tentu, berbagai tindak ekspresi itu tidak dibenarkan dalam pandangan agama manapun, dan juga tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Karena itu, melalui meditasi tawakal jelang UN ini, tindak ekspresi yang buruk itu dapat dikendalikan.
Aam Amiruddin dalam bukunya Tafsir Alquran Kontemporer Juz Amma Jilid I, memberikan prinsip-prinsip dalam bertawakal (tawakal principles). Yaitu, prinsip mujahadah, doa, syukur, dan sabar. Melalui tawakal principles ini, rasa cemas, khawatir, gundah gulana, dan stres akan dapat dikendalikan.
Prinsip pertama, mujahadah (sungguh-sungguh). Misalnya, jika siswa ingin lulus UN, ia harus bersungguh-sungguh dalam belajar. Selain bermakna sungguh-sungguh, mujahadah juga bermakna sistematis. Artinya, suatu pekerjaan hasilnya akan lebih menggembirakan apabila dilakukan dengan kesungguhan dan sistematis (QS Asy-Syarh [94]: 7-8).
Prinsip kedua, selalu berdoa, terutama berdoa di sepertiga malam setelah salat Tahajud. Allah SWT memiliki kuasa tak terhingga sedangkan manusia memiliki segudang kelemahan. Karena itu, meskipun sudah melakukan mujahadah, kita harus memohon kekuatan dari-Nya agar kerja keras yang dilakukan bisa menghasilkan hasil yang terbaik.
Prinsip ketiga, bersyukur atas kelulusan yang diraih. Apabila mujahadah dan doa menyertai seluruh aktivitas, insya-Allah kesuksesan yang kita raih akan mengantarkan pada rasa syukur sehingga ekspresi tatkala lulus UN akan mengantarkan pada ekspresi yang bermakna. Seperti, melakukan sujud syukur dan doa bersama sebagai wujud syukur atas hasil yang diterima.
Jika rasa syukur ini diarahkan pada bentuk-bentuk yang positif, tidak menutup kemungkinan peserta didik akan meraihkan kesuksesan tambahan berikutnya (QS Ibrahim [14]: 7), seperti diterima sekolah di sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi favorit.
Prinsip keempat, bersabar atas hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Sabar artinya tahan uji dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Misalnya, setelah siswa belajar keras dan usaha lainnya disertai kekuatan doa, tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan (tidak lulus UN) maka sikap sabar ini akan menjadi obat penawarnya.
Dengan demikian, jika bekal doa, usaha atau ikhtiar, dan tawakal dalam menghadapi UN dilakukan secara terpadu dan seimbang, tidak menutup kemungkinan akan memperlancar dalam meraih kesuksesan dalam ujian (lulus UN), sekaligus dapat mengendalikan tindak ekspresi yang mengarah pada hal-hal bertentangan dengan nilai-nilai agama dan budaya bangsa pascapengumuman kelulusan UN. Semoga.

*Republika, Guru Menulis, 12/3/2012.

Jumat, 02 Maret 2012

PEMUDA MEMBANGUN BANGSA

Oleh H Imam Nur Suharno MPdI
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (SETIA) Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

Pemuda memiliki andil besar dalam sejarah kebangkitan bangsa. Maju dan mundurnya sebuah bangsa tergantung pada kondisi para pemudanya saat ini. Jika mereka memiliki jiwa yang maju, jiwa besar, dan jiwa kepemimpinan, maka bangsa itu akan menjadi maju, menjadi besar dan akan mampu memimpin peradaban dunia.
Sebaliknya, jika pemudanya selalu menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, bahkan bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama, seperti mabuk-mabukan, tawuran, pornografi, pornoaksi, dan yang sejenisnya, maka masa depan bangsa itu akan terpuruk, bahkan akan hancur berkeping-keping.
Kini, pemuda namanya tercoreng akibat ulah segelintir oknum pemuda yang terlibat korupsi. Hendaknya masyarakat tidak terprofokasi dan kemudian menggeneralisir pemuda sebagai koruptor, padahal itu hanya ulah segelintir pemuda. Karena itu, sebaiknya masyarakat hendaknya lebih arif dalam menilai pemuda, lebih baik jika masyarakat turut andil dalam membimbing para pemuda agar mereka tidak terjerumus ke dalam kubangan yang menyengsarakan.
Harapan terhadap pemuda itu akan selalu ada. Pertanyaannya, sosok pemuda yang seperti apa yang dapat diharapkan dapat membangun negeri ini? Islam telah menyebutkan beberapa karakteristik pemuda yang dapat diandalkan guna membangun bangsa (peradaban).
Dalam Alquran digambarkan para pemuda Ashhabul kahfi sebagai sekelompok anak muda yang memiliki kekuatan integritas moral (iman). ”Mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS Al-Kahfi [18]: 13).
Dalam hadits disebutkan, Syabaabaka Qabla Haramika. Masa mudamu sebelum masa tuamu. Dari ayat dan hadits tersebut tampak bahwa masalah kepemudaan oleh Islam sangat ditekankan. Ditekankan karena tidak saja masa muda adalah masa berbekal untuk hari tua, melainkan juga di masa muda itulah segala kekuatan dahsyat terlihat. Dalam sejarah kita mengenal pemuda Mush’ab bin Umair, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan yang lainnya.
Karakteristik pemuda yang digambarkan oleh Islam itu adalah, pertama, pemuda yang selalu menyeru kepada alhaq (kebenaran). ”Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.” (QS Al-A’raf [7]: 181).
Kedua, mereka mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka. ”Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Maidah [5]: 54).
Ketiga, mereka saling melindungi dan saling mengingatkan satu sama lain serta taat menjalankan ajaran agama. ”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS At-Taubah [9]: 71).
Keempat, mereka adalah pemuda yang memenuhi janjinya kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman, ”(Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.” (QS Ar-Ra’d [13]: 20).
Kelima, mereka tidak ragu-ragu dalam berkorban dengan jiwa dan harta mereka untuk kepentingan Islam. ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS Al-Hujurat [49]: 15).
Keenam, pemuda yang (tumbuh) selalu beribadah kepada Allah dan hatinya senantiasa terpaut dengan masjid. Rasulullah SAW bersabda, ”Ada tujuan golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya, (yaitu): pemimpin yang adil, pemuda yang (tumbuh) selalu beribadah kepada Allah, orang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, orang laki-laki yang senantiasa mengingat Allah (berdzikir kepada-Nya) dalam keseharian sampai air matanya mengalirkan, orang laki-laki yang diajak seorang wanita yang mulia lagi cantik lalu ia berkata, ”Aku takut kepada Allah yang menguasai seluruh alam”, dan orang laki-laki yang bersedekah dan menyembunyikan (amal) sedekahnya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Melalui para pemuda dengan karakteristiknya yang dipaparkan di atas, Islam berhasil menyingkirkan segala macam bentuk kekuatan kedzaliman. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan dengan memberikan perhatian, bimbingan, dan kesempatan untuk berkiprah kepada para pemuda bangsa ini akan mampu bangkit kembali. Semoga.

•Radar Cirebon, Wacana, 28/2/2012

SYARAT MENUJU KEMENANGAN PEMILUKADA JABAR

Oleh H. Imam Nur Suharno, M.Pd.I.
Warga Jawa Barat, Kini Berdomisili di Kabupaten Kuningan

Kandidat para Calon Gubernur (Cagub) maupun Calon Wakil Gubernur (Cawagub) untuk Jawa Barat mulai ramai diperbincangkan. Mulai dari upaya saling dukung mendukung para calon yang gencar disuarakan hingga sampai pada berebut media cetak pun dilakukan sebagai upaya untuk menarik simpati masyarakat. Memang tidak salah, itu semua hak setiap orang untuk melakukan promosi diri.
Pemilihan kepala daerah menjadi sangat krusial karena menjadi momentum pergantian kepemimpinan daerah. Melalui pemilukada ini diharapkan terpilihnya pemimpin yang mampu melayani dan mengayomi masyarakat yang dipimpinnya, agar tercipta suasana kondusif serta pelayanan publik yang mudah dijumpai di Jawa Barat ini.
Menurut hemat penulis yang hanya sebagai rakyat biasa yang tinggal jauh dari pusat kota Jawa Barat, paling tidak ada enam syarat yang harus dipenuhi oleh para cagub/cawagub untuk dapat meraih kemenangan dalam pemilukada Jawa Barat tersebut, selain syarat finansial tentunya.
Pertama, sikap yang konsisten. Sikap konsisten ini lahir dari sikap percaya diri (optimis) yang kuat, memiliki integritas serta mampu mengelola emosi secara efektif. Pemimpin yang konsisten adalah pemimpin yang seluruh hidupnya ditempuh untuk jalan yang lurus. Konsisten adalah prinsip, dan pelanggaran terhadap prinsip berarti pengkhianatan pada cita-cita dan karenanya menghancurkan struktur karakteristik dirinya.
Kedua, memperbanyak doa. Doa adalah kekuatan tersembunyi yang tidak dapat ditangkap oleh akal manusia dan dapat terjadi secara tiba-tiba. Doa juga menjadi salah satu faktor penyebab di balik setiap keberhasilan yang dicapai. Hal ini sudah menjadi bukti sejarah sepanjang masa. DR. Alexis Carrel pernah berkata, ”Doa merupakan bentuk energi yang paling ampuh yang dapat dihasilkan sendiri oleh setiap orang. Karenanya, tambahlah energi kehidupan dengan memperbanyak doa. Oleh karena itu, dalam menghadapi pilkada pun para calon dan kader parpol tidak boleh berhenti untuk berdoa.
Ketiga, adanya ketaatan. Di antara faktor kekalahan umat Islam dalam perang Uhud adalah melemahnya ketaatan. Pada mulanya kaum Muslimin dapat memukul mundur pasukan musuh. Namun, karena tergiur dengan harta benda yang ditinggalkan musuh, pasukan kaum Muslimin kurang waspada dan tidak menghiraukan lagi gerakan musuh. Pasukan pemanah pun mulai meninggalkan pos-pos mereka. Melihat situasi seperti itu, panglima berkuda pasukan musuh memutar haluan dan balik menyerang pasukan kaum Muslimin. Pasukan pemanah kaum Muslimin berhasil dilumpuhkan dan pasukan infantri dapat dihancurkan musuh. Oleh karena itu, dalam pilkada para kader parpol dan tim sukses tidak boleh lengah ketika penghitungan suara menunjukkan kemenangan, justru para kader dan tim sukses harus tetap konsisten untuk tetap berada di posnya masing-masing guna mengawal kemenangan sampai KPUD mengumumkan secara resmi kemenangan tersebut.
Keempat, soliditas kader. Soliditas para kader merupakan salah satu faktor yang berkontribusi dalam pemenangan sebuah pemilukada. Dalam beberapa penyelenggaraan pemilukada menunjukkan bahwa kader-kader partai yang solid, walaupun bukan partai pemenang pemilu, mampu meraih kemenangan dalam pemilukada.
Kelima, sikap sabar. Seorang pemimpin harus mampu mengendalikan diri untuk senantiasa sabar walau harus berhadapan dengan resiko yang membahayakan. Sabar bukan berarti berhenti dari beraktifitas, justru sabar disini berarti usaha secara terus-menerus untuk mencari solusi yang terbaik guna meraih kemenangan. Berkaitan dengan pentingnya nilai sabar, ada kata-kata hikmah yang patut ditafakuri, ”Banyak orang yang sukses dengan sabar menghadapi penderitaan, namun gagal dalam menerima kesuksesan.” Artinya, kekalahan tidak selamanya disebabkan oleh adanya gangguan yang datang menimpa, namun bisa disebabkan oleh adanya ’euphoria’ kesuksesan yang dimilikinya sehingga lalai dalam menjalankan tugasnya secara efektif.
Dan keenam, memiliki integritas moral yang memadai. Seorang pemimpin harus teguh mempertahankan prinsip, tidak mau korupsi, dan nilai-nilai moral menjadi dasar yang melekat pada diri sendiri. Integritas bukan hanya sekedar bicara, pemanis retorika, tetapi juga sebuah tindakan. Integritas adalah satu kata dengan perbuatan, dia berkata jujur dan tentu saja tidak akan berbohong. Kejujuran berarti menyampaikan kebenaran, ucapannya sejalan dengan tindakannya. Jauh-jauh hari, pendiri pendidikan bangsa ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin haruslah mampu (di depan) memberi contoh, (di tengah) memberi inspirasi, dan (di belakang) memberikan dorongan.
Merujuk itu semua, tampak bahwa posisi pemimpin Jawa Barat bukanlah posisi yang mudah, atau harus diisi oleh orang-orang yang populer (seperti para artis) atau individu-individu yang pandai berbicara. Pemimpin yang dibutuhkan saat ini dan ke depan adalah disamping pemimpin yang mampu melayani, juga pemimpin yang mampu merealisasikan harapan warganya, sehingga membawa perubahan ke arah yang lebih baik, bukan sebaliknya. Wallahu a’lam.


•Radar Cirebon, Wacana, 13/1/2012

Rabu, 29 Februari 2012

MAULID NABI SAW SEPANJANG TAHUN

Oleh H Imam Nur Suharno MPdI
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (SETIA) Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

Peringatan Maulid Nabi SAW, 12 Rabiul Awal 1433, telah diperingati. Usainya peringatan Maulid Nabi SAW bukan berarti usai pula meneladani kehidupannya. Justru, keberhasilan dalam peringatan maulid itu adalah adanya keberlangsungan meneladani nilai-nilai kehidupan Nabi SAW dalam sepanjang kehidupan umat manusia. Sebab peringatan itu bukan dengan gembyarnya acara, tetapi bagaimana upaya kita terus menghadirkan (meneladani) Nabi SAW dalam setiap lini kehidupan kita.
Mengkaji kisah perjalanan hidup Rasulullah SAW bagaikan mengarungi lautan yang tak bertepi karena sangat luas, sangat kaya, dan sangat mencerahkan. Keluasan suri teladan Muhammad SAW mencakup semua aspek hidup dan kehidupan. Karena itu, peringatan Maulid Nabi hendaknya jangan dibatasi satu tahun sekali, akan tetapi hendaknya setiap hari kita memperingatinya dengan cara menghidupkan sunnah-sunnah dan ajaran beliau ke dalam kehidupan kita.
Sungguh pada diri Nabi SAW terdapat suri teladan yang agung. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab [33]: 21).

Akhlak Nabi SAW
Rasulullah SAW tidak memerintahkan kepada para sahabatnya untuk melakukan sesuatu, melainkan beliau pun melakukannya. Dikisahkan dari Al Barra’ bin Adzib, ia berkata: “Kulihat beliau mengangkuti tanah galian parit, hingga banyak debu yang menempel di kulit perutnya. Sempat pula kudengar beliau bersabda, “Ya Allah, andaikan bukan karena Engkau, tentu kami tidak akan mendapat petunjuk, tidak bershadaqah dan tidak shalat. Turunkanlah ketenteraman kepada kami dan kokohkanlah pendirian kami jika kami berperang. Sesungguhnya para kerabat banyak yang sewenang-wenang kepada kami. Jika mereka menghendaki cobaan, kami tidak menginginkannya.”
Rasulullah SAW mengedepankan kebersamaan dalam penyelesaian masalah. Direntangkannya sebuah kain besar, kemudian hajar aswad diletakkan di bagian tengahnya, lalu beliau meminta kepada setiap pemimpin kabilah untuk memegang ujung kain tersebut. Setelah itu, hajar aswad disimpan ke tempat semula di Ka’bah. Dengan cara seperti itu, tidak satupun kabilah yang merasa dirugikan, bahkan mereka sepakat untuk menggelari beliau sebagai al amin (orang yang terpercaya).
Rasulullah SAW mengedepankan akhlak mulia dalam pergaulan. Dalam sebuah riwayat Husain bin Ali cucu Rasulullah SAW menceritakan bagaimana keagungan akhlak beliau. Rasulullah SAW selalu menyenangkan, santai dan terbuka, mudah berkomunikasi dengan siapa pun, lemah lembut dan sopan, tidak keras dan tidak terlalu lunak, tidak pernah mencela, tidak pernah menuntut dan menggerutu, tidak mengulur waktu dan tidak tergesa-gesa.
Rasulullah SAW menjauhkan tiga hal yaitu riya, boros, dan sesuatu yang tidak berguna. Rasulullah SAW juga tidak pernah mencaci seseorang dan menegur karena kesalahannya, tidak mencari kesalahan orang, tidak berbicara kecuali yang bermanfaat. Kalau beliau berbicara, maka yang lain diam menunduk, tidak pernah disela atau dipotong pembicaraannya, membiarkan orang menyelesaikan pembicaraannya, tertawa bersama mereka yang tertawa, heran bersama orang yang heran, rajin dan sabar menghadapi orang asing yang tidak sopan, segera memberi apa-apa yang diperlukan orang yang tertimpa kesusahan, tidak menerima pujian kecuali dari yang pernah dipuji olehnya (HR Tirmidzi).
Bahkan, saat Rasulullah SAW disakiti oleh orang-orang yang menentangnya pun beliau tidak pernah membalasnya. Beliau menghadapinya dengan penuh kesabaran. Alkisah, setiap kali Rasulullah melintas di depan rumah wanita tua, beliau selalu diludahi oleh wanita tua itu. Suatu hari, saat Rasulullah SAW melewati rumah wanitu tua itu, beliau tidak bertemu dengannya. Karena penasaran, beliau pun bertanya kepada seseorang tentang wanita tua itu. Justru orang yang ditanya pun malah heran, kenapa Rasulullah menanyakan kabar tentang wanita tua yang telah berlaku buruk kepadanya.
Setelah Rasulullah mendapatkan jawaban, bahwa wanita tua yang biasa meludahinya itu ternyata sedang sakit. Bukannya gembira justru beliau memutuskan untuk menjenguknya. Wanita tua itu tidak menyangka jika Rasulullah mau menjenguknya. Bahkan, ketika si wanita tua itu sadar bahwa manusia yang menjenguknya adalah orang yang selalu diludahinya setiap kali melewati depan rumahnya, si wanita tua itu pun menangis di dalam hatinya, ”Duhai betapa luhur budi manusia ini. Kendati tiap hari aku ludahi, justru dialah orang pertama yang menjengukku kemari.
Dengan menitikkan air mata haru dan bahagia, si wanita tua itu lantas bertanya, ”Wahai Muhammad, kenapa engkau menjengukku, padahal tiap hari aku meludahimu?” Rasulullah menjawab, ”Aku yakin engkau meludahiku karena engkau belum tahu tentang kebenaranku. Jika engkau telah mengetahuinya, aku yakin engkau tidak akan melakukannya.”
Mendengar jawaban bijak dari Rasulullah, wanita tua itu pun menangis dalam hati. Dadanya sesak, tenggorokannya terasa tersekat. Kemudian dengan penuh kesadaran, dia pun berkata, ”Wahai Muhammad, mulai saat ini aku bersaksi untuk mengikuti agamamu.” Lantas wanita tua itu pun mengikrarkan dua kalimat syahadat, ”Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Subhanallah. Demikianlah kisah keluhuran akhlak Rasulullah SAW yang sangat menakjubkan.
Demikianlah sebagian kisah mulia dari manusia agung, Nabi Muhammad SAW. Tentu, masih banyak kisah-kisah mulia lainnya yang hendaknya terus digali, disosialisasikan, dan diteladani di tengah-tengah masyarakat yang sedang dilanda krisis keteladanan. Wallahu a’lam.

•HU Kabar Cirebon, Opini, 10/2/2012

Kamis, 02 Februari 2012

MENYALAHGUNAKAN JABATAN

Oleh H Imam Nur Suharno MPdI

Suatu hari, Ibnu Al-Lutaibah seorang petugas zakat datang menghadap Rasulullah SAW melaporkan dan menyerahkan hasil penarikan zakat dengan mengatakan: “Ini untukmu, dan yang ini telah dihadiahkan kepadaku!” Rasulullah SAW seketika tersentak mendengar laporan inventaris dan keuangan zakat dari amil beliau yang berasal dari suku Uzdi ini. Dengan penuh geram dan heran Rasulullah SAW berdiri di atas mimbar seraya mengatakan: “Ada apa gerangan seorang petugas yang kami utus untuk menjalankan suatu tugas lalu mengatakan: “Ini untukmu (Wahai Rasulullah), dan yang ini telah dihadiahkan untukku!” Kenapa ia tidak duduk saja di rumah bapak dan ibunya, lalu ia melihat apakah ia diberi hadiah atau tidak?” Lanjutnya: “Demi Tuhan yang jiwa kalian berada di tangan-Nya, bahwa tiada yang membawa sesuatupun dari hadiah-hadiah tersebut kecuali ia akan membawanya sebagai beban tengkuknya pada hari kiamat.” (HR Imam Ahmad).
Rasulullah SAW sangat geram terhadap Ibnu Al-Lutaibah yang telah menyalahgunakan jabatannya untuk memperkaya diri. Di kalangan masyarakat hal ini biasanya disebut dengan berbagai istilah, seperti money politics, uang sogok, uang kompromi, uang pelicin, dan sebagainya, tetapi esensinya sama yaitu suap (risywah).
Menurut Al-Fayumi, suap adalah pemberian seseorang kepada hakim atau yang lainnya supaya memberikan keputusan yang menguntungkannya atau membuat orang yang diberi melakukan apa yang diinginkan oleh yang memberi.
Suap identik dengan memakan harta secara yang batil. Karena itu, “Janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 188).
Dalam menafsirkan ayat di atas, Al-Haitsami berkata, “Janganlah kalian ulurkan kepada hakim pemberian kalian, yaitu dengan cara mengambil muka dan menyuap mereka, dengan harapan mereka akan memberikan hak orang lain kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui hal itu tidak halal bagi kalian.”
Rasulullah SAW sangat mengecam kepada para penyuap, penerima, penghubung dan siapa saja yang terlibat dalam proses terjadinya suap. “Rasulullah melaknat penyuap dan orang yang menerima suap.” (HR Abu Daud). Dalam hadis yang lain, Nabi SAW melaknat penghubung antara penyuap dan yang disuap. (HR Hakim).
Oleh karena itu, hanya dengan ketegasan dan memberikan hukuman yang seberat-beratnya bagi para pelaku dan yang terlibat dalam suap maka budaya penyalahgunaan jabatan akan dapat dikendalikan. Wallahu a’lam.

•dakwatuna.com, 12/1/2012